…every breath you take/ every move you make/ I’ll be watching you…
Oleh ARIES TANJUNG
Kemarin Sting berulang tahun ke70. Umur Sting sudah 70 tahun? Busyet, awet muda banget! Kayak baru berumur 69 setengah,…haha. Itu gurauan norak teman jika ingin memuji teman lainnya yg ‘seolah-olah’ awet muda.
Eh, tapi ini sungguh. Sting yg bernama asli: Gordon Matthew Thomas Sumner itu, tak nampak seperti seorang kakek berumur 70 tahun. Nama Sting adalah pemberian teman-temanya. Karena Sting kerap mengenakan kaus bergaris-garis kuning-hitam mirip lebah. Sosoknya tak jauh berbeda ketika dia berjingkrak-jingkrak di “The Police” dulu 40 sekian tahun lalu. Kerutan di wajah, memang tak bisa dibohongi (karena dia tak merasa perlu ‘menghilangkan’ kerutan itu) seperti banyak selebriti. Tapi, sosoknya, tubuhnya, penampilannya masih segar. Tubuhnya ramping, penampilannya di setiap konser masih selalu kasual dan selalu mengenakan T-shirt atau T-shirt tapi berlengan panjang berwarna abu-abu. Tak nampak buncit atau berlemak, seperti manula pada umumnya.
Ketika, pada akhir ’70an dia membuat band The Police, musiknya langsung akrab, mewarnai, melengkapi dan ‘meneror’ dunia. Meski, warna musiknya, sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Ada yg bilang: Ska, Punkrock, Sweet Punk, White Reggae (Reggae palsu, haha kata seorang teman), dll. Temanku bilang: “Musiknya ndut-ndutan”/ “Ndut-ndutan?”/ “Iya, ndut-ndutan tapi bukan Dang-dut. Bukan berarti Sting lebih hebat atau apa, dibanding dang-dut, potong sang teman. “Tapi ditelingaku,…band The Police itu iramanya…ndut-ndutan dan asyik”.
Menurutku, sebagai musisi dan seniman, ‘pencarian diri’ Sting lebih mirip seorang pelukis. Lho?
Begini. Ketika dia memutuskan untuk berhenti mengajar sejarah (yak, betul dia dulu guru sejarah, makanya asyik kalok membuat lyric) dan memutuskan untuk menjadi musisi. Itu adalah langkah awal. The Police melejit . Mendunia. Lagu-lagu seperti: Every breath you take, Massage in the botle, Canary in the coal mine, Every little thing she does is magic, Roxane, Tea in Sahara, The bed is too big without you, Wrap arround your finger, dll begitu akrab ditelinga remaja ’80an. Bahkan band sebesar Koes Plus,…ikut-ikutan menggemari. Bahkan membuat lagu mirip dgn lagu The Police: Do-do-do, da-da-da.
Kehebatan 2 orang temannya, Stuart Copeland yg ketukan drum-nya terdengar unik dan khas, dan Andy Summer dgn permainan gitar yg sederhana tapi sangat efektif, seolah-olah tertutup oleh kejeniusan Sting. Sang pemain bas, pencipta lagu, penyanyi utama dan ‘peracik’ warna musik. Pencarian Sting, tak berhenti.
Dia lalu bergaul dengan musisi kulit hitam seperti: Manu Katche, Kenny Kirkland, dll. Lalu lahirlah Solo album, dengan judul unik: “Dream of the blue turtle” yang berirama fusion dan jazz. Album ini tak begitu ‘bunyi’ di sini. Hanya 1-2 lagu saja yg menjadi hit. Tapi aku malah suka lagu sendu berjudul “Russian“. Bercerita tentang hubungan yang kurang baik antara ‘barat’ dengan Rusia. Rusia selalu cenderung dan terlanjur dikonotasikan: raksasa yg keras, dingin dan kaku. Maka dalam lyricnya Sting menulis antara lain: …hope the Rusian love/ their children too. Di sela-sela suara saxophon yg pekat, kelam, timbul-tenggelam, seperti diseret-seret, merintih, tapi memprotes, mempertanyakan sesuatu. Dan…Moon over bourbon street. Wuidiiih,…lagu itu keren banget. Dari judulnya saja sudah sangat puitis. Menjanjikan sesuatu yang bikin kita ngelangut.
Album berikutnya, seperti tak bisa dibendung. “Nothing like the Sun“. Aku sempat meresensi. Judul resensinya: “Nothing like Sting”. Hampir semua lagu-lagu dalam album itu menjadi hit. “Englishman in New York”, “Sister Moon”, “History will teach us nothing“. Bahkan lagu Jimmy Hendrix “Little Wing” terdengar seperti ‘lagu baru’. Dalam album yang boleh jadi sekarang sudah menjadi klasik itu, Sting tetap dibantu musisi kulit hitam. Seperti Omar Hakim dan Brandford Marsalis. Pada awalnya, Brandford diejek, meski dalam nada gurau oleh keluarganya: “Lo gaul sama Sting, sekarang? Ndut-ndutan dong, hehehe”.
Keluarga Marsalis (termasuk Marsalis Sr) memang pemain jazz handal dan disegani. Kakak Branford, Wynton adalah pemain trompet dan Oboe yang disegani di antara musisi jazz. Tapi, belakangan keluarga Marsalis mengakui, bahwa Sting seorang musisi jenius dengan bakat luar biasa.
Aku ingat, ketika seorang teman sanggar yg bermukim di New York, berada di Jakata . Dia mengajak beberapa teman termasuk aku ketemuan di sebuah warung di sekitar Blok-M. Di warung itu aku menyanyikan lagu Bob Marley: Redemption Song. Ketika selesai, pemain gitar band yang mengiringi berbisik,…”Psst, mas hafal lagu Sting “English man in New York, gak. Kebetulan temen kita baru dateng dari NY, nih. Jika waktu itu hp-ku sudah canggih,…tinggal cari di google ‘kan?. “Waah,…aku gak hafal lyricnya”/ “Tenaang,…nanti saya back-up kata sang gitaris. Maka berkumandanglah “Java man in New York”,…terseok-seok.
Aku beruntung, ketika pada tahun ’94, Sting konser di Jakarta, aku tak cuma nonton, tapi disuruh melaporkan dan menulis konser itu di tabloid tempatku bekerja. Suatu kehormatan. Terimakasih Bing (colek Jubing Kristianto).
Selamat Ulang Tahun, Sting. Selamat Ulang Tahun, legenda hidup. Sehat-sehat, terus membetot bas, bikin lagu dan menyanyi selalu…
Ilustrasi: Sketsa ini aku buat sekitar 25an tahun lalu. Sepertinya setelah Sting konser di Jakarta.
SIMAK TULISAN MENARIK LAIN :
Tragedi Tenggelamnya Kapal Pengungsi Wilhelm Gustloff (5/terakhir)




