“Pada hari ke-29 mogok makan, saya membuka mata dan saya tidak tahu apakah saya masih hidup atau sudah mati, di Bumi atau di surga. Saya trans. Rasanya aneh… dan itulah perasaan yang ingin saya tangkap dalam karya ini.” – Mehdi Rajabian.
MEHDI Rajabian menciptakan albumnya diam-diam, kemudian menghapus semua jejak rekaman dari rumahnya. Musisi dari negeri Mullah, Republik Islam Iran ini telah merasai hukuman penjara karena membuat musik.
Dia sudah pernah menghabiskan dua tahun di dalam bui – termasuk berhari-hari dalam ruang isolasi dan mogok makan – karena merilis lagu yang bertentangan dengan pemerintah Iran. Namun ia tidak menyerah.
“Saya tidak akan mundur dan saya tidak akan menyensor diri sendiri,” ujarnya kepada BBC News. Jadi, ia bekerja diam-diam dari rubanah rumahnya di Sari, Iran utara, untuk menciptakan album baru.
Bertajuk Coup of The Gods, album itu turut menampilkan orkestra Brasil, serta musisi dari Turki, Rusia, India, Argentina, dan dua penyanyi perempuan dari AS, Lizzy O’Very dan Aubrey Johnson.
Sebagian lagu itu, Coup of The Gods – ditampilkan di akun Instagram atas namanya juga di Youtube
Suara-suara ini memberi nyawa pada lagu-lagu Rajabian yang bercerita tentang patah hati dan perjuangan. Tetapi mereka juga membuat pernyataan politik yang berani – karena vokalis perempuan praktis dilarang di Iran.
Ketika Rajabian mengumumkan niatnya untuk bekerja dengan musisi perempuan tahun lalu, ia ditangkap dan diseret ke pengadilan, kemudian seorang hakim mengatakan ia telah “mendorong prostitusi”.
Setelah membayar jaminan, ia melanjutkan rekaman, meskipun dengan ancaman penjara.
Sekarang albumnya sudah selesai, “mereka bisa kembali menangkap saya,” katanya kepada BBC News. “Ini benar-benar tidak bisa diprediksi. Tapi saya tidak akan mundur.
“Konyol sekali, hari gini kita masih bicara tentang melarang musik, ” katanya.
Selanjutnya, Musik Bawah Tanah, Singgung Pemerintah dan Agama Negara




