Cerita Kejutan, Aardvak Indonesia di Rantau Pulut

Aardvak Indonesia01

Siapa mengira bila aardvak ternyata juga hidup dibagian lain di Indonesia. Paling tidak, fakta itu terekam jelas dalam video singkat yang dikirim Joke (aktivis JAAN) ke Pudentia, dan lantas di-share ke WA Grup dimana kami jadi bagian dari anggotanya. Aardvak besar, sehat dan liar.

Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI.

Seide.id 03/03/2023 – Seekor satwa liar yang sosoknya agak aneh (bagi orang awam), tampak melintas di sebuah jalan tanah dekat jembatan papan dan kayu yamg melintasi sebuah kawasan pedalaman, terekam video berdurasi 1.38menit. Dengan panjang sekitar 1,5 meter dan tinggi jangkung sekitar 50 cm  satwa berkaki empat ini memang terkesan aneh. Karena mulutnya  berbelalai seperti tapir, kupingnya mirip.kelinci, sedangkan ekornya panjang berjuntai seperti tupai. Tapi saya segera mengenalinya sebagai Aardvak.

“Ini video kiriman seorang sahabat lama saya, Joke namanya,” ungkap Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Pusat,  Pudentia MPPS. Lebih lanjut, doktor dan pengajar Kajian Tradisi Lisan dari FIB-UI itu menyebut bahwa Joke adalah istri dari Dick Denhas yang pernah jadi Wakil Dubes Belanda untuk Indonesia. “Sejak 15 tahun lalu dia aktif di JAAN (Jakarta Animal Aid Network) – lembaga swadaya masyarakat nirlaba untuk membantu pemerintah dalam penyelamatan satwa liar dan peliharaan dari kepunahan.

Siapa pembuat video yang juga diposting di kanal YouTube tanggal 13 Februari 2023 itu? Joke sahabat Pudentia, kah? Atau seseorang dari aktivis JAAN yang sedang jalan bareng Joke, dan memergoki kejadian langka di atas untuk lalu, spontan, mengambil HP dan memvideokannya? Entahlah. Yang pasti, siapa pun perekamnya, ini merupakan sebuah karya audio-visual eksklusif yang sangat penting untuk didokumentasikan, ihwal fakta keberadaan satwa langka  Aardvak yang semula disangka si pembuat video (seperti keterangan penjelasan yang tertera di video) sebagai sejenis tapir purba, ha…ha…ha…!

Aardvak (Orycteropus afer) diberi nama di kawasan liar South Africa atau Afrika Selatan saat para pionir ilmu hewan menemukannya di akhir abad ke-18. Sama seperti Armadillo dan  trenggiling (satu-satunya mamalia yang kulitnya berupa jalinan sisik seperti reptil), di Barat sana Aardvak juga dikenal sebagai ‘Ant Eater‘ karena hobinya mencari sarang semut atau pokok kayu kering yang dihuni kawanan semut, dan lidahnya yang panjang (sering lebih panjang dari panjang tubuhnya) langsung menyusup ke celah-celah lubang, menangkapi semut hidup sebagai makanan utamanya. Hobinya menjulur-julurkan lidah ke tanah, membuat masyarakat aseli Afrika Selatan juga menyebut Aardvak sebagai ‘Babi Tanah’.

Mamalia pemakan semut yang umum dikenal masyarakat Indonesia adalah trenggiling atau pangolin, yang di tatar Sunda (termasuk kawasan yang kini jadi Provinsi Banten) juga disebut sebagai peusing atau pesing. Bahkan di kawasan administrasi Kota Jakarta ada daerah bernama toponimi Pesing.

Sementara armadillo, yang juga berkulit tubuh mirip.sisik, nyaris identik sebagai satwa benua Amerika. Konon amardillo juga hidup di kawasan Kepulauan Nusantara. Tapi sependek langkah saya blusukan ke daerah-daerah pedalaman Indonesia, belum pernah saya dengar kisah temuan amardillo di bentang tanah Kepulauan Indonesia.

Siapa mengira bila aardvak ternyata juga hidup dibagian lain di Indonesia. Paling tidak, fakta itu terekam jelas dalam video singkat yang dikirim Joke (aktivis JAAN) ke Pudentia, dan lantas di-share ke WA Grup

Aardvak juga nyaris identik sebagai satwa liar Afrika, dan Australia. Dibanding trenggiling, aardvak nyaris tak dikenal di Indonesia. Tapi tahin 1985, saya sempat melihat seekor aardvak di Taman Nasional Wasur di pinggir Kota Merauke (kini) Papua Selatan. Aardvak tersebut sedang asyiiik menikmati semut di sebuah musamus (sarang semut yang menjulang tinggi, hingga mencapai meter) yang memang menjadisatu dari beberapa ikon kota Merauke. Beberapa petugas BKSDA TN Wasur  memyebut, “Itu pemakan semut, satwa umum di sini, Bapa…!”

Siapa mengira bila aardvak ternyata juga hidup dibagian lain di Indonesia. Paling tidak, fakta itu terekam jelas dalam video singkat yang dikirim Joke (aktivis JAAN) ke Pudentia, dan lantas di-share ke WA Grup dimana kami jadi bagian dari anggotanya. Aardvak besar, sehat dan liar.

Di kawasan pedalaman Indonesia, satwa liar memang sering kali   mendadak muncul begitu saja dari balik rimbun pohonan, dan kepergok orang seorang sedang beraktivitas di lintasan sebuah jalan tanah ataupun aspal. Bahkan di sebuah ruas jalan tol di Sumatera, saya pernah memergoki kawanan gajah, dan pada kesempatan lain seekor harimau. Bagi seseorang yang peka, moment ini amat menarik buat diabadikan sebagai nadian dari bukti cerita nantinya.

Demikian halnya dengan video aardbak di atas, dipergoki dan (rasanya) direkam dari kabin sebuah mobil yang sedang melintas di jalan tanah di kawasan Rantau Pulut  yang merupakan Ibukota Kecamatan Seruyan Tengah, Kabupaten Seruyan (83 Km2), Provinsi Kalimantan Tengah. Sekali lagi, sebuah karya video yang sangat berhaga buat diarsip dan disebarluaskan, ihwal fakta keberadaan satwa langka aardvak di habitat ex-situ di Kalimantan Tengah, Indonesia. *

Salam lestari.

06/03/2023 PK 12:18 WIB.

Avatar photo

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.