Dibesarkan oleh pengusaha perkebunan, terbiasa mengelola lahan ribuan hektar, Budi Susilo kini mandiri sebagai pengolah kebun cabe di Lampung dan kayu manis di Kerinci, Jambi. Peluang bisnis yang belum dimanfaatkan banyak pengusaha, padahal lahan konsesi masih terbuka luas, katanya.
Seide.id – Indonesia memiliki lahan yang sangat luas, tapi banyak komoditi pertanian masih impor. Padahal segala produk pertanian bisa dihasilkan di sini. Hal itu bukan rahasia lagi. Situasi penuh ironi itu tak diucapkan oleh pengamat, akademisi, melainkan oleh pengusaha dan pelaku pasar. Seorang di antaranya, Budi Sussilo.
“Sebenarnya kita masih impor kayu manis dari Vietnam, karena untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri masih kurang,” ungkap Budi Susilo, pengusaha muda yang bergerak di bidang jual / beli kayu manis kepada media, Jumat (24/2/2023).
Dia mengelola 13 ribu hektar perkebunan kayu manis milik Inhutani yang dikelolanya sejak tahun 2017, di kawasan Kerinci, provinsi Jambi, dengan memberdayakan sekitar 4000 anggota masyarakat setempat. Dia mendatangkan mesin-mesin bernilai ratusan miliar dari Cina, untuk mengolah kayu manis.
Kayu manis (Cinnamon) jenis pohon penghasil rempah-rempah yang banyak sekali kegunaannya. Bisa digunakan untuk campuran bumbu masak, pengharum aroma kue, campuran rokok bahkan obat-obatan. Kayu manis tumbuh baik didaerah yang beriklim tropis basah. Iklim tropis basah tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.
Budi Susilo, kini 38 tahun, terjun ke bisnis ini sejak tahun 2017, sudah merasakan betapa bisnis kayu manis ini sangat manis, menarik dan menguntungkan. Potensi kayu manis yang sangat besar belum bisa dimaksimalkan, selain sedikit pengusaha yang tertarik, masyarakat di beberapa daerah pun tidak serius menanganinya.
“Masih terbuka lahan puluhan ribu hektar untuk dikelola. Saya mengundang teman teman pengusaha untuk masuk dan ikut serta, “ katanya, seraya menyebut kayu manis di wilayah Kerinci, memiliki kualitas terbaik, klas dunia. Dan Perum Inhutani masih membuka pintu kerjasama.
Mengapa sedikit pengusaha kita yang terlibat?
“Karena cuannya kecil, tidak seperti di pertambangan, “ ucapnya. “Padahal, kalau volumenya besar, ‘kan hasilnya besar juga,” kata pengusaha muda yang memulai usahanya dengan berbisnis cabe di daerah Lampung ini.
Dikemukakan, dari pohon kayu manis, tak ada yang terbuang – semua menghasilkan komoditi dan jadi uang segar. Mulai dari kayu, kulit hingga daunnya. Ia memasarkannya ke industri rokok di Jawa Tengah, dan sebagian diekspor. Margin dari ekspor itu menurutnya cukup besar.
Budi Susilo menyatakan, mengelola perkebunan Inhitani tak semata mata mengolah sumbar alam lokal, namun juga membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan ribuan petani setempat. Dalam hal ini masyarakat di Kerinci, karena perusahaannya tidak pernah menunda pembayaran kepada masyarakat.
“Istilahnya di sana, timbang bayar. Setelah barang ditimbang, kita harus bayar. Tidak ada penundaan atau ngutang kepada masyarakat, sehingga masyarakat pun senang,” kata pengusaha muda yang juga aktif di PDIP ini.
Diungkapkan, dalam mengelola kayu manis, semua tenaga kerja berasal dari masyarakat sekitar. Tak ada yang di luar. Apalagi sebagian besar pekerjaan masih harus dilakukan dengan tangan. Mesin hanya untuk proses akhir, sebelum dipasarkan,” kata pria santun yang kerap menggunakan bahasa Jawa halus saat berbicara ini.
Kunci sukses bisnis perkebunannya adalah membina hubungan secara kekeluargaan dengan masyarakat setempat, kata ayah tiga anak ini. Selain membayar sepadan dan tunai, secara periodik ia mengirimkan bantuan dan kebutuhan masyarakat di sana, termasuk kostum dan perlengkapan olahraga – yang mereka gemari.
“Di sana petani sangat baik, giat bekerja, dan berubah hidupnya setelah ada pabrik pengelola kayu manis. Karena memang selama ini terlantar dibiarkan begitu saja. Sekarang kesejahteraan meningkat, karena ada pekerjaan dan pemasukan tetap, “ ungkapnya.
Menempuh pendirikan bisnis hingga Amerika, bahkan sempat bekerja di perusahaan jasa keuangan raksasa, JP Morgan – Budi Susilo memilih kembali ke tanah air dan menekuni perkebunan. Dia memang dibesarkan oleh keluarga pengusaha perkebunan dan produk pertanian. Sejak belia akrab dengan komoditi kebun yang dikelola ayahnya, dan berhubungan dengan petani. Mengelola sumber daya petani, tak asing baginya.
Budi Susilo mengajak rekan rekannya terjun ke bisnis pengelolaan Kayu Manis. “Ayolah kita kembangkan sama-sama. Di Kerinci saja masih ada ratusan ribu hektar lahan yang belum tergarap. Kalau ada pengusaha yang ingin masuk, silahkan saja berhubungan dengan Inhutani dan masyarakat,” kata Budi tanpa takut mendapat saingan usaha. (dms)






