Jumpa Yaki di Tepi Trans Sulawesi

Yaki di Pinggiran Trans Sulawesi

Yaki turun gunung di jalan trans Sulawesi. (atau juga disebut Molai) adalah jenis monyet khas Indonesia, endemik  kawasan  sebelah utara Pulau Sulawesi. Tak hidup di tempat lain.foto dr. Ofan Nunos

Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI

Seide.id 07/02/2023 – “Mama…, jangan lupa nanti mampir di pasar beli pisang masak, dan Papa juga jangan lupa nanti mampir di tempat biasa, buat kasih makan yaki,” ucap Bagas (11th) kepada mamanya, Drg Andjarini, dan dr. Ofan (papanya) yang manggut-manggut di belakang stir mobil yang mereka kendarai. Sementara Azumar, adik Bagas,  tampak antusias sekali mendengar bahwa sebentar lagi dia akan kembali memberi (persisnya: melempar) buah-buah pisang dari dalam kabin mobil mama dan papanya ke kawanan Yaki yang berkelompok-kelompok turun dari lebat hutan ke pinggir jalan Trans Sulawedi yang akan dilintasinya.

Yaki adalah monyet yang biasa berkelompok turun ke satu titik bukit pinggir jalan Trans Sulawesi di ruas dari arah Kota Palu ke arah timur laut  ke Kabupaten Parigi-Muntong, ke Poso dan seterusnya. Apa hebatnya ‘wisata’ melihat monyet? Apa bedanya Yaki dengan kawanan monyet yang memenuhi obyek wisata Sangeh di Bali, atau di Ujung Murung – Sabang di Pulau Weh Aceh, atau komplek perkuburan tua di Palalangon Cirebon Jawa Barat? Beda. Monyet yang dicontohkan di atas adalah jenis Monyet Ekor Panjang (Macaca fiscacularis) yang memamg merupakan jenis dominan di hutan-hutan tropika Indonesia.

Sedangkan Yaki (atau juga disebut Molai) adalah jenis monyet khas Indonesia, endemik  kawasan  sebelah utara Pulau Sulawesi. Tak hidup di tempat lain

Persisnya, yaki atau molai adalah monyet hitam khas dan endemik Sulawesi, khususnya hidup di kawasan hutan sebelah utara Pulau Sulawesi: Sulawesi Utara, Gorontalo, dan di pesisir selatan Teluk Tomini di Sulawesi Tengah. Kawanan yaki yang ditonton Bagas dan Azumar, adiknya, adalah bagian dari kelompok yaki yang menghuni Cagar Alam Pangi-Binangga (6000 hektar) yang membentang di beberapa wilayah labupaten: Donggala, Poso, Toli-Toli, dan Luwuk-Banggai. Menteri Kehutanan dan Perkebunan meresmikan cagar alam di timur laut Kota Palu itu pada tanggal 21 April 1998.

Yaki turun dari hutan.beberapa pengendara berhenti takjub melihat sosok-sosok hitam nongkrong di pinggir jalan. Lantas saja terdengar seruan: “Yaki…! Ada yaki di pinggir lintasan jalan Trans Sulawesi…!”

Dulu CA Pangi-Binangga merupakan kawasan ‘jin buang anak’ yang jauh dari pemukiman penduduk. Tapi dunia memang terus berkembang. Pembangunan infrastruktur hadir menjangkau tempat-tempat yang jauh dan sepi. Juga jaringan jalan Trans Sulawesi yang antara lain memapas bukit dan hutan yang jadi bagian dari hutan CA Pangi-Binanga. Pengguni hutan turun dari hutan (dan barangkali) untuk melihat kesibukan lalu-lintas di jalan aspal lebar. Dan beberapa pengendara berhenti takjub melihat sosok-sosok hitam nongkrong di pinggir jalan. Lantas saja terdengar seruan: “Yaki…! Ada yaki di pinggir lintasan jalan Trans Sulawesi…!”

Dari mulut ke mulut, dari sopir ke sopir, kehadiran yaki di jam-jam tertentu di pinggir jalan itu menjadi berita umum. Para pengendara yang melintas di jalur tersebut, khususnya yang bersama keluarga, sengaja menghentikan kendaraan mereka beberapa menit di pinggir jalan, untuk menyimak lebih jauh kawanan yaki (yang demi keamanan) dari dalam kabin kendaraan. Sesuatu yang dirasa menjadi makanan yaki pun dilemparkan, antara lain pisang yang sering sengaja dibeli khusus buat enjoy menonton yaki.

Yaki sendiri  yang dalam bahasa ilmiah dicatat sebagai Macaca nigra, merupakan jenis primata (keluarga monyet dan kera) yang unik. Seperti lutung, sekujur tubuhnya berbulu hitam, khususnya yaki jantan. Sementara yang betina bulunya lebih pucat. Namun berbeda dengan lutung yang memiliki ekor panjang, yaki berbuntut pendek hanya sekitar 20cm saja, hingga yaki kerap dikira kera alias primata tanpa buntut seperti gorila, simpanse, siamamg ataupun manusia, ha…ha…ha…!

Avatar photo

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.