Jatuh yang Bermartabat – Catatan pada Halaman ke-55

Penulis Jlitheng

Di saat pahitnya hidup terasa membebani, tanpa sadar kita terdorong untuk menggerutu. Namun, yang wajib kita ingat, menggerutu tidak akan menyelesaikan masalah dan hanya akan membuat kita berhenti untuk ke luar dari masalah itu!

Selain itu, menggerutu menandakan bahwa hatimu belum siap menjadi seorang yang ikut bertanggung jawab meringankan beban orangtua selagi sempat.

Menggerutu hanya akan membuang waktu sia-sia. Daripada menggerutu, lebih baik kamu ikut saya bekerja. Itu kalau kamu tidak merasa malu. Ikut saya kerja di proyek bangunan. Ikut membangun pasar.

Saya terkesiap dengan ucapan yang ke luar dari mulut teman desa saya ini. Dia tiga tahun lebih tua. Jleeebbb. Dia berhasil membangkitkan harga diri saya yang sesungguhnya.

Kisah nyata pada tahun 1970. Harga diri semu muncul ketika saya tidak diizinkan bersama teman sekolah mengisi libur sebelum kuliah. Alasannya memang hanya satu: Simbok ora duwe duwit. Dongkol, malu, dan … terus menggerutu.

Batal piknik, saya ikut ajakan teman desa saya. Jadilah kuli bangunan berijazah SMA. Tahun 1970, lho. Di desa saya jarang yang sekolah lebih dari Sekolah Rakyat, setara SD sekarang.

Sampai peristiwa itu terjadi. Pada hari keenam sebagai pekerja bangunan, Sabtu, sore hari, saya jatuh dari stagger dan tertimpa batu bata yang baru saya pasang sendiri.

Pada hari ketiga istirahat, saya dikunjungi guru SMP saya dulu. Sambil mengusap luka-luka yang diperban, beliau ngendiko: “Jatuh itu memang sakit. Tetapi, ketika jatuh itu terjadi karena sebuah perjuangan, justru akan membuatmu lebih bermartabat.”

Muncul dari dapur, sambil membawa teh, Simbok ikut nyelo: “Leres Pak Guru. Anak kulo nembe sinau gesang, bilih mboten sedoyo kekarepan saged kasembadan.” (Tidak semua keinginan terwujud sesuai harapan).

Jatuh adalah manusiawi. Cara mengatasinya yang membuat martabatnya berbeda.

Salam sehat dan tetap setia berbagi cahaya. Jlitheng

About Admin SEIDE

Seide.id adalah web portal media yang menampilkan karya para jurnalis, kolumnis dan penulis senior. Redaksi Seide.id tunduk pada UU No. 40 / 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Opini yang tersaji di Seide.id merupakan tanggung jawab masing masing penulis.