Lonte

Seide.id – Saat aku masih kanak-kanak dan tinggal di desa nun jauh dari Semarang, mempunyai tetangga yang kerap bertengkar. Dan mereka sering mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Terutama sang suami yang badannya tinggi besar kerap mengeluarkan kata kasar yang menjadi judul tulisan ini, kepada istrinya.

Karena mereka berteriak, kami pun kadang mendengarnya.
Belakangan teman-teman sebaya, yang kerap main di dekat rumah, ada yang ketularan menyampaikan kata itu. Saat mendengar itu, Ibuku langsung menarikku dan berbisik pelan, “Kamu jangan tiru-tiru ngomong seperti itu ya… tidak baik. Kalau sekali Ibu tahu kamu bicara itu, Ibu akan tampar!”
Wadhuh, ya takutlah aku!

Sejak saat itu, kata itu –meskipun tahu artinya- tak pernah kupakai dalam bicara maupun tulisan.

Karena sempat viral sajalah, saat ini aku memberanikan diri menulis tentang ini.

*

Kata Lonte (selanjutnya L) berasal dari bahasa Jawa (penulisannya yang tepat Lonthe). Kata ini sangat kasar, sangat tidak pantas diucapkan, bahkan sekalipun itu dalam hujatan.

Dokumentasi Setio Boedi

Kamus Besar Bahasa Indonesia memaknai kata L dengan: perempuan jalang, wanita tuna susila, pelacur, sundal. Di masing-masing daerah mempunyai sebutan-sebutan khas sendiri dalam bahasa daerah mereka masing-masing.

Mengapa orang-orang yang merasa dirinya “suci”, menjadikan kata ini sebagai ungkapan puncak amarah dan hujatan?

Ada makna terselubung dari hujatan tersebut. Ini bukan semata-mata bahwa L (dan sebutan-sebutan lainnya) itu profesinya sebagai penjual jasa aktivitas seksual, bukan hanya itu! Tapi dengan pelabelan tersebut, sebenarnya dia hendak mengajak khalayak tahu bahwa orang yang dia (mereka) sebut sebagai L, mempunyai karakter yang buruk. Antara lain: karakternya menghalalkan segala cara untuk memperoleh uang, ucapannya tidak bisa dipercaya bahkan jago berbohong, tidak tahu malu dan sebagainya. Orang yang mengucapkan kata ini, seakan mendorong orang yang dituju itu ke dalam jurang yang dalam.

*

Dengan kondisi media sosial seperti saat ini, kita tak bisa terlampau memproteksi anak-anak supaya tak tersentuh fenomena seperti sekarang ini. Tapi yang bisa kita lakukan adalah untuk tidak menjadikan kata L sebagai stock kosa kata kita untuk bahan materi ucapan.

Kalau mau jujur, siapa sih yang menjamin 100% bahwa di dalam darah kita tak ada sama sekali kontribusi kakek, nenek moyang kita jauh di atas sana yang pernah nakal dalam hidupnya? Sebaliknya, orang-orang yang mengatai orang lain seperti itu, apakah dia (mereka) menjamin anak cucunya nanti hidupnya tak mungkin kepleset di sana?

*

Menulis tentang L ini sesungguhnya sangat berat bagiku.
Teringat suara almarhumah Ibu, saat aku masih kanak-kanak, “Kalau sekali Ibu tahu kamu bicara itu, Ibu akan tampar!”

Tabik.
Setio Boedi

Avatar photo

About Setio Boedi

Penulis di beberapa media online dan khusus, Editor beberapa buku dan penerbitan, tinggal di Semarang.