Christo

Seide.id -Beberapa waktu lalu, ada peristiwa lucu. Patung ditutup terpal plastik berwarna biru. Atau lebih tepatnya: dikrukubi. Istilah bahasa Jawa, dikrukubi, lebih tepat daripada ditutup. Karena ditutup lebih tepat untuk pintu atau buku. Bendanya masih terlihat. Tapi dikrukubi, memang supaya benda yang dikrukubi jadi tak terlihat. Bahasa Indonesia untuk dikrukubi, mungkin: diselimuti.

Peristiwa pengkrukuban itu, mengingatkanku akan 2 hal. 1.Rumahku dan 2.Christo.

Mari kita mulai dari rumahku. Suatu ketika, wuwungan rumahku, balok utama atau kita sering menyebut krepusan di atap rumahku, ‘tanpa sengaja’ aku ketahui dilahap rayap. Aku mengetahuinya karena ada bubuk-bubuk yang sekelebat mirip debu, ternyata bubuk kayu dan telur-telur(?) mati rayap. Lalu aku ‘ogrok-ogrok’ bilah kayu tepat di bawah debu itu dengan gagang sapu,… lalu,… jreeeng,… beberapa kayu yang sekelebat nampak ‘baik-baik saja’,… ternyata di dalamnya kropos, kosong, diuntal rayap. Tinggal kulitnya saja yang rapuh,… bisa diremet seperti rempeyek. Untung wuwungan rumah dan genteng-gentengnya gak ambrol.

Maka aku panggil tukang untuk mengganti kayu-kayu itu. Saat itu musim penghujan. Sehingga jika hujan turun, supaya air tak masuk rumah (bukan lagi bocor, tapi tumpah), maka wuwungan rumah ditutup, dikrukubi dengan terpal plastik berwarna biru.

“Ini jelas rayap, pak” kata tukang kayu itu.
“Ya jelas rayaplaaah, mosok jangkrik atau ayam”. Tapi itu cuma dalam hati saja, takut dia tersinggung atau tak menangkao gurauanku. Aku cuma tersenyum saja. Tapi justru dia yang seperti menangkap senyumku.
“Maksud saya,…ada rayap,…tapi juga ada rengas pak”.
“Rengas?”.
“Iya, pak. Rayap bebeda dengan rengas. Rayap makanannya memang kayu. Jadi, kayu habis dimakannya. Kalau rengas, hanya bersarang saja di kayu, tapi makanannya bukan kayu” Waah, sungguh pengetahuan baru bagiku.

Ilustrasi: Karikatur Christo aku orat-oret dengan media pensil dan akrilik di atas karton Manila, berukuran sekitar 40x40cm. Juga karya-Christo di berbagai negara…

tempohari ketika peristiwa lunyu, eh lucu itu terjadi. Banyak komentar di medsos. Menjadi polemik. Si ini berkomentar begitu. Si itu berkomentar begini. Aku bilang: “Peristiwa itu mengingatkanku kepada Christo”. Eh seorang teman bertanya. Siapa Christo itu? Aku bilang saja secara singkat. Untuk detailnya, lihat saja di fb,… tulisanku 4-5 tahun lalu. “Busyet” katanya. Jauh banget scroll-nyaaa. Baiklah, aku blanyongkan lagi. Siapa tahu temanku membaca. Siapa tahu juga dunsanak yang belum sempat membaca dan mengetahui tentang seniman eksentrik itu tertarik.

Karya Christo

Christo, dalam istilah dialeg Jawa, ibarat: “Wong edhyan keturutan”. Karya-karya Christo, tak bisa dinikmati atau sekadar dilihat dari jarak dekat, 1-2 meter saja, atau bahkan 5 meter. Yak, sebab karya-karya yang membuatnya dibicarakan dunia, baru asyik dilihat dari suatu ketinggian tertentu, dari suatu jarak tertentu atau dari helikopter. Sebab karya-karyanya sebagian besar, yaitu tadi, menurut istilah Jawa,… mengkrukubi bangunan-bangunan yang (menurutnya) artistik. Tapi, dari suatu jarak tertentu, bangunan-bangunan yang dikrukubi kain atau bahan parasut (?) itu memang nampak artistik, mewah,indah dan magis.

Christo lahir di Gbrovo, Bulgaria dari pasangan pencinta linkungan. Seperti calon seniman-seniman lain ia bersekolah di sebuah sekolah seni. Christo muda, tergila-gila kepada lingkungan hidup yang alamiah dan asri. ‘Kegilaannya’ sudah rerlihat sejak muda. Christo, mulai membungkus benda-benda kecil disekitarnya seperti seperangkat meja-kursi, dan perabotan rumah-tangga sebagai karya seni awalnya.

Isrinya yang juga seniman bernama: Jean Claude Denat de Guillebon adalah wanita berdarah Prancis dan Maroko. Jean juga banyak memberi gagasan untuk ‘pengkrukuban’ itu. Tapi mereka sepakat bahwa nama Christo saja yang digunakan sebagai ‘trade-mark’.

Ketika mereka sudah mulai dibicarakan sebagai seniman yang ‘spesialis mengkrukubi’ benda-benda, tentu saja banyak sponsor yang ‘menantangnya’ untuk mengkrukub tak sekadar benda-benda kecil di sekitar, tapi, bangunan-bangunan dan bahkan… pulau.

Gedung-gedung teletak di Eropa yang dipilihnya untuk dikrukubi kain, antara lain yang menyebabkan karyanya dibicarakan. Ketika dia mengkrukubi Notre Dame di Paris, Prancis, aku bertanya-tanya, …kenapa Christo tak melakukannya kepada menara Eiffel, bangunan yang menjadi icon kota Paris atau bahkan icon negara Prancis. Bukankah menara Eiffel jauh kebih artistik seandainya dikrukubi kain? Ah, mungkin karena tantangan mengkrukubi menara Eiffel terlalu tinggi dan sulit, atau ‘dilarang’ oleh anak keturunan Gustav Eiffel, sang perancang menara.

Karya-karya Christo selalu kolosal. Selain mengkrukubi bangunan-bangunan dan jembatan-jembatan terkenal, dia juga membuat karya seni lain di berbagai belahan dunia. Dia menancapkan atau memasang payung-payung berwarna kuning di sebuah pulau di jepang. Jika karya itu dibuat di sini, dan dilihat dari jarak dekat, pasti kita menduga… ah, paling-paling itu adalah pertanda dari suatu partai tertentu sedang mengadakan kongres atau munas. Tapi jika dilihat dari suatu jarak dan ketinggian tertentu, karya itu unik. Payung berwarna kuning sejauh puluhan kilometer, di sebuah pulau berwarna kehijauan, ditengah laut yang berwarna biru.

Karya Christo

Ada juga, sebuah pulau di Inggris dikrukubi kain berwarna pink. Peristiwa ketika pulau itu dikrukubi oleh ratusan atau ribuan orang, menjadi sesuatu yang dramatis. Kalau tak salah menjadi iklan untuk sebuah maskapai penerbangan di Inggris. Lalu, ada juga ribuan panel berwarna oranye yang sejauh puluhan kilometer dipasang di sebuah pantai. Juga bentangan kain berwarna lagi-lagi oranye (entah kenapa, mungkin karena kontras) di pasang di Rocky Mountain Colorado.

Pada tahun ’80an, karya-karya Christo itu dibicarakan (seniman-seniman) dunia. Tak ketinggalan Indonesia.

Aku pernah menghadiri sebuah diskusi dengan tema yang mengupas karya-karya Christo. Diskusi itu dihadiri oleh pelukis, pematung, seniman instalasi bahkan seniman-seniman di luar seni rupa dan bahkan arkitek dan akademisi. Gayeng sekali diskusi itu. Semua seniman mengemukakan pendapatnya. Waktu itu, seingatku, seniman yang memuji-muji karya itu diwakili oleh WS Rendra. Dari kalangan akademisi diwajiki oleh Arief Budiman yang terkenal: lugas, agak kocak, tajam, dan nyelekit. Bahkan bisa sinis. Arief bilang: “Saya mewakili orang awam sajalaaah”.

Di tengah-tengah puja-puji seniman tentang karya-karya Christo yang kolosal itu, Arief Budiman nyeletuk: “Mengapa Christo jadi demikian terkenal? Karena bangunan-bangunan yang dibungkus oleh Christo itu adalah bangunan-bangunan terkenal. Gedung Kanselir Jerman, Notre Dame,…dll. Coba yang dibungkus itu rumahku atau rumah kontrakannya kang Darmin tetanggaku, pasti gak ada yang membicarakan. Bagiku, karya Christo itu adalah… bangunan yang dibungkus kain saja. Tak kurang tak lebih. Jika ada hal yang positif, adalah: Christo selalu menciptakan lapangan kerja untuk ratusan bahkan ribuan orang seniman di sekitarnya, untuk mengerjakan proyeknya..”

(Aries Tanjung)

Kampanye, Promosi, Reklame, Iklan, Dan Lain-Lain