Seide.id – Perilaku “merusak” mainan dapat dibedakan menjadi 3 kategori, yakni:
1.Menghancurkan
Contohnya sesuatu yang telah dibentuk kemudian dihancurkannya. Ini sering terjadi pada kegiatan membentuk sesuatu dengan memanfaatkan material tertentu. Misal, menggambar, menyusun balok, membentuk lilin mainan dan sejenisnya.
Hasil karyanya itu dihancurkan dalam rangka ingin mencari tahu apakah akibat yang ditimbulkan. Atau dia sedang berkhayal akan terjadi bencana, seperti dibom, terjadi kebakaran atau tsunami.
2. Membongkar
Kegiatan membongkar mainan kerap dilakukan pada mobil-mobilan, robot, atau mainan apa pun yang dioperasikan dengan batu baterai. Anak melepaskan bagian-bagian dari mainan tadi. Contohnya, ban mobil-mobilannya dipreteli.
Atau bila merupakan boneka, dicopoti topinya, sepatunya, bajunya, atau rambutnya ditarik-tarik dan sebagainya. Akhirnya, mainan pun rusak. Tapi tahan diri untuk tidak langsung marah ya Bu-Pak. Patut diingat, tujuannya bukan untuk merusak, tapi sekadar memuaskan rasa ingin tahunya.
3. Merusak
Dalam arti membanting, membuang, melempar, atau menginjak-injak mainannya hingga hancur. Biasanya yang satu ini dilakukan dengan sengaja, dalam rangka melampiaskan rasa marah, kecewa, atau untuk menarik perhatian orang-orang di sekelilingnya. Anak sengaja melakukannya sambil “menunggu” dan memancing” reaksi orang lain.
Amarah ataukah Eksplorasi?
Ketiga kategori di atas tergolong tindakan yang menjadikan mainan rusak. Namun hanya satu yang tergolong kegiatan negatif, yakni merusak. Dua kategori lainnya, yakni menghancurkan dan membongkar mainan, dapat dikelompokkan sebagai aktivitas mengeksplorasi.
Mengapa demikian? Karena kegiatan tersebut dilakukan atas dasar rasa ingin tahu anak dan dilakukan saat sedang bermain. Yang dimaksudkan dengan kegiatan eksplorasi adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan informasi lebih jauh mengenai suatu objek, dalam ranka memenuhi rasa ingin tahunya.
Nah, tugas orangtualah untuk mencari tahu, seperti apa situasi yang terjadi saat anak “merusak” mainannya. Tentu saja dengan mengacu pada ciri-ciri yang sudah disebutkan di atas.
(Puspa) – nakita





