Cerita Teman
Rumah tangga kami (Nia dan Tigor) dikaruniai dua anak perempuan, Astrid dan Kristi. Kelahiran Benyamin pada bulan April 1997 melengkapi kebahagiaan kami. Apalagi saat berusia 8 bulan, anak lelaki kami ini sudah bisa mengucapkan kata “Mama” dan menekan tuts piano sambil menyanyi “titatita didindin”.
Namun 10 bulan kemudian, terlihat sesuatu yang tidak beres. Ia kehilangan kemampuan bicara, lalu mengalami keterlambatan tahap perkembangan. Ben tetap ramah tetapi seakan punya dunia sendiri dan puas sekali berada di dalamnya. Ia menari-nari dengan yang khas, yang itu-itu saja. Singkat kata, saat berusia 31 bulan, Ben didiagnosa autis oleh dokter dan psikiater anak.
Kabar ini bagai badai besar yang memorakporandakan hidupku. Aku mengalami semua yang negatif: takut, marah, bingung, mencari pertolongan dengan membabi buta, merasa dihukum Tuhan, menyalahkan orang lain, menyalahkan diri sendiri tidak baik merawat anak, bahkan sekali-sekali terselip keinginan bunuh diri. Dan ada kalanya aku … memertanyakan Tuhan. Apalagi sebagai dokter aku tahu, tidak banyak yang dapat dilakukan.
Satu-satunya yang menolongku adalah benih tanaman iman yang ditaburkan ayah ibuku sejak kecil, untuk “tetap menanam benih sekalipun kamu tahu besok akan kiamat”. Hal itulah yang membuat aku berusaha mencari Tuhan karena yakin Dialah satu-satunya yang dapat menolong Ben.
Selama ini bagiku hidup adalah problem solving, jadi aku memandang aurisme sebagai masalah yang “harus” segera diselesaikan. Sehingga dalam menghadapi “ujian” kondisi autisme yang bergulir lama, aku sering frustrasi. Aku bersyukur memiliki suami dengan pengalaman iman yang kuat, sehingga dia mampu membimbingku untuk tetap percaya walau belum melihat hasil.
Suamiku yang bijaksana… sepulang kantor tidak pernah menanyakan, “Ben bisa apa hari ini?” Dia hanya memeluknya, bersenda gurau, karena dia menghargai the present dan percaya Tuhan melakukan sesuatu walau belum terlihat.
Dari dia aku tahu, bahwa selama ini aku memandang kondisi Ben dari hatiku yang penuh kekhawatiran akan masa depan. Sering terpikir, “Bagaimana kalau Mama sudah tidak ada, Ben?” Hal ini membuatku kehilangan kekuatan untuk melakukan kewajibanku saat itu, yaitu merawat dengan kasih sayang.
Perasaan dan sikapku masih turun-naik. Sampai suatu saat ada moment of clarity. Waktu itu, semula aku malas pergi ke sebuah pesta HUT, tapi dengan ogah-ogahan, aku pergi juga. Di luar dugaan hadir pendeta yang memberi khotbah tentang percakapan Tuhan Yesus dan Petrus sebelum Dia terangkat ke Surga. Petrus sebenarnya malu telah menyangkal Tuhan sampai tiga kali, tetapi Tuhan tetap memercayakan tugas sangat penting kepadanya. Tuhan meminta Petrus menggembalakan domba-Nya dan ini dimintanya sampai tiga kali.
Mendengar khotbah ini kesadaran muncul, bahwa Ben itu domba Allah, yang walau lemah telah dipercayakan padaku, walau tak sempurna tetap dianggap layak. Aku menyadari, autisme itu bukan kutuk, tapi kepercayaan dan tanggung jawab. Tuhan percaya pada aku dan Tigor untuk merawat dan membesarkan Ben. Tuhan punya rencana yang tidak kupahami tapi pasti baik.
Lalu pendeta bicara lagi tentang pengorbanan Tuhan Yesus. Dia sudah nyaman di Surga, tapi bersedia turun ke dunia menjadi sama dengan manusia dan menderita demi orang berdosa. Kebenaran ini menamparku. Mengapa aku menuntut dari Ben, bahwa dia harus bisa seperti anak lain, sementara Yesus yang sempurna meninggalkan Surga-Nya untuk menjadi sama dengan manusia?
Dengan kesadaran itu aku berhenti berkarir untuk menemani Ben. Bukan supaya Ben tidak malu-maluin atau supaya dia terkenal, tetapi karena aku ingin tumbuh bersama Ben dan menemaninya mencapai apa yang Tuhan rancangkan baginya.
Aku terus mencari jawaban atas situasi ABK (anak berkebutuhan khusus) ini dalam perenungan hari lepas hari, dan 17 tahun kemudian Tuhan menjawab lagi melalui khotbah Pdt. Rick Warren yang kutonton di You Tube. Rick mengatakan dalam Mazmur bahwa Tuhan melindungi mereka yang lemah. Wow. Memang untuk dimensi kekekalan, Tuhan punya rencana demikian dan kita tidak perlu khawatir. Perihal keselamatan seorang ABK kita tidak perlu bingung. Allah maha mengerti akan kondisi yang dihadapi anakku. Aku percaya Ben punya potensi untuk mengerti, walau tidak berbicara.
Kami pun menerapkan prinsip bekerja sama berpasangan: aku dengan Tigor, kakak Ben dengan relawan. Kami membentuk sistem yang bertujuan kesehatan jiwa-raga semua anggota keluarga. Kami menerapkan semua metoda medis yang dapat menyehatkan tubuh Ben. Kami memberikan lingkungan yang dapat mengembangkan jiwa dan rohnya dan mengarahkannya hanya kepada Tuhan Yesus, bukan lagi kepada prestasi-prestasi yang dikejar oleh dunia ini. Semua kemampuan seperti membaca, sains, matematik, pengetahuan umum dan pengertian dipakai untuk dapat mengerti firman yang dia dengar. Semua dilakukan dengan fun dan menerima keunikannya sesuai metoda Son-Rise yang kami anut.
Allah membuka jalan baru yang tidak terpikirkan sebelumnya. Akhirnya Ben dapat menerima Kristus Yesus sebagai Juru Selamat pribadi. Bagaimana prosesnya? Bukankah autisme erat dengan vonis “mereka tidak mengerti”? Aku belajar lagi bahwa Ben is a thinking being. Ben belajar speed reading metoda Glenn Doman sehingga menguasai 1500 kata setiap 6 bulan, sekalipun tanpa mampu menyebutkannya.
Seluruh keluarga saling mendukung dengan membuat buku home made. Satu dari 5 topik wajib adalah tentang Alkitab. Mulai dari satu kata, maju menjadi frasa, lalu kalimat, kitab Amsal dan Mazmur sampai akhirnya seluruh Alkitab. Ben berkembang sehingga bisa mengekspresikan isi pikiran dan hati dengan teknik F.C. (facilitated communication). Dan dengan metoda ini dia maju menjalani sidi. Buku harian Ben sarat dengan pendapatnya tentang artikel di koran, pribadi di sekitarnya, bahkan pesan Tuhan hari ini.
Ben pernah berkarya bersama pelukis Rusia, Victoria Renaux dan melelang lukisannya untuk turut mengirim satu keluarga misionaris ke sebuah negara di Asia Tenggara. Ia juga memulai inisiatif pelayanan di sebuah SLB di Jakarta dan melakukannya dengan metoda F.C. Pelayanan unik ini dikerjakan oleh kakak Ben dan teman-temannya; firman dibawakan melalui sandiwara, game, dan percakapan untuk anak yang non atau limited verbal, atau sering disebut hearing with little or no speech.
Ben juga menjalani home schooling dan ikut ujian negara, difasilitasi kakaknya. Ben tetap di rumah dan kami semua, termasuk tim guru dan penjaga saling bergantian hidup bersamanya. Rumah adalah tempat dia belajar dan bertumbuh. Puji Tuhan, Ben dapat mengerti, walaupun untuk beberapa hal kami tetap harus menyesuaikan diri dengan keadaannya. Aku melihat kedua kakaknya tumbuh dalam kondisi unconditional love.
Suatu kali aku menonton film berjudul “Hugo”. Tokohnya, Hugo, bersembunyi di balik jam raksasa. Dia mengamati bagaimana semua sekrup saling bersinggungan dan menciptakan pergerakan yang diperlukan bagi jam untuk berfungsi. Hugo bergumam, kalau satu sekrup kecil hilang, jam berhenti berfungsi. Itulah Ben. Ketika dia ada, maka roda berputar dengan seimbang di dalam keluarga kami. Kondisi Ben yang membutuhkan makanan sehat membuat seluruh keluarga ikut sehat. Orangtuaku yang sedang dalam kondisi depresi bangkit kembali karena menerjemahkan diary Ben ke dalam bahasa Inggris.
Kami semua menjadi orang yang lebih sabar dan mengerti apa artinya mencintai. Dan pelukan Ben selalu membuat hati kami gembira. Bagiku sendiri, sukacitaku tidak lagi bergantung pada pencapaian semata, tapi pada hubungan intim dengan Tuhan yang dimungkinkan karena berjalan bersama Ben.
Kami masih terus berjuang; masih jatuh bangun. Bahkan kami tidak pernah tahu hari esok akan seperti apa. Kalau dulu kenyataan ini menghantuiku, puji Tuhan kini aku sudah menemukan RAHASIA menghadapinya: Ben bukan suatu kesalahan. Kasih kami padanya memberikan power dan keteguhan pada kami untuk maju. Kami menerima dia apa adanya tapi tidak membiarkan dia apa adanya.
Aku bertumbuh dalam kesadaran, bahwa setiap manusia sangat berharga dan indah di mata-Nya, dan bahwa dalam diri setiap manusia, termasuk Ben, ada napas Ilahi walau dunia menyebutnya autisme. (Nia Tandjung)
“Dicintai secara mendalam oleh seseorang memberimu kekuatan; mencintai seseorang secara mendalam memberimu keberanian.” − Laotsu






