Seide.id– Setelah tutup seminggu lebih, bank di Afganistan mulai buka kembali. Ratusan warga antre hingga mengular.
Mereka butuh uang kontan untuk biaya hidup. Harga kebutuhan pangan di negara itu dikabarkan mulai merangkak naik.
Penarikan tunai terjadi dimana-mana dan antrean juga panjang, hingga dikhawatirkan negara itu kekurangan uang kontan.
Kabur
Lembaga Keuangan di Kabul sudah tutup di siang hari tanggal 15 Agustus lalu, tepat sebelum mantan presiden Ashraf Ghani kabur ke luar negeri dan pasukan Taliban mulai masuk ibukota.
Takut penjarahan dan pertumpahan darah, semua kantor dan tempat usaha tutup.
Orang lalu membanjiri mesin ATM untuk mengambil uang kontan. Kecemasan merambat di ibukota. Warga tidak tahu apa yang akan terjadi esok, minggu depan atau sebulan lagi.
Semua serba tak pasti. Dengan uang kontan di tangan, setidaknya orang bisa membeli kebutuhan pangan kapan saja.
Kisah Massoud dan Abdul
Saat Taliban mulai menguasai Kabul, warga bernama Massoud, 35, misalnya, ia sudah berkeliling di kota Kabul selama 10 hari hanya untuk menunggu bank buka.
Selama bepergian, Massoud mengkhawatirkan kondisi keluarganya di utara di provinsi Kunduz karena mereka sudah tidak memiliki uang kontan sama sekali.
Bersambung:




