Seide.id – Setiap 1 Desember, warga dunia memperingati Hari AIDS Sedunia. AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah kumpulan penyakit (sindrom) yang muncul akibat penurunan sistem kekebalan tubuh akibat HIV (Human Immunodeficiency Virus).
Saat berhasil masuk ke dalam tubuh, HIV akan menghancurkan sel-sel darah putih yang berperan sebagai sistem pertahanan tubuh terhadap infeksi.
Akibatnya, begitu terinfeksi virus ini, tubuh penderita tak lagi memiliki “tentara penjaga” yang melindunginya dari serangan musuh berupa penyakit.
Ketika sistem kekebalan tubuh seseorang sudah dilumpuhkan, semua penyakit dapat masuk ke dalam tubuh dengan mudah (infeksi oportunistik). Penyakit “ringan” dan tidak berbahaya pun bisa mengancam jiwa penderita.
Peringatan Hari AIDS Sedunia 2021 mengangkat tema “Akhiri ketimpangan. Akhiri AIDS”. Warga dunia diharapkan bisa meningkatkan kewaspadaan akan bahaya HIV AIDS sekaligus memastikan bahwa setiap orang, terutama kalangan marginal, memiliki akses yang sama untuk pencegahan, pengujian, pengobatan, serta perawatan penyakit ini.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga menyerukan para pemimpin negara dan warga dunia untuk bersatu menghadapi ketidaksetaraan terhadap akses ke layanan kesehatan bagi para ODHA (Orang dengan HIV/AIDS).
Peningkatan kesadaran banyak orang terhadap bahaya HIV/AIDS diharapkan dapat terus menekan jumlah kasus infeksi HIV. Ini penting mengingat 1 dari 5 ODHA tidak menyadari penularannya.
Selain 1 dari 3 orang yang menerima pengobatan HIV/AIDS mengalami hambatan pada penyediaan layanan pengobatan, tes, dan pencegahan HIV.
Masalah pelik
Meskipun dunia kesehatan telah mencatat berbagai kemajuan signifikan dalam beberapa dekade terakhir, HIV/AIDS masih tetap menjadi persoalan pelik di sejumlah negara.
Perpecahan, disparitas, dan pengabaian hak asasi manusia merupakan contoh kegagalan pemerintahan yang memungkinkan HIV/AIDS masih menjadi krisis kesehatan global.
Belum lagi, situasi pandemi Covid-19, yang memperburuk ketidakadilan dan keterbatasan akses layanan kesehatan pada ODHA. Mengapa? Karena COVID-19 membahayakan petugas kesehatan yang berdiri di garis depan dalam memberikan layanan HIV/AIDS berkualitas tinggi dan berkelanjutan kepada orang yang membutuhkannya.
Dalam situasi pandemi seperti sekarang, penderita AIDS termasuk kelompok masyarakat yang terdampak.
Salah satu persoalan yang dihadapi pasien AIDS adalah akses terhadap obat antiretroviral (ARV), yang mesti terus dikonsumsi dan rutin kontrol ke fasilitas kesehatan.
Deteksi dini terhadap komplikasi penyakit pun akhirnya akan tertunda saat pasien HIV/AIDS takut untuk datang kontrol lantaran khawatir tertular virus corona yang akan memperparah kondisinya.
Benarkah pasien HIV/AIDS lebih rentan tertular Covid-19 dibanding orang lain yang tidak mengidap penyakit tersebut?
Beberapa penelitian yang terbatas menunjukkan bahwa pasien HIV/AIDS sebenarnya memiliki risiko yang sama untuk tertular virus corona sesama orang yang tidak mengidap HIV/AIDS.
Jadi, ODHA yang sehat, tidak memiliki keluhan, dan patuh menjalani pengobatan sebaiknya tidak perlu terlalu cemas.
Meminimalkan risiko penularan Covid-19 bisa diupayakan dengan selalu menerapkan protokol kesehatan secara ketat.
Pesan penting
Secara lebih spesifik ada sejumlah pesan penting yang disampaikan dalam peringatan Hari AIDS Sedunia 2021. Yakni komitmen untuk mengakhiri penyebaran HIV/AIDS; kampanye yang menggugah kesadaran masyarakat agar lebih berhati-hati demi berakhirnya HIV/AIDS di tahun 2030; mengatasi HIV dan COVID-19 secara bersama-sama mengingat pandemi COVID-19 belum usai, sementara HIV/AIDS bisa menyerang siapa saja perlu diwaspadai agar tidak semakin menyebar dan menyebabkan kematian.
Sebelum 1980 diperkirakan ada 100.000 sampai 300.000 orang di seluruh dunia hidup dengan HIV/AIDS.
Kini, seperti dikatakan oleh Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes RI, dr Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, orang dengan HIV secara global hingga 2020 tercatat 37,7 juta dengan rata-rata penambahan setiap tahun 1,5 juta kasus.
Sementara itu, jumlah kematian tahunan karena HIV di seluruh dunia berkisar antara 480.000-1 juta, dengan rata-rata 680.000 orang meninggal.
Data terakhir di Indonesia sampai Maret 2021, seperti dilaporkan oleh Ditjen P2P Kemenkes RI, menunjukkan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDSsebanyak 558.618, yang terdiri atas 427.201 kasus HIV dan 131.417 kasus AIDS. (Puspayanti, kontributor)






