Printing Money, Prosesnya Begini

Printing Money seperti apa ?

Uang dicetak oleh sebuah pemerintahan yang sah, lalu dipastikan beredar ke bank, masuk ke perusahaan, beredar di rakyat, dan kembali ke pemerintahan lagi. Mekanisme distribusi uang cetak (fiat), selalu begitu. (Foto: thesynergist)

Banyak orang bicara politik menggunakan narasi ekonomi. “Apa susahnya menggerakkan ekonomi. Kebutuhan dana untuk pemerintah dan dunia usaha, bisa didapat dengan cara mencetak uang (printing money). Jangan bodoh dan mau dibodohi dengan cara berhutang. Bila perlu, bayar utang dengan cara mencetak uang.” Kira-kira begitu kata mereka. Saya tidak tahu pengetahuan mereka soal ekonomi dan moneter. Tetapi, karena mereka bicara dalam konteks politik menyerang pemerintah, jelas yang senang dan percaya adalah pihak yang memang anti pemerintah.

Kalau AS dijadikan acuan sebagai negara pencetak uang lewat Quantitative Easing ( QE), itu sama seperti orang buta menyebut bentuk gajah. Mengapa?

Sejak AS keluar dari gold standard dan masuk ke sistem uang fiat, AS tidak pernah mencetak uang. Mereka menciptakan sistem moneter yang memastikan distribusi uang itu dari pemerintah ke bank, kemudian ke rumah tangga perusahaan, terus ke rakyat, dan kembali lagi ke pemerintah. Karena sistemnya sudah solid, mata uang AS sangat dipercaya dunia.

Yang namanya sistem pasti ada saja error-nya. Apa penyebabnya?

Umumnya, uang begitu banyak diserap dunia usaha dalam bentuk kredit. Tetapi, uang itu menumpuk di sektor finansial (instrumen investasi). Sementara itu, sektor produksi kurang. Padahal, sektor produksi menyerap angkatan kerja. Penting untuk kesejahteraan rakyat. Artinya, terjadi ketidakseimbangan. Lantas apa solusinya? Mudah.

Caranya? Kalau uang berlebih, ya The Fed naikkan suku bunga acuan. Otomatis instrumen investasi publik (saham dan obligasi) akan pindah ke surat utang negara. Uang ini akan jadi cadangan bank sentral.

Setelah keadaan seimbang lagi, The Fed akan menurunkan suku bunga. Berharap dengan turun suku bunga, penyaluran kredit bisa lancar lagi. Ekonomoi bergerak lagi.

Bagaimana kalau ternyata dengan penurunan suku bunga terendah, tetap saja kredit tidak tersalurkan, ekonomi tetap tidak tumbuh? Saat inilah program QE bisa diterapkan. Dan, setelah itu akan dilanjutkan dengan tapering. Caranya?

Pemerintah terbitkan surat utang. Yang beli bank central sendiri. Inilah QE. Oleh bank sentral uang itu dipompa ke perbankan. Berbunga murah lewat pembelian surat utang korporat atau debitur bank.

Apa yang terjadi? MO (uang cash) berpindah ke perbankan, namun M1-2-3 ( intrument financial ) masuk ke cadangan bank sentral. Sebagai catatan, dalam sistem uang fiat, uang itu bukan hanya uang kontan tetapi juga termasuk instrumen finansial.

Nah, kalau ekonomi sudah stabil lagi, maka Bank Sentral akan lakukan tapering atau mengurangi cadangan instrument financial lewat kenaikan suku bunga . Maka akan berangsur-angsur uang kontan akan mengalir ke bank central. Balance kan.

Jadi salah besar kalau QE itu seni cetak uang atas dasar politik. Atau semau politisi, demi kebutuhan anggaran atau bayar utang. Salah!

Defisit APBN AS tidak bersumber dari QE, tapi dari utang (T-Bill). QE itu sendiri tak lebih dari permainan akuntasi debit kredit. Itu hanya seni mempengaruhi psikologi pasar. Tidak serius amat.

Mengapa? Karena, pada akhirnya debit kredit itu harus nol atau balance. Atau QE hanya sarana menukar aset. Ingat! Bukan tukar dengan angin atau dengan proyek yang masih dalam rencana. Tetapi sesuatu yang sudah eksis atau established.

Masih belum paham?

Saya analogikan sederhana. Pernah lihat air mancur di tengah kolam? Debit air yang keluar dari adanya air mancur itu, dengan debit yang masuk ke dalam kolam, volumenya sama. Artinyatidak ada penambahan dan pengurangan air dalam kolam itu. Yang ada hanya perpindahan air dari kolam ke air mancur. Paham, ya?

LAINNYA

Hukum Ketetapan Tuhan

Koalisi Kripto untuk Melawan Manipulasi Pasar 

Hidup itu Ibarat Api Semangat, Kita adalah Sumber Berkat

About Erizeli Jely Bandaro

Penulis, Pengusaha dan Konsultan