Maaf, Ibu Bapak yang kami hormati dan kasihi. Bukan maksud hati kami untuk melawan atau jadi anak yang tidak tahu diri dan tidak berbakti. Melainkan, izinkan kami bertanya, maksud dan tujuan Ibu Bapak menikah.
Coba Ibu Bapak renungkan hal itu dengan kejernihan hati.
Ibu Bapak telah dewasa secara psikologis, saling mengasihi satu dengan yang lain, dan direstui oleh orangtua.
Ibu Bapak menikah, karena dipaksa oleh keadaan, karena Ibu hamil duluan, dan hal itu untuk menutupi aib keluarga.
Ibu Bapak dijodohkan oleh orangtua, karena hubungan kekerabatan, relasi bisnis, dan sederajat. Tujuannya adalah demi menjaga nama baik, martabat, dan kehormatan keluarga. Bisa jadi supaya kekayaan keluarga tidak hilang alias jatuh ke pihak luar. Atau, prioritas utama adalah agar kedua keluarga makin kaya.
Ibu Bapak menikah dikejar jam tayang, karena umur yang makin menua, malu dibuli sebagai jomblo abadi, atau saat injury time alias mumpung ada yang mau, dan ketemu jodoh.
Mungkin juga, gara-gara Ibu Bapak senang nonton sinetron, lalu terpengaruh oleh film Kecil-kecil Jadi Pengantin, Pengantin Dini, dan seterusnya. Ibu Bapak jadi kebelet ingin menikah, konon untuk mengarungi cinta selamanya.
Ibu Bapak termasuk yang mana? Atau Ibu Bapak penganut falsafah witing tresno jalaran soko kulino, cinta hadir karena terbiasa dan tidak ada yang lain. Begitu?
Maaf, Ibu Bapak, itu dulu! Jangan berpikir kuno seperti itu. Menuruti dan ingin membahagiakan orangtua itu baik, tapi tidak identik Ibu Bapak harus terpaksa dan tersiksa menjalani semua itu, karena Ibu Bapak tidak saling mencintai.
Kenyataannya toh tidak semudah dan sesederhana itu. Zaman batu dan zaman now itu ibarat malam dan siang hari. Pernikahan atas dasar power of kepepet itu beban hidup, dan bakal suloyo.
Pernikahan yang baik dan sehat itu didasari cinta saling mengasihi satu dengan yang lain. Bukan atas dasar harta, tahta, dan nafsu. Melainkan didasari oleh iman untuk saling menghargai, menghormati, mengasihi, dan setia.
Ibu Bapak dituntut untuk mendidik, membimbing, dan membesarkan kami (anak-anak) dengan iman, harapan, dan kasih. Bukan dengan memanjakan semangat komsumtif, materialisme, dan kemudahan yang membuat kami lupa diri. Melainkan ajari kami jadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan bertanggung jawab pada Allah, sesama, dan nusa bangsa.
Jangan contohi kami dengan perilaku dan intrik jahat untuk menyakiti, membunuh, atau korupsi. Sehingga kami harus menanggung aib dan penderitaaan, karena ulah Ibu Bapak.
Sejatinya, Ibu Bapak adalah teladan hidup dan panutan kami untuk menyongsong masa depan yang gilang gemilang.
Semoga Ibu Bapak ingat dengan kutipan suci ini, “Carilah Kerajaan Allah terlebih dulu, maka semuanya akan ditambahkan.”
Allah mengasihi dan memberkati kita semua.
Foto : Kalhh/Pixabay






