Pada Hari Rabu Abu, memasuki masa Pra-Paska, semua umat Katholik diwajibkan menerima olesan debu tanah di dahi, berpuasa dan berpantang, memasuki masa puasa menuju Tri Hari Suci. Mengenang, merenungkan dan mensyukuri Jalan Salib dan Wafat Yesus, serta KebangkitanNya demi menebus dosa dan maut bagi segenap umat manusia. Saya menyambut Rabu Abu dengan tulisan sajak: Olesan Debu tanah di Dahi-ku
Ketika telapak berlari mengejar angan
Darah menggelora mendamba cita
Desah nafas bersemangat meraih mimpi
Dahi diolesi debu tanah
kesadaran diingatkan sejenak
Berhenti dan bergelut
melihat telapak yang menginjak bumi tanah
lalu berlutut dan mencium debu seraya mendengarkan maklumat kodrati:
” Aku berasal dari debu tanah, dan pasti kembali ke debu tanah. _Hidupku hanya sementara, jiwa mengendarai raga untuk hasilkan amal kasih sayang”
Olesan debu di dahiku
Ingatkan cerita taman Eden,
ketika manusia pertama dibuat dari tanah
Dan dari tulang rusuk manusia itu dibuat manusia kedua jadi sahabatnya
Sehingga beranak-pinak generasi kehidupan menciptakan sejarah peradaban di bumi
Debu tanah menjadi sahabat abadi
setiap anak manusia berkelana menulis sejarah kehidupan
Samapi jasat kembali menyatu dengan debu tanah
Olesan debu tanah di dahi
Proklamirkan salib beban derita manusia
dari Yerusalem ke Golgota
Bersahabat ketidakadilan cambuk luka
keganasan dunia mengucurkan darah
Puncaknya dosa menyalibkan jiwa
lalu keluarlah Sabda Agung terakhir di Salib
“Ya Bapa, mengapa Engkau tinggalkan Aku.
Ke dalam tangan-Mu, Kuserahkan jiwa raga-Ku…”
Sang Sabda yang menjadi manusia
Lahir dalam kandang hina
Dibaringkan dalam palungan
Dibungkus dengan kain lampion
Dipeluk debu tanah realitas dunia
Kemiskinan jiwa karena dosa manusia
Olesan debu tanah di dahi
Memberi jaminan dan pengharapan pasti
Bahwa
Maut telah dikalahkan darah anak domba
Dosa telah dibasuh dengan darah dan air suci dari lambung Kudus Sang Putera Sorga
Kematian telah ditebus dengan Kasih Abadi Sang Sabda dan Cinta Sejati Sang Maha Rahim
bagi yang percaya dan bertobat
” Barang siapa yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal diri, meninggalkan semuanya, memikul salibnya dan mengikuti Aku.
Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup
Tidak ada seorang pun yang bisa datang kepada Bapa, jikalau tidak melalui Aku “
Olesan debu tanah di dahi
Bukan mengotori wajahku
melainkan memberi tanda penuh makna
bagi hakekat iman jiwa sejati
yang merindukan Rahmat Cinta Abadi
berkah Kasih Sayang paling agung
Bahwa
Sang Maha Cinta
Sang Maha Rahim
Sang Maha Misteri
tidak menelantarkan insan ciptaanNya
manusia sebagai citra Ilahi-Nya
Termasuk aku dan engkau
Simply da Flore
Harmony Institute






