Bertandang ke Gereja Santa Teresa, New York

Seide. id – Kadang-kadang saya merasa diri termasuk dalam sekumpulan manusia “kurang ajar” sejagat. Bagaimana tidak? Umur hampir kepala 6 (itu berarti menyandang nama baptis Santa Theresia sudah setengah abad lebih)

, kok ya sudahh hampir 2 tahun tinggal di kota yang katanya tak pernah tidur ini , tak pernah sekalipun saya berusaha sowan pada pemilik nama agung tersebut yang sudah membolehkan saya menyandang namanya.

Jadilah, hari Minggu (11/4) beberapa bulan lalu, bertepatan dengan hari Minggu Kerahiman Ilahi, saya menyempatkan diri merayakan misa di gereja St. Teresa.

Makin bulatlah niat hati ini setelah search di Google ternyata lokasi gereja ini hanya berjarak 1 menit saja berjalan kaki dari Stasiun Metro East Broadway, Manhattan, NYC. Ini berarti tipis kemungkinan dong saya bakal kesasar?

Konstruksi gereja yang terletak di Rutgers Street ini dibangun tahun 1841, di atas lahan hibah dari Kolonel Henry Rutgers untuk Rutgers Presbyterian Church.

Namun di tahun 1863 fungsi dan kepemilikannya dialihkan menjadi gereja Katolik St. Teresa, hingga sekarang. Karena berlokasi dikawasan Pecinan, misa hari Minggu di gereja ini dilayani dalam beberapa bahasa yang paling banyak umat penuturnya, yakni Inggris, Spanyol, dan Mandarin.

Saya sendiri waktu itu mengikuti misa dalam Bahasa Spanyol. Bukannya saya mendadak fasih berbahasa Spanyol lho, tapi di sinilah “kelebihan” gereja Katolik. Mau ikut merayakan misa di mana pun dan dalam bahasa apa pun, tata cara perayaan Ekaristi selalu sama alias seragam sesuai aturan yang ditetapkan Vatican.

Jadi, meskipun doanya saat itu dalam Bahasa Spanyol, saya tetap percaya diri mendaraskan doa-doa tetap dalam Bahasa Indonesia.
(Puspa)

About Gunawan Wibisono

Dahulu di majalah Remaja Hai. Salah satu pendiri tab. Monitor, maj. Senang, maj. Angkasa, tab. Bintang Indonesia, tab. Fantasi. Penulis rutin PD2 di Facebook. Tinggal di Bogor.