Sebagai manusia normal, saya memliki selera hawa napsu dan emosi. Karena manusia memiliki nalar, hati nurani, dan jiwa, selera hawa napsu raga perlu diatur, dikelola, dan dikendalikan. Jika pikiran dan kesadaran, hati nurani dan jiwa, tidak bisa mengendalikan selera hawa napsu ragawi, sering timbul banyak masalah dalam diri. Masalah dengan cara berpikir, nilai hidup, dan harkat martabat.
Hakikatnya, karena manusia makhluk berakal budi dan berhati nurani serta iman, hidup bukan untuk puaskan selera hawa napsu raga. Ketika selera hawa napsu raga dituruti, emosi tidak dikendalikan, muncul masalah bagi diri sendiri dan juga untuk orang lain. Merefleksi soal selera hawa napsu dan emosi yang tidak terkendali, saya mencatatnya sebagai berikut:
Dibakar panas musim kemarau
Kuda-kuda liar berlari menerjang padang kering sepi
diiringi sepoi dan badai
Rumput hijau dinanti
Kolam air sejuk dicari
Rindu damba naluri kodrati
Harap musim segera berganti.
Kubawa senjata hasrat
mengejar pesona angin sepoi
Kucari di pasir pantai
sosok jejak-jejak memori
Hanya suara debur ombak
bertanya silih berganti
pada luka di sanubari
pada sepi buih putih
pada awan di langit jiwa
pada kabut hitam di puncak gunung
Rinduku hilang di kaki langit
dibawa senja yang penat
Dambaku ditelan gulita malam
oenyap tenggelam di samudera dalam.
Terasa lelah dan penat
memburu rindu damba jiwa
Mencari jejak memori di pantai
Menangkap angin sepoi
Menahan dan menghalau badai
karena
selera napsu itu api
hasrat ragawi itu kilat
emosi brutal itu racun
rindu pada memori
damba pada pelangi
Memori pasti telah pergi
Api sudah padam mati
Kilat telah usai terjadi
Pelangi itu misteri
Hasrat naluri perlu kendali
Emosi meski dibatasi kesadaran.
Ya Sang Maha Bijaksana
Syukur kepada-Mu atas semua kelengkapan jiwa ragaku
Tuntunlah dengan rahmat-Mu
agar aku bisa kendalikan selera hawa napsu
dan mampu mengelola emosi semakin dewasa
Sehingga memiliki pribadi yang layak di hadapan sesama dan berkenan kepada-Mu





