Seide.id – Setiap band, baik yang sedang merintis karir, atau yang sudah terkenal sekalipun, pasti pernah membawakan lagu karya band lain.
Baik yang sedang merintis ataupun yang sudah terkenal itu, biasanya membawakan lagu yang menjadi idolanya. Tak mungkin rasanya sebuah band membawakan lagu-lagu yang bukan idolanya. Kecuali band itu memang ‘sadar’ bahwa mereka ‘hanya’ bisa bermain (di cafe-cafe) saja misalnya, bukan mencipta. Maka, boleng dibilang mereka akan selalu membawakan lagu-lagu orang lain. Bermain musik, (karena banyak sekali band yang mencari nafkah dalam membawakan karya orang lain, sebagai ‘jalan hidup’, sebelum atau daripada ‘pindah’ ke-profesi lain yang belum tentu dimengerti, diketahui, membawa rezeki, didalami dan harus memulai dari awal.
Karya-karya band lain yang dibawakan itu, tentu sangat beragam motivasinya. Ada yang mengidentikkan band mereka dengan band tertentu. Hanya membawakan di konser-konser, ‘menghormati’ band tertentu karena sangat menginspirasi, memberi pengaruh kuat dan memompa semangat dalam berkarya.
Tak jarang, band atau penyanyi ketika membawakan lagu karya band idolanya, malah bisa lebih baik bahkan kembali menjadi hit. Bahkan, mungkin penggemarnya malah tak mengira jika lagu yang dinyanyikan itu adalah karya band lain.
Hampir setiap band pada tahun ’70an pernah membawakan lagu karya The Beatles. Aku contohkan seingatku bebrapa saja, dan ‘jangan menuntut’ akan runut urut-urutan tahunnya.. Band U2 membawakan “Helter Skelter”. Carpenters membawakan “Mr. Postman”. Toto membawakan “While my guitar gently weeps”, George Benson membawakan “I want you”, Eddy Veder membawakan “You’ve got to hide your love away”, Joe Cocker membawakan “With a little help from my friend”, dll.
Di luar The Beatles, band atau penyanyi yang membawakan karya band lain yang juga menjadi hit, bahkan penggemarnya tak tahu jika itu bukan lagu ciptaannya, juga banyak.
Ketika mencari chord atau kunci nada lagu “First cut is the deepest” yang pada awalnya aku kira lagunya Rod Stewart, ternyata salah. Chord itu ada, diberikan, …tapi dengan catatan dan yang memberi chord di mesin pencari itu, agak sebel kayaknya. Aku menduga banyak sekali orang yang mencari chord itu. Catatannya begini: “Lagu First cut is the deepest” ini bukan ciptaan Rod Stewart, tapi Cat Stevens!”,… (lengkap dengan tanda seru,… mungkin ditambah kata makian dalam hati:… begooo!). Mungkin karena memiliki vocal unik dan khas, Rod Stewart memang cukup banyak membawakan lagu orang lain, lalu nenjadi hit, dan penggemarnya tak mengira bahwa lagu itu bukan lagunya.
Selain “The first cut is the deepest” yang menyebabkan aku diomeli mesin pencari tadi, ada beberapa lagi. “I rather go blind” yang dipopulerkan dan diciptakan oleh Etta James dan musisi lain (aku lupa). “Have you ever seen the rain” karya CCR (Creedance Clear water Revival). Lagu indah yang sangat populer karena dibawakan dengan elok dan pas oleh Rita Cooledge dan menjadi hit dunia, berjudul: “We’re all alone” ternyata karya Boz Scaggs. Dan ternyata versi Boz Scaggs juga tak kalah asyik.
Lagu karya Cat Stevens yang juga menjadi hit dunia dan penggemarnya tak tahu, kalau itu bukan lagu ciptaannya adalah: “Wild World”, dibawakan oleh Mr. Big. Guns and Roses, band rock yang cukup gahar ketika dipanggung itu pun, jika sedang ‘menye-menye’ juga membawakan lagu (istilah anak milenial) galau. Dan jadi hit, yaitu: “Since I don’t have you” karya Art Garfunkel. Adam Lavine vocalis Maroon Five itu sangat mengidolakan The Beatles dan Elton John. Pasti lagu-lagu band idolanya itu pernah dibawakannya ketika dia dan bandnya mengadakan konser, atau bahkan disisipkan dalam salah-satu albumnya.
Aerosmith dengan vocalis Steven Tyler, yg pada akhir ’80an atau awal ’90an pernah dijuluki ‘salah-satu band berisik’ di Amerika, pada awalnya, sebelum terkenal dan ‘menjadi diri sendiri’ adalah band yang kerap membawakan lagu-lagu Rolling Stone. Mungkin karena Steven Tyler itu, …bibir ndower-nya mirip Jagger. Lalu, seperti kita tahu, Aerosmith menjadi salah-satu band rock terkenal. Terus-terang, aku tahu Aerosmith karena beberapa hit-nya saja. Selebihnya aku kurang mengikuti. Baru sedikit agak intens, setelah Steven Tyler menjadi salah-satu juri di American Idol, bersama Jennifer Lopez dan Keith Urban.
Bagaimana dengan musisi kita? Sebelum blanyongan lebih lanjut, ada ilustrasi lucu, begini.
Aku pernah menonton suatu acara musik rock di arena yang tak terlalu besar (kalau tak salah di arena teater terbuka TIM). Salah-satu penampilnya adalah penyanyi bersuara serak yang kerap diidentikkan (atau mengidentikkan diri sendiri(?) dengan Rod Stewart. Mungkin karena suara seraknya.
Sebelum menyanyi, dia berusaha berkomunikasi terlebih dulu dengan penonton. Basa-basi standar saja. Seperti: halo apa kabar? Senang bisa ikut berkumpul dan diberi kesempatan menyanyi di acara ini oleh panitia. Terimakasih kepada penonton yang sudah datang dan atusias. ‘Pidato’ sebelum menyanyinya, ditutup dengan mengajak penonton meneriakkan yel-yel:… “Hidup musik rock indonesia!”,… katanya sambil mengepalkan tangan meninju udara… (wuiiih, jika ada politisi yang jadi petinggi negri, pasti ditawarkan jadi caleg).
Setelah itu, dia membawakan lagu Indonesia?, bukan,… tapi lagu Rod Stewart: “Sailing”. Aku dan beberapa orang spontan tertawa. Tapi aku tertawa paling keras. Sebagian besar orang yang tak tertawa ada yg melirik dan bahkan terang-terangan menoleh kepadaku, dengan ekspresi bertanya-tanya: “Apa yang lucu?!”.
Beberapa musisi kita, selain “Rod Stewart” itu, tentu banyak yang awalnya atau setelah terkenal pun membawakan lagu karya band lain.
Godbless kerap membawakan lagu band Kansas dan James Gang. Dalam suatu obrolan santai ketika Ahmad Albar, Ian Antono dan Donny Fatah menyambangi kantor seorang teman, Iyek (panggilan akrab Ahmad Albar) ‘ditodong’ untuk menyanyikan salah-satu lagu idolanya. Kebetulan di kantor sedang (dan selalu kayaknya) ada gitar. Iyek lalu membawakan: “Getting Old” dengan spontan dan asyik dan pas banget. Mungkin karena lagu itu memang salah-satu lagu idola dari band idolanya dan juga karena Iyek memang… sudah getting old, hehehe.
Band-band yang membawakan lagu The Beatles? Wuiih, tentu banyak di seluruh dunia. Seperti juga Beatles banyak membawakan lagu band atau musisi lain. “Long tall Sally” ciptaan Little Richard itu salah-satunya. Lagu Little Richard cukup banyak juga dibawakan oleh musisi lain. Maka dalam suatu acara pergelaran Grammy (untuk Michael Jackson kalau tak salah), Little Richad bergurau kepada watawan:
“And the Grammy goes toooo …me!. Yeah,…me. Karena lagu-lagu ciptaanku banyak Dibawakan oleh penyanyi lain,…hahaha”.
Di Indonesia ada “Barata”, “Mat Beatles”, “Abadi Soesman Band”, dll. Oya,…jadi teringat Mira Soesman, jika membawakan lagu-lagu Carpenters dan ABBA pun, asyik. Once, sebelum terkenal pun, menyanyi di cafe bersama band Second Born(?) membawakan lagu-lagu The Police dan Lagu-lagu Sting.
Arthur Kaunang, asyik banget jika membawakan lagu Grand Funk Railroad. The Rollies, asyiik jika membawakan lagu-lagu Chicago. Gang Pegangsaan pas baget jika membawakan lagu-lagu Genesis era (ketika vocalis utamanya) Peter Gabriel dan BST (Blood Sweat and Tears). Band Cockpit asyik membawakan Genesis di era ketika vocalis utamanya Phil Collins.
Bandung, pada suatu era, pernah remajanya tergila-gila, dan rata-rata ‘home band’ cafe membawakan lagu-lagu Rolling Stone. Grass Rock pernah mengkhususkan diri membawakan lagu-lagu Yes. Ini termasuk ‘berani’. Karena membutuhkan penyanyi yg memiliki vocal yg khas dan skill bermain musik yang ‘tak main-main’.
Lalu,…bagaimana dengan Led Zeppelin?
Wah,…aku cuma mendengar satu band saja yang ‘berani’ dan asyik membawakannya, yaitu Elpamas dengan vocalis Doddy Katamsi.
(Aries Tanjung)
Suzanna, Sang Magma






