Gagasan restorasi dan membangkitkan kawasan wisata Weltevreden mulai terwujud. Sejumlah wartawan senior ibukota memproklamirkan Weltevreden sebagai destinasi wisata untuk warga Eropa, yang ingin bernostalgia di negeri jajahannya dulu. foto dok Weltevreden.
Seide.id. – Weltevreden merupakan kawasan di wilayah di selatan Benteng Batavia (Kota Tua kini) yang sebelumnya dimanfaatkan sebagai kawasan perkebunan dan tempat orang-orang kaya di Jakarta pada masa lalu, selain vila vila sebagai tempat peristirahatan mereka.
Pada masa pemerintahan Herman Willem Daendels (1808-1811), Sang Gubernur Jendral membangun istana yang megah di Nieuw Batavia (Batavia Baru) bernama Het Witte Huis atau Istana Putih, yang kini menjadi Gedung Kementrian Keuangan di Lapangan Banteng.
Kasteel Batavia di tepi laut Jakarta digeser ke selatan, karena Benteng Batavia itu mengalami masalah kesehatan yang serius serta rawan terhadap serangan Inggris.
Kepindahan pusat pemerintahan dari Kasteel Batavia di Oud Batavia (Batavia Lama) ke Nieuw Batavia (Batavia Baru) diiringi oleh perpindahan penduduk yang mencari tempat tinggal yang lebih sehat di luar Benteng Batavia, yang kemudian disebut sebagai kawasan Weltevreden, yang artinya tempat yang nyaman.
Sebagai pusat kota yang baru, Weltevreden didukung dengan pembangunan berbagai fasilitas penunjang kegiatan masyarakat kota, seperti gedung-gedung pemerintahan, pusat pertahanan militer, tempat ibadah, dan lain sebagainya, di antaranya Buffelsveld (kini Lapangan Benteng ) Koningsplein (Monas), Wilhelmina Park (kini Istiqlal) Post en Telegrraf (kini Gedung Pos), Batavia Schouwburg (Gedung Kesenian Jakarta), Gereja Immanuel di Gambir, Paleis Te Weltevreden atau Het Witte Huis alias gedung putih, yang kini menjadi Kementrian Keuangan.
Het Witte Huis dirancang menjadi istana di Batavia mendampingii istana di Bogor (Paleis Buitenzorg), yang dibangun oleh Gustaaf Willem Baron Van Imhoff (1744) yang dirancang sebagai rumah peristirahatan saja. Namun penggunaan Het Witte Huis sebagai istana pendampingtak pernah terwujud karena Jendral Daendles keburu ditarik pulang ke negerinya.
Semua ada di tengah kawasan pusat ibukota DKI Jakarta kini. Dan kini tengah digagas untuk restorasi dan renovasi sebagai destinasi wisata, dengan target utama wisatawan Eropa, yang memiliki kaitan sejarah dengan peninggalan nenek moyang mereka di sini, khususnya warga Belanda, Inggris, Prancis dan Portugis.
Deklarasi Weltevreden sebagai gerakan restorasi aspiras berlangsung sederhana mengambil memontum harijadi Kota jakarta ke 495 pada Kamis, 22 Juni 2022, jam 2 siang. Dihadiri Wakil Walikota Jakarta Pusat Irwandi dan I Made Karmayoga, pejabat DKI era Ahok BTP.
Para pendiri Yayasan Weltevreden berasal dari berbagai latar belakang suku, agama, ras, dan antargolongan. Mereka adalah Toto Irianto, Lahyanto Nadie, Hamzah Ali, Dimas Supriyanto, Marthen Selamet Susanto, Firdaus Baderi, Mohammad Fauzy, Christian Chang, Arief Soeharto, Endy Subiantoro, Muhammad Ashraf Ali, I Made Karmayoga, dan Victorius Goenawan Wibisono.
To’ir panggilan Toto Irianto menjelaskan bahwa para tokoh yang berasal dari berbagai latar belakang itu bersatu karena memiliki cita-cita dan tujuan yang sama.
”Yayasan Jakarta Weltevreden, dipimpin oleh Toto Irianto yang pernah menjadi Direktur Utama dan Pemimpin Redaksi Pos Kota. Sedangkan sekretaris dijabat oleh Hamzah Ali, pengusaha muda yang bergerak dalam industri teknologi digital, publishing, dan riset. Wartawan senior Dimas Supriyanto sebagai bendahara,” kata Lahyanto Nadie selaku Ketua Dewan Penasehat, Rabu, 22 Juni 2022.
Toto Irianto selaku penggagas awal Weltevreden menjelaskan bahwa visi yayasan yang dipimpinnya adalah menjadikan kawasan Jakarta Weltevreden sebagai destinasi wisata bertaraf internasional untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ide menghidupkan restorasi Weltevreden tercetus di tengah keramaian berita pemindahan ibukota baru (IKN) ke Kalimantan. “Bagaimana pun Jakarta kota bersejarah. Sebagai destinasi wisata kelas dunia harus dipertahankan. Dan ide ide untuk menghadirkan wisatawan dunia ke sini harus terus digagas dan diwujudkan, “ kata Toto Irianto. – dms






