ME Time, Alone Time, Kesendirian yang Direncanakan

ME Time, Alone Time, Kesendirian yang Direncanakan

Pertanyaan penting, moment apa sih sebagai seorang dewasa, apalagi sebagai ibu, kita perlu ME time ?

Sebuah pesan saya cetuskan kepada seorang ibu hamil trimester terakhir.

‘Hei, banyak-banyak berdua dengan suamimu, sana. Mau makan, nonton, window shopping, apapun itu. Karena begitu sudah brojol, situasinya berbeda.”

Pesan ini kalau saya upload di media sosial bisa membuka peluang serangan netizen.

‘Sender pendukung childfree nih!’

‘Udah nikah, hamil, ya nti repot sama anak itu wajar!’

Ah, nggak mau overthinking saya. Biarlah mereka berasumsi maupun berprasangka apapun tentang pernyataan tersebut.

Alone Time

Ada quote yang bilang, jika kamu bisa makan di tempat umum atau nonton sendiri di bioskop, segala masalah hidup bakal bisa kamu selesaikan.

Namun, ini bukan tentang masalah. Apalagi masalah hidup.

Bagi saya, sendirian itu nge-charge diri, saatnya merenung dan refleksi diri. Ternyata ilmuwan di luar Indonesia, pernah meriset tentang hal ini.

Stacey L. Nash menulis perihal Alone Time di laman PsychCentral, berdasar rekomendasi medis dari Lori Lawrenz, Psy D.

Menghabiskan waktu sendiri adalah kesempatan yang baik untuk refleksi dan penemuan diri, juga meremajakan diri dengan menyeimbangkan emosi, dan membuat seluruh tubuh menjadi rileks. Manfaatnya tak hanya untuk kesehatan sendiri, tetapi juga untuk mengevaluasi hubungan dengan orang lain.

Ketika kita sendirian, tak ada tekanan sosial atau lingkungan untuk memenuhi harapan orang lain. Kita bisa berpakaian apa saja tanpa cemas dikomentari, bisa makan dengan porsi apa maupun lamanya makan sekehendak hati. Tak diburu-buru waktu harus ke tempat lain.

Waktu sendirian mendorong kita untuk lebih mandiri, berani melakukan segala sesuatu sendiri, dan belajar menikmatinya. Sebuah riset tahun 2019 menemukan ketika seseorang melakukan hal yang tidak terstruktur seperti tidak untuk memenuhi tanggung hawab tertentu, saat itulah seseorang melakukan refleksi diri.

Mendengarkan kata hati dengan lebih intens, dan merasai atau istilah sekarang meregulasi perasaan apapun tanpa terdistraksi suara pasangan, tangis anak-anak, maupun panggilan dari pimpinan di kantor.

Kita jadi punya waktu untuk menganalisa hal yang mengganggu perasaan, yang selama ini kita tunda karena memprioritaskan rutinitas atau tanggung jawab. Walau kita tahu, tindakan pengabaian akan perasaan atau ganjalan dalam hati, malah akan membawa hal tersebut ke muara permasalahan yang lebih besar.

Kembali ke Nol

Bagi saya sendiri, masalah seolah memungkinkan diselesaikan, karena kondisi fisik dan mental posisi awal lagi. Tidak marah, tidak sedih, atau sedang banyak pikiran. Kita menjadi sadar, bila sehari-hari mampu mengelabuhi orang lain dengan terlihat seperti tidak terjadi apa-apa, tetapi tubuh sesungguhnya tak bisa berbohong saat mental sedang terusik.

Momen apa sih, sebagai orang dewasa, apalagi sebagai Ibu, kita perlu sendirian?

Sebelum pembahasan para ahli, saya sendiri mau jujur mengakui. Bagi saya momen ini ketika perlu fokus, di mana waktu singkat tetapi banyak yang harus dipenuhi tanggung jawabnya, serta ketika jujur sedang tidak ingin ada kehadiran orang lain yang saya kenal dekat.

Pengalaman minggu lalu ketika saya solo travelling ke Jogja dalam rangka memfasilitasi sebuah pelatihan, usai acara saya sengaja menyewa kamar penginapan, meski ada teman yang menawarkan tumpangan. Sebab saya tahu, bila bersama teman, obrolan kami tidak akan selesai sampai pagi menjelang. Padahal saya perlu nge-charge diri sebelum esoknya kembali ke rumah dengan rutinitas yang akan saya hadapi.

Karenanya saya nginap sendiri, pergi ke spa sendiri, serta menikmati makanan kesukaan sendiri. Dengan kata lain menyesap semua peristiwa sendiri saja.

Entah apa asumsi orang, tetapi sahabat baik saya bilang. “Ya, dengan ‘rutinitasmu’ nanti, ngurus anak, ibu, dan urusan rumah tangga sekembalinya dari Jogja, memang kamu perlu istirahat yang cukup. Ga apa-apa, anggap aja rehat!”

Ternyata para ahli mendukung keputusan saya tersebut. Kata mereka, berkegiatan sendirian itu perlu, bila kita mulai merasai pengalaman seperti hal-hal berikut.  

1. Sedang fase mudah terpantik emosinya dan sangat sensitif terhadap perilaku orang di sekitar.

2. Merasa lelah berlebihan, walau sudah cukup tidur, makan, dll.

3. Sedang fase apapun tak lucu dan tak ada hal yang tampak menyenangkan.

4. Terburu-buru, padat jadwal kesehariannya dari satu acara ke acara lain.

5. Merasa ada tuntutan yang perlu dipenuhi dan merasa tertekan karenanya. Perasaan tertekan itu tak hilang-hilang meski sudah berusaha menghibur atau mengistirahatkan pikiran.

Terbayang, bila dalam situasi tersebut ada yang malah curhat ke kita, ada yang mengajak ngobrol hal-hal yang tak hendak kita obrolkan, atau membuat situasi bising dan menganggu. Bukankah otomatis emosi jadi terpantik.

Sendirian yang Bagaimana

Lalu, apakah staycation atau traveling sendiri satu-satunya cara untuk mengalami sendirian? Tidak juga, bahkan hal-hal sehari yang bisa dilakukan sendirian dan membuat kita tenang, termasuk di dalamnya.

Intinya aktivitas tersebut, berpotensi membuat pikiran, perasaan dan tubuh kita lebih tenang

• Membaca buku kesukaan (bukan e-book ya)

• Beli kopi kesukaan, lalu duduk sendirian memperhatikan sekitar

• Meditasi

• Melakukan hobi

• Jalan kaki di sekitar rumah atau taman

• Duduk melamun di warung pinggir sawah, atau di tepi pantai

• Mendaki gunung

• Duduk di tempat yang sepi dan mendengarkan musik

• Menyelesaikan pekerjaan domestik yang tertunda, seperti menyikat kamar mandi, membereskan isi lemari

• Melakukan jurnalling

• Berenang sendiri

• Leyeh-leyeh di tempat tanpa sinyal internet

Katanya sih, melakukan hal-hal yang tak tergantung televisi, internet, koran atau buku, limabelas menit saja setiap hari, tanpa keharusan, kewajiban, atau keterpaksaan melakukan sesuatu yang sudah terstruktur; mampu menyeimbangkan naik turunnya emosi manusia.

Dari beberapa hal dalam daftar di atas, yang manakah pilihan Anda? Kalau saya, ketika sedang ingin diam, atau malah sedang kesal, menyikat kamar mandi sampai cling kilaunya sungguh membuat saya merasakan kelegaan.

Lalu, apakah bila sudah berkeluarga, ada suami atau istri juga anak, waktu sendirian ini tetap penting?

Menurut saya dan berdasar pengalaman saya tetap penting. Ketika 2019 saya menyadari kebutuhan ME time karena mental saya down saat membersamai mengasuh didik putra sulung saya yang autis, dan merasa tak ada satu pun orang yang memahami saya.

Dulu saya merasa ‘berdosa’ bila pergi sendirian. Merasa bersalah meninggalkan anak dan keluarga, meski beberapa waktu saja. Lalu, saya sadar bahwa beban yang saya rasakan makin berat, mental dan semangat saya makin ‘down’ dan puncaknya saya kena serangan panik di tempat umum.

Kondisi semacam itu sungguh tidak sehat, baik bagi diri saya sendiri, juga suami dan anak-anak.

Akhirnya kebutuhan akan sendirian, ME time atau Alone Time, apapun nama dan bentuknya. menjadi sesuatu yang perlu saya lakoni. Tentu saja tidak harus setiap hari dan tidak perlu saya jadwalkan. Panduan di atas yang telah saya tuliskan, boleh dipergunakan sebagai acuan.

Faktanya, setiap usai sendirian itu saya merasa lebih tenang, pikiran lebih jernih, dan emosi menjadi lebih stabil.

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengajak pembaca berpikir. Bila tak ada manfaatnya mengomentari seseorang yang sedang sendirian di tempat umum, ya sebaiknya tak dilakukan. Ya, mungkin memang dia (beneran) kesepian atau sebaliknya malah sedang nge-charge dan self reflection.

Lagian kalau memang dia sedang kesepian, apa kita bersedia meluangkan waktu untuk menemani dan mendengarkan yang hendak diceritakannya?

Slow Living, Slow Down, dan Slow Parenting dalam Kehidupan yang Cepat

Dia yang Memilih Mati Sebelum Perang Dimulai

Refleksi Hari Perdamaian Internasional : Ingatlah Kapan Perlu Berdamai, Kapan Harus Melawan atau Abaikan Saja

Matinya Dolar Amerika

Avatar photo

About Ivy Sudjana

Blogger, Penulis, Pedagog, mantan Guru BK dan fasilitator Kesehatan dan Reproduksi, Lulusan IKIP Jakarta Program Bimbingan Konseling, Penerima Penghargaan acara Depdikbud Cerdas Berkarakter, tinggal di Yogyakarta