Boz Scaggs

Seide.idBoz Scaggs, mungkin adalah salah-satu contoh (paling tidak bagiku), di mana sebuah karya jauh, jauh, jauh lebih terkenal, bisa dibilang mendunia daripada penciptanya.

Yang sedang aku bicarakan adalah lagu asyik, syahdu, ngelangut berjudul: “We’re all alone”.

Paling sedikit ada 3 versi lagu ngelangut nan sedap ini. 1.Versi Boz Scaggs, yang notabene penciptanya sendiri; 2.Versi Frankie Valli; dan 3. Versi Rita Coolidge. Nah, yang paling terkenal dan menjadi hit dunia adalah… yang versi Rita Coolidge. Atau bahkan jangan-jangan dunsanak jadul (jaman dulu) atau jarang (jaman sekarang) tahunya “We’re all alone” itu lagunya Rita Coolidge. Titik. Terus terang,… aku pun tahunya begitu.

Mari kita mulai dengan Boz Scaggs. Nama aslinya adalah: Willam Royce Scaggs. Nama Boz itu berasal dari ‘Bosye’, adalah julukan yang diberikan teman-teman sekolahnya. Mungkin saja dia di sekolah dulu suka mentraktir teman-temannya, entahlah. Setelah aku coba intip, tak ada keterangan secara detail, arti ‘Bosye’ itu. Mungkin kang Denny Mŕ, punya cerita yang lebih bisa ‘dipertanggungjawabkan’.. haha..

Terus-terang juga, teman si Boz seperti Steve Miller di mana dia bergabung dalam nama Steve Miller band, malah lebih kukenal (salah-satu hitnya kalau tak salah “The Joker”). Juga nama-nama lain ‘teman nongkrong’ yang kerap dibantu atau membatunya jika Boz membuat album, ketika ngeband dengannya, yaitu: Jeff Porcaro dan David Paich yang kita kenal sebagai personal band kondang Toto. Boz, juga banyak membantu untuk album-album teman-temannya. Antara lan yang terkenal adalah: Steely Dan, Ray Parker Jr, dll. Juga Stevie Nicks, salah seorang vocals Fleetwood Mac, ketika membuat album solo.

“We’re all alone” versi Frankie Valli, pun bukan saja tak akrab di telingaku, tapi bahkan rasa-rasanya tak pernah kudengar atau diputar di radio-rsdio, cuma aku saja yang tak pernah mendengar. Penyanyi bernama asli Francesco Stephen Castelluccio ini, adalah penanyi terkenal setara dengan Tony Benneth bahkan Frank Sinatra.

Inilah kejelian dan kepekaan telinga pemilik industri rekaman. Suatu ketika, pemilik rekaman A&M (Alpert & Moss), Jerry Moss, berbincang santai dengan Rita Coolidge di tengah pembuatan album “Anytme, Anymwere”. Jerry bilang: “Hey Rita, ada satu lagunya Boz Scaggs yg diletakkan di side B albumnya, …judulnya We’re all alone. Menurutku sih, irama dan tema lagunya sangat cocok jika juga dinyanyikan oleh penyanyi wanita. Terlebih dinyanyikan oleh suara penyanyi wanita dengan karakter suara seperti suaramu.

Tentu saja Rita Coolidge merasa mendapat kehormatan. Tanpa berfikir panjang, Rita langsung menyetujui. Tapi dengan catatan, …ada beberapa kata dalam sya’ir lagu yang harus diganti. Setelah Rita Coolidge mempelajari, Boz Scaags menyetujui, akhirnya ada beberapa kata dalam lagu yang diubah. Yaitu yang sebelumnya dibyanyikan oleh Boz Scaggs: “Close your eyes Ami”, ketika dinyanyikan Rita, berubah jadi: “Close your eyes and dream”. Sya’ir: Throw it to the wind my love” ketika dinyanyikan Rita berubah jadi: “Owe to the wind my love”.

Ilustrasi: Karikatur Boz Scaggs aku orat-oret, beberapa menit lalu. Dengan media pensil dan akrilk di kertas bekas kalender…

Benar saja, dugaan dan kejelian Jerry Moss sama sekali tak meleset. Justru kemudian, lagu “We’re all alone” versi Rita Coolidge, itu tak terbendung menjadi hit. Bahkan kita (paling tidak aku) tak tahu kalau lagu itu adalah lagunya Boz Scaggs. Lagu itu tak saja menjadi hit di Amerika, tapi juga Eropa, bahkan Australia dan Asia pada tahun ’77. Tepat setahun setelah lagu dirilis.

Ironisnya, “We’re all alone” cuma diletakkan di sisi B dalam rekaman Boz Scaggs yang beredar. Boz Scaggs sendiri bukanlah orang asing bagi Rita Coolidge. Rita kerap menjadi backing vocalis yg membantu Boz Scaggs ketika membuat single atau album.

Terus-terang, aku pun mengetahui bahwa lagu itu adalah lagu ciptaan Boz Scaggs, sangat terlambat. Suatu ketika, aku mencari chord lagu asyik yang dinyanyikan oleh Rita Coolidge itu. Hlo, hlo, hlo ternyata lagu itu ciptaan Boz Scaggs. Meski mesin pencari tak ‘mengomeli’ seperti ketika aku mencari chord lagu berjudul “First cut is the deepest”, lagu Cat Stevens yang aku kira lagunya Rod Stewart. Lalu, aku mendengarkan versi Boz Scaggs, yang notabene versi aslinya. Ternyata asyik juga. Vocal Boz jernih, tinggi agak melengking. Tapi, kenapa setelah dibawakan oleh Rita Coolidge, lagu itu baru mendunia? Yaah,… menurutku selain memang pas ketika dinyanyikan Rita,… faktor luck, fortune, keberuntungan atau hoki kata orang Cina dalam dunia industri hiburan, memang tak bisa diabaikan begitu saja.

(Aries Tanjung)

Bob, Seniman Tiga Zaman