Beribadah Dengan Uang Haram

Jam 08.00 pagi
Aku sedang menyemprot anggrek-anggrekku dengan sprayer, ketika seorang anak lelaki kecil sekitar usia 9 tahun mengendap-endap mendekati kebunku.

Dia melihatku, aku melihatnya.

Karena aku sedang tak pakai kacamata, aku nggak bisa melihat jelas. Kupikir dia anak tetangga sebelah (orang korea), yang mau pulang ke unitnya setelah bermain.

Eh ternyata tidak. Dia memetiki bunga-bunga telangku.

Hey…! Why are you picking those flowers?” Tanyaku.
Hei…kenapa memetik bunga-bunga itu?

Dan anak itu menjawab dengan bahasa Inggris berlogat India,

“I need flowers for the gods…”
Aku perlu bunga-bunga untuk dewa-dewa…

Lhooo… ini ternyata anak India to..? Aku menajamkan mataku, berusaha melihat dengan jelas. Oiya. Kulitnya gelap, matanya bulat…

But you can not just pick other people’s flowers…”
Tapi kamu nggak boleh memetik bunganya orang lain… kukatakan dengan nada lembut.

But… I need it for my Gods…”
Tapi aku membutuhkannya untuk Dewa-dewaku… jawabnya dengan suara lirih, takut-takut.

Well, I think your Gods will be more pleased and happy if you are offering them flowers that you planted it yourself. Not flowers that you steal it from someone else…”
Well… kupikir dewa-dewamu akan lebih senang dan bahagia kalau mendapatkan persembahan bunga-bunga yang kamu tanam sendiri. Bukan bunga yang kamu curi dari orang lain… jawabku memberi penjelasan moral dan logika.

Anak itu terpana…. Dia terdiam.
Lalu aku melanjutkan,

So please tell your mother to grow some flowers in your own balcony…for your Gods…”
Jadi, tolong kasih tahu ibumu, untuk menanam tanaman kembang di balkon kalian sendiri, untuk dewa-dewamu… ujarku sambil tersenyum.

Anak itu menggeleng-gelengkan kepalanya (menurut body language India, menggeleng artinya menggangguk).

Dia lantas pergi, dan aku meneruskan menyirami tanamanku…

Nesa, yang sedang tiduran di bangku panjang teras kami, mendenguskan napas panjang.

Aku tertawa dan berkata,
“Pagi-pagi sudah ndidik anak orang deh, Mama…”

“Itu kan logika dasar. Kita nggak bisa mempersembahkan bagi Tuhan, apapun yang bukan hasil usaha kita sendiri!” Ujarnya kesal.

Aku terdiam.
Wah iya ya…
Logika, moral, dan praktek agama yang mendasar seperti ini, sering nggak terpikir oleh banyak orang dewasa juga lho…!

Berapa banyak orang yang telah menyumbang gereja, membangun masjid atau pura dan kelenteng dari uang korupsi dan pungli…?

Berapa banyak yang berhaji dan ziarah ke Yerusalem dari uang haram dan panas?

Akankah Tuhan bahagia, lantas mengganjar umatNYA dengan tempat di Surga (kelak) jika disenangkan dengan hasil curian…?

Ternyata, beragama itu nggak cuma MENJALANKAN PERINTANYA DAN MENJAUHKAN DIRI DARI LARANGANNYA…
Tidak sesimpel dan seharafiah itu. Melainkan harus dipikirkan dengan akal budi, ketika hendak menerapkan dan melaksanakannya…

Orang beragama itu harus cerdas. Kalau nggak cerdas, malah berpotensi melakukan hal-hal yang dapat membuat mereka masuk neraka, dalam rangka melaksanakan ibadah.

Siapa bilang, beragama hanya perlu iman dan tak perlu berpikir..?

iniBUKANbahasanAGAMA ya.

Ini cuma diskusi soal logika dasar.

(Nana Padmosaputro)

Tidak Akan Mengikat Dia di Peti Matiku

Avatar photo

About Nana Padmosaputra

Penulis, Professional Life Coach, Konsultan Tarot, Co.Founder L.I.K.E Indonesia, Penyiar Radio RPK, 96,3 FM.