Antara Artifisial Inteligence dan Seni Kebetulan

Seide.id – Beberapa minggu lalu, berkumpullah beberapa seniman jadul di rumahku, tentu jadulnya termasuk aku. Cuma ngumpul, ngobrol ngalor-ngidul dan bersilaturahmi beberapa hari setelah Lebaran.

Terus terang ini mengharukan. Karena di antara mereka ada yang rumahnya jauh dari rumahku. Mereka yang jauh, sudah tak tertarik lagi menyopir kendaraan sendiri. Ada yang harus beberapa kali naik dan berganti transportasi. Mulai dari karetaapi, angkot dan gojek. Eh,… tapi bahkan masih ada yang mau dan nasih tangkas bersepedamotor.

Mereka dari berbagai bidang kesenian. Ada yang seni drama, penyair, penggiat teater, penulis dan tentu saja, ilustrator yang sedang mencoba menjadi pelukis.

Obrolan kami tak perlu runut, linear dan tentusaja topiknya melompa-lompat ke-sana ke-mari. Ngalor-ngidul-ngetan-ngulon diselang-selingi di sana-sini dengan plesedan. Ini bukan salah tulis. Memang plesedan,… plesedan itu adalah plesetan dari plesetan.

Contoh plesedan misalnya: ketika itu kami sedang membicarakan topik tentang ikan. Ikan apa saja. Termasuk bilih yang enak banget dan sekarang semakin langka di rumah makan Padang, oleh karena itu harga satu porsinya mahal. Lalu ada yang mengatakan ikan bilih sangat mirip denga wader di Jawa. Lalu mulailah wader diplesetkan. Ada yang memlesetkan ‘wader makan tanaman’, ‘wader itu artinya gak percaya diri’, dll. Tiba-tiba terdengar ada yg nyeletuk: “Wader how are you to day”. Semua orang, …geerrrr. Ternyata yang nyeletuk adalah: mas Wader Abdul Rasyid.

Topik yang sedang hangat adalah: “Artificial Intelligence”, (AI). Diterjemahkan secara harafiah menjadi: “Kecerdasan Artifisial”. Artifisial, …bolehkah kita terjemahkan jadi: palsu?

Secara teknis kekinian dan perkembangan teknologi internet, aku ‘sudah terlanjur’ gaptek. Maka aku bertanya kepada anak bungsuku. Dia mengetahui ada fasilitas mutakhir yang bernama AI, itu. Tapi tak terlalu berminat untuk mengetahui lebih lanjut dan secara detail.

Gadis bungsuku, menjelaskan secara sederhana begini. Kita masuk ke-dalam suatu program tertentu (seperti fasilitas WA, Twiter, instagram, dll -betulkah?). Misalnya kita meminta sesuatu dengan perincian data yang kita sodorkan sebagai berikut, misalnya: pahlawan wanita Indonesia berumur sekian, ketika melawan penjajahan Belanda dari Aceh pada tahun sekitar 1800 sekian. Maka akan keluarlah gambar (yang direkayasa sedemikian rupa sehingga mirip foto), seorang perempuan berbusana Aceh seperti tahun yang kita minta itu.

Nah, ketika kami, aku dan teman-teman ngobrol tentang AI, seorang teman yang mengetahui program itu, dan meminta ditampilkan gambar dengan data seperti aku contohkan di atas itu, maka gambar yang ditampilkan adalah: wanita berpakaian Aceh (?), tapi profilnya -menurutku- malah seperti wanita di sebuah desa di Laos (lihat gambar). Dengan data-data tadi.. dalam bayanganku, gambar yang diberikan mustinya adalah: Cut Nyak Dien, bukan? Aku bilang: “Mungkin saja team operator atau mesin penjawabnya tak mengenal Cut Nyak Dien. Mosok Cut Nyak Dien yang konon cantik itu jadi wanita desa dari Laos ‘gini?”,… kami semua langsung…geerrr.

Ilustrasi: 1. Yang diminta, pahlawan Aceh …eh yang ‘diberikan’ oleh AI adalah: wanita Laos jadul

Ngomong-ngomong soal Cut yang cantik itu, suatu waktu kami, aku dan 2 orang temanku pernah keluyuran ke-Sumedang, Jabar. Mengetahui bahwa Cut Nyak Dien, pahlawan Aceh itu dipenjara, diasingkan, dibuang oleh Belanda jauh dari kampung halamannya, kami lalu mencari, melacak kampung di mana sang Cut menjalani saat-saat terakhir hidupnya dan tempat pemakanannya. Ketemu!

Kami bahkan bertemu dangan seorang kuncen tua (juru kunci pemakanan) yang sudah ‘3 lapis’ turun-temurun menjadi kuncen di pemakanan terkenal dan dihormati (mungkin karena ada makam Cut Nyak Dien) itu.

Sang kuncen bercerita bahwa di saat-saat terakhir, pahlawan nasional itu mengajari penduduk sekitar rumah pengasingannya, mengaji. “Meski sudah manula, tapi terlihat jelas. Waktu mudanya Cut adalah wanita cantik, putih, kharismatik dan tinggi, seperti orang Eropa”.

Aku bergumam dalam hati: “Aah, sok tahu luuuh. Emang ketemu?”. Eeh, seperti mendengar gumaman dalam hatiku, dia menjawab. “Mungkin kalian bertanya-tanya bagaimana saya bisa tahu, bukan?. Almarhum kakek saya yang bercerita, waktu aku masih kecil. Kakek, katanya masih bertemu. Bahkan sesekali ke-rumah tahanannya mengantar makanan. Aku langsung teringat kepada film Cut Nyak Dien. Film bagus garapan Eros Jarot yg diperankan oleh Christin Hakim itu. Lalu aku bertanya: “Cut Nyak Dien memang cantik ya? Jika bintang film, siapa kira-kira yang mendekati kemiripannya?”.
“Mungkin…Eva Arnaz” katanya.
“Hlo-hlo-hlooo,…kok Eva Arnaz sih”, kataku protes.
“Kok elo protes sih?!”, kata teman-temanku
” Hehehe,…iya, ya…kok aku protes.

2. Teman-teman seniman dari ‘berbagai jurusan’ berkumpul di rumahku

Sehubungan dengan teknologi seni mutakhir yang bernama AI. Seorang teman bercerita bahwa ilustrasi yang aku dan teman-teman buat dulu untuk media masing-masing dihargai sangat muruh. Dan istilah “Ilustrasi yang kita buat dulu, sekarang dihargai sangat murah”, itu, tentu membuatku sangat sedih, nelangsa dan kecewa. Karena memang begitulah kenyataannya.

Tapi, keadaan itu, sekaligus tetap memompa dan membesarkan hati untuk tetap semangat berkarya. Karena sajalan dengan teknologi AI, di media sosial yang aku intip pun, kelihatannya sedang trend orang men-share semacam tutorial, tayangan bermacam-macsm ‘aliran’ Dari yang bermacam-macam itu, yang kerap terlihat antara lain, apa yg aku istilahkan: “Kebetulan Art”.

Dulu,akhir tahun ’70an atau awal tahun ’80an, pelukis Yogya mempopulerkan dan mempraktekkan, seni lukis apa yang disebut ‘jelebret art’. Ini aku anggap hampir sama saja dengan ‘kebetulan art’. Pada era kurang-lebih sama, ada pelukis terkenal bernama Amri Yahya. Amri pelukis Yogya kelahiran Sumsel. Pelukis yang latar belakangnya adalah pelukis batik montempirer ini pun populer dengan lukisan-lukisan batik yang aku anggap kurang lebih sama dengan corak dan warna ‘kebetulan’.

3.Seni lukis yang aku sebut ‘kebetulan art’, melukis dengan hair dryer

Baik ‘jelebret art’ atau ‘kebetulan art’ itu, sesungguhnya ‘direncanakan untuk menjadi kebetulan’. Hloo? Begini. Konsep-konsepnya tentu saja bukan kebetulan, tetapi sudah diperhitungkan. Yang aku maksud dgn kebetulan, baik ‘jelebret art’ mau pun ‘kebetulan art’ adalah: ‘perkawinan’ warnanya.

‘Jelebret art’. Pelukis mencipratkaa cat warna-warna ke-kertas atau kanvas kosong. Lalu membiarkan saja warna-warni itu berbaur sendiri. Kawin-mawin dengan warna lain. Jika menggunakan cat air, warna-warni yang tumpang tindih itu, mengalir, meresap atau berpencar, tanpa kita bisa perkirakan.

Begitu juga dengan ‘kebetulan art’ di media sosial itu sedang populer. Sebuah kanvas. Terlebih dulu diberi warna dasar (akrilik), baik putih mau pun hitam. Lalu, selagi masih basah, kanvas itu dicipratkan atau ditumpahi cat lain berwana-warni seperti keinginan sang pelukis. Lalu, ditiup-tiup dengan menggunakan hair dryer (kadang mulut). Warna-warna itu berpencar, kadang membentuk kupu-kupu, perahu atau bunga, dengan warna yang aku istilahkan ‘kebetulan’.

Atau menggelar kanvas yang sudah dicat putih atau hitam, lalu dicipratkan oleh cat berwarna-warni dari dalam tube atau botol pkastik, diputar-putar atau diayun-ayunkan. Nanti tetesan cat berwarna-warni yang keluar dari tube atau botol yg diputar-putar atau diayun-ayunkan itu, menjadi bentuk-bentuk dan warna-warni secara kebetulan.

Naah,…seni lukis seperti itu, menurut hematku, bisa dilakukan siapa saja
…bahkan bisa dibilang tak perlu repot-repot bersekolah senirupa.


(Aries Tanjung)

Abstrak