Sendiri di antara sepuluh bersaudara yang memilih menjadi aktor, Ikranegara konsisten di panggung seni akting, sastra dan senirupa, sejak 1970 hingga akhir hayatnya. Tiga kali melawat ke Amerika, selain belajar membuat film, Ikra juga mengajar menyelenggarakan lokarkarya dan pementasan seni.
Seide.id. – Aktor senior Ikranagara meninggal dunia pada Senin, 6 Maret 2023, di Bali. Ikra menghembuskan nafas terakhir di usia 79 tahun, setelah lima tahun terakhir mengidap alzheimer.
Ikranagara dikenal sebagai dramawan, pelukis, penulis skenario, dan sastrawan – selain aktor film dan sinetron. Namanya meroket sejak peran komedi dan dramanya di film Kejarlah Daku Kau Ketangkap (1986) dan kisah lanjutannya, Keluarga Markum (1986).
Ikranagara lahir di Loloan Barat, Bali, 1943, sulung dari 10 anak. Semula belajar di Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta tetapi lebih tertarik dengan dunia panggung, sebagai teaterawan, baik sutradara maupun aktor panggung dan film.
Ikra, begitu panggilannya, memiliki perjalanan karir seni yang membentang lebih dari lima dekade, sejak 1970 hingga akhir hayatnya, terlibat dalam 13 judul film, 18 kali judul lakon teater dan merilis dua kumpulan puisi.
Dari film Kejarlah Daku Kau Kutangkap karya sutradara Chaerul Umam dia meraih nominasi FFI untuk kategori Pemeran Pendukung Pria Terbaik.
Nominasi berikutnya sebagai Aktor Pemeran Utama lewat film Sang Kiai (2013), untuk perannya sebagai tokoh pendiri Nahdlatul Ulama, Hasyim Asy’ari.
Aktor berdarah campuran Bali, Jawa, Madura dan Bugis, Sulawesi Selatan ini terjun ke film sejak 1970 lewat karya menghebohkan Bernafas Dalam lumpur (sutradara Turino Djunaedy), berlanjut dengan Cinta Biru (1977) dan Dr. Siti Pertiwi Kembali ke Desa (1979)
Ikra, sebutan akrab untuknya, juga membintangi film Laskar Pelangi (2008), yang memberikan nominasi kedua untuk kategori Pemeran Utama Pria Terbaik FFI dan memenangi Aktor Pemeran Utama Pria Terbaik di IMA (Indonesian Movie Award 2009).
Lewat Garuda di Dadaku (2009), meraih gelar Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (2009). Pada (2013) Sang Kiai yang memberikan nominasi FFI yang ke dua.
Ikranagara memulai kiprah di dunia kesenian melalui drama dan puisi. Keterlibatannya di dunia film sendiri diakui Ikra karena faktor keisengan belaka. Bersama Putu Wijaya, Ikranagara melakukan dekonstruksi terhadap teater tradisional.
Bila Rendra mendekontruksi budaya Jawa dan Arifin melalui kesenian Cirebon dan Betawi, maka Putu Wijaya dan Ikranagara mendokontruksi budaya Bali dalam arti yang positif, melanjutkan dengan proses intertekstualitas, atau kreatif dan kritis, melibatkan intuisi kesenimanannya, melahirkan karya teater masakini yang berakar kepada budaya pra-Indonesia.
Peroleh Bea Siswa Amerika
Dari laman Aminef (American Indonesia Exchange Fundaition), mengungkapkan Ikra pernah bermukim di Amerika tiga kali sebagai penyandang beasiswa Fulbright. Mula-mula pada tahun 1978, diundang untuk melihat teater di Pantai Barat dan Pantai Timur Amerika. Sempat mampir di East-West Center, Hawaii.
Di kampus Universitas Hawaii ini dia menyaksikan mural megah yang dibuat oleh Affandi, pelukis maestro dari Indonesia. Lukisan pada tembok di Jefferson Hall itu menggambarkan dialog antara Mahatma Gandhi, Konfusius dan Semar, tokoh pewayangan Jawa.
“Dari Hawaii saya pergi ke Los Angeles untuk belajar pembuatan film, tapi tidak lama. Yang lama saya berada di New York, karena lebih berminat pada teater kontemporer – Off Broadway. Di Universitas New York (NYU) saya membawakan tari topeng,” katanya.
Ikra membawakan tari topeng tradisional Bali, yaitu pajegan. Seorang aktor topeng Pajegan harus mampu menjadi dalang, menggunakan vokal yang berbeda-beda untuk memainkan beberapa tokoh sekaligus.
Tahun 1989 Ikra mendapat lagi beasiswa Fulbright. “Kalau sebelumnya saya diundang sebagai Visiting Artist, tahun itu menjadi Fulbright Asian Scholar-in-Residence di Universitas Ohio State (OSU). Di sana saya mendapat kesempatan untuk mengajar, memberikan lokakarya dan mengadakan pementasan bersama para mahasiswa pasca sarjana.”
Sebelum dan sesudah mendapatkan beasiswa Fulbright, Ikra sering mengunjungi berbagai universitas di Amerika. Dengan biaya sendiri ia datang ke Michigan, Ohio, California, Oregon, dan beberapa lagi. Ikra turut memberikan rekomendasi bagi calon penerima beasiswa Fulbright dan peserta International Writing Program yang termahsyur di kalangan penulis di Indonesia yang mengambil tempat di Universitas Iowa.
“Indonesia dan Amerika perlu bertukar lebih banyak seniman. Kalau seniman AS ke sini, sebaiknya mereka memberi banyak latihan dan lokakarya seperti yang saya lakukan di sana,” kata Ikra. “Sebaiknya mereka menyempatkan diri berkunjung ke kota-kota kecil juga.”
Setiap kali kembali dari Amerika, Ikra selalu membawa banyak buku. “Inilah yang paling baik dilakukan oleh para seniman Indonesia. Kita harus membangun perpustakaan dan memupuk kesenangan membaca,” kata Ikra. */dms






