Kelor, Si Pohon Ajaib

Daun kelor oleh masyarakat dari berbagai wilayah di Nusantara diyakini sebagai tolak bala pengaruh jahat – Foto Heryus Saputro Samhudi

Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI

SAYA baru saja hendak sarapan pagi, sepiring nasi dengan sayur daun kelor olahan Resti yang diimbuhi potongan Labu Siam dan taburan Teri Medan, ketika dari pojok hening terdengar celetukan Mak Wejang, “Wah, kuliner zaman susah, nih, Bang…! Sayur orang kampung di zaman ‘kuda gigit besi’, dan kini naik daun gegara dapat predikat sebagai pohon ajaib,” kata Mak Wejang.

Apa yang diungkap Mak Wejang bukan info baru, tapi tak bisa disebut basi, karena banyak juga diantara kita yang tidak ‘ngeh bahwa Food and Agriculture Organization (FAO), organisasi pangan dan pertanian dunia dibawah PBB, pada tahun 2018 resmi menyebut pohon kelor (Moringa oleifera) sebagai Miracle Tree alias pohon ajaib. Bahkan julukan itu juga didukung World Healt Organization/WHO

Baik FAO ataupun WHO menganjurkan agar bayi dan anak-anak pada masa pertumbuhan ada baiknya mengkonsumsi kuliner berbahan baku daun kelor. Ini karena daun kelor ternyata mengandung, dalam perbandingan gram: 7 x vitamin C pada jeruk, 4 x kalsium pada susu, 4 x vitamin A pada wortel, 2 x protein pada susu. 3 x potasium pada pisang. Semua ini sangat berguna bagi peningkatan daya tahan tubuh.

Di Indonesia sendiri, daun kelor bukanlah sesuatu yang asing, baik dalam arti sebenarnya ataupun sebagai kiasan. Masih ingat bila ada seorang teman ingin ‘bunuh diri’ cuma gegara patah hati diputus sama pacarnya? Maka dengan bijak kita segera merengkuhnya sambil mengungkap kalimat, “Sabar Broer (atau Sis), dunia tidak selebar daun kelor”. Dunia itu luas. Cari gantinya, ha…ha…ha…!

Kelor juga sejak lama populer di dunia supranatural kita, sebagai daun penangkal guna-guna atau peruntuh kejahatan ilmu hitam. Saat seseorang kesurupan, karena (konon) dirasuki pengaruh jahat, atau bahkan diteluh pihak lain yang bermaksud buruk terhadapnya, maka seseorang yang dianggap berilmu, menyembuhkannya dengan cara mengkepret tubuh si sakit dengan air daun kelor yang sudah dijampi-jampi

Di Indonesia, pohon kelor nyaris timbuh dari Sabang hingga Merauke, dari Kepulauan Miangaas di utara hingga Pulau Rote di Samudra Hindia. dengan berbagai sebutan, semisal: merunggai, limaran, bahkan orang Betawi menyebut buah kelor dengan amat spesifik sebagai kelentang. “Daun kelor buah kelentang / jangan molor (tidur) sambil celentang”, begitu karmina (pantun kilat) nasihat para ibu buat anak gadisnya.

Penjual daun kelor di pasar di Kota Bima, Sumbawa, NTB – Foto Heryus Saputro Samhudi.

Kearifan tradisional Indonesia sejak lama memanfaatkan kelor sebagai tanaman penahan longsor, konservasi tanah, dan terasering. Sehingga saat musim hujan walau dalam jumlah paling minimal, jatuhan air hujan akan dapat ditahan oleh sistem akar kelor, dan pada musim kemarau “tabungan” air sekitar akar kelor akan jadi sumber air bagi tanaman lainnya. Sistem akar kelor cukup rapat, bencana longsor jarang terjadi.

Selain fungsinya sebagai penyangga alam, sejak lama daun kelor juga dijadikan bahan sayuran dan jamu herbal, serta pakan ternak kambing, kerbau dan sapi. Di Bogor juga sudah ada upaya para akademisi kita yang mulai ikut mengekstrak biji buah kelor (kelentang) menjadi minyak untuk bahan farmakologi, yang di dunia popular sebagai ben-oil.

Sebenarnya, jauh sebelum FAO (dan WHO) menabalkan kelor sebagai Miracle Tree, ada para saudara kita dari Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang coba menggangkat potensi kelor ke tingkat dunia. Persisnya di hari saat Gerhana Matahari Total (GMT) melintas Kota Palu, Rabu, 09/03/2016, “Kami menggelar Festival 100 Kuliner Kelor,” ungkap Ati Kailiwati Nurdin.

Ati (saat itu anggota DPRD Sulteng) dipercaya Gubernur Longki Janggola menggelar festival kuliner yang menghidangkan 100 jenis masakan berbahan daun dan buah kelor olahan para ibu PKK. Wakil Presiden Jusuf Kalla dan 3000 orang wisatawan dari luar Palu dan Mancanegara menjadi saksi betapa kelor bisa diolah jadi ragam hidangan lezat dan representatif. Dari Sayur Bobor Kelor, Bergedel Kelor, hingga Es Krim Kelor.

Insya Allah pandemi Covid-19 segera berlalu, dan pariwisata Indonesia disasar wisatawan dunia lagi. Ada khabar, masyarakat pariwisata dunia, khususnya di Eropa, amat sangat tertarik dengan Indonesia sebagai ‘negeri kelor’. Ini peluang bagi Menteri Parekraf Sandiaga Uno untuk menggelar wisata minat khusus “Menikmati Kisah dan Kuliner Kelor Indonesia”. Seide.id siap jadi pemandu wisata. ***

27/08/2021 Pk 21;21 WIB

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.