Foto: Peter Conlan / Unsplash
Pembaruan diri itu dimulai, bukan besok atau lusa, melainkan saat ini. Tentukan dan lakukan hal yang baik itu dengan segera dan tanpa ragu.
Buat daftar yang hendak diperbaiki dan cara merapkannya. Misalnya, memperbaiki hubungan dengan anggota keluarga, meningkatkan pasif income, ingin jadi penulis yang mumpuni, dan seterusnya.
Atur jadwal, arahkan pikiran, dan biasakan diri agar kita melakukan semua itu sesuai rencana dan tepat waktu. Sehingga kebiasaan itu jadi dispilin harga mati dan tidak bisa diganggu gugat.
Lakukan dengan kesungguhan hati, tapi dengan suasana riang agar kita menjalani semua rutinitas itu dengan kreatif dan tanpa beban, sehingga jauh dari menjemukan alias bosan.
Untuk melangkah dan jadi makin baik itu tentu tidak lepas dari tantangan, godaan, maupun halangan. Hal itu bisa muncul dari luar maupun diri sendiri. Dari luar, kita diajak teman nonton film, ngupi, atau ngrumpi yang tak penting. Sedang godaan dari diri sendiri, kita sering menunda pekerjaan dan malas.
Apapun tantangan dan halangan itu harus dikenali, diantisipasi, dan disikapi dengan bijak agar kita tetap komitmen pada tujuan. Ketika kita berhalangan untuk melakukan suatu hal yang jadi target, itu berarti hutang yang harus dibayar pada hari berikutnya.
Kebiasaan disiplin baik itu terus menerus hendaknya dievaluasi sebagai sarana introspeksi untuk melihat perubahan kemajuan diri.
Kita dapat melihat hasil pencapaian itu dari hubungan dengan anggota keluarga yang makin dekat dan akrab. Pasif income dari bisnis sampingan yang kian berkembang. Untuk jadi penulis yang mumpuni, kita juga makin produktif, tulisan dipublikasi di banyak media maupun jurnal, dan seterusnya.
Saatnya kita melihat perjalanan hidup sendiri. Selama ini kita mengalami kemunduran, mandeg, atau menuju ke arah yang benar. Menggapai masa depan yang gemilang.
Hidup ini pilihan. Tapi soal nasib, kita sendiri yang menentukan.
Setuju?
Berserah Pasrah Itu Mudah Menjalaninya Sulit






