Sejak dahulu kala, delta Mekong sudah mensejahterakan kehidupan. Tak cuma di Viet Nam. Tapi juga Laos dan Kamboja dan beberapa negara lain di mana sang ‘Ibu segala sungai’ itu melewatinya.
Tanah delta menjadi subur. Sawah, ladang, perdu, pohon buah-buahan, pohon-pohon kelapa begitu melimpah. Laos, Viet Nam dan Kamboja sejak dulu menjadi negara pengekspor berbagai jenis buah-buahan tropis dan beras ke seluruh dunia. Viet Nam bahkan disebut-sebut bisa menenuhi 1/5 kebutuhan beras dunia! Itu semua berkah dan kesuburan dari delta yang melimpah. Selama ratusan, mungkin ribuan tahun, sampai hari ini.
Sampai hari ini?….
Setelah beristirahat sejenak, melepas dahaga, menikmati kesegaran buah-buahan, menikmati kesejukan pepohonan yang rindang, keramahan penduduk desa dan kesenian tradisional, kami melanjutkan perjalanan, melanjutkan blusukan ke beberapa pulau di delta.
Lan, sang pemandu wisata akan mengajak kami ke beberapa tempat lagi, masih di salah-satu pulau dari delta itu.
Aah, istriku bergumam,…kenapa kita tak membawa kursi rodaku tadi. Tak apa, kataku, semoga tempat-tempat yang kita kunjungi, tak terlalu berjauhan letaknya. ‘Kan kita sdh bertanya kepada agen pariwisata dan mereka bilang bahwa jalannya sedikit, kita akan lebih banyak naik perahu dan (kemungkinan kursi rodaku) itu justru akan merepotkan. Lagipula aku jalan kaki hanya di pulau ini saja.
Ah, betul yang dikatakan agen wisata, jalan-jalan setapak yang banyak semak dan berundak-undak di desa ini justru akan merepotkan jika dilalui dgn kursi roda.
Setelah jalan-jalan setapak dan kembali menelusuri anak sungai dengan perahu untuk mengunjungi suatu tempat di pulau lain, eh ternyata ada sedikit jalan aspal. Oh, ya setiap aku hendak melangkah naik atau turun dari perahu, “cowok-cowok” Pilipina itu berebutan membantu. Ini terus-terang membuatku terharu.
Istriku bergumam lagi:…”Naah ‘kan ada jalan aspal?!,…coba tadi kita bawa kursi rod..”
“Pssst, potongku. Dek,…kataku kepada si bungsu. Coba tanya kepada si Lan, berapa jauh lagi kita harus jalan-kaki?”
Pemandu wisata yg ramah itu tergopoh-gopoh menghampiriku:
“Aah, iya…ma’aaaf…bapak agak tertinggal,…tak jauh kok pak,…kita hanya akan berjalan sekitar lima…eh, salah-seorang dari 4 “cowok” Pilipina yang sudah mulai akrab dgn kami itu memotong,…haah, Laaan,…lima kilometer lagiii?!,….kamu gak kasihan sama bapak ini?!”
“Hahaha,…bukan paaak, kita akan berjalan kaki, paling-paling 5 menit lagi saja”, kata Lan
Lalu aku menimpali “cowok” yang memotong pembicaraan tadi, tentu dgn semangat bergurau: “Aku tak berkeberatan jalan terseok-seok sejauh 5 km lagi,…selama rombongan sabar menungguku dan yang pasti ‘gaya’ berjalanku, hahaha,…akan memakan waktu lamaaa, sekali”
“No problem siiir, take it eeaassy, santaaaiii,…kita ‘kan sedang berlibur”…kata mereka serempak sambil tertawa-tawa…Right giiirls?!” kata mereka sambil menoleh kepada gadis-gadisku. Lalu kami tertawa-tawa bersama.
Kami mengunjungi pabrik pembuatan kembang gula yang bahan utamanya adalah kelapa. Melihat proses pembuatanynya dari awal kelapa dibelah, diperas sampai menjadi santan, dimasak, setelah matang ditiriskan, dipotong-potong dadu, sampai dibungkus, dan dikemas dalam kotak yang sudah diberi merk.
Ketika salah-seorang pekerja membelah kelapa tadi, Lan sang pemandu wisata bertanya, siapa yang berminat meminum airnya?
Tanpa menunggu lagi, aku langsung menunjuk tangan. “Aah, bapak pasti akan terkejut,…ini kelapa tua,…tapiii,…silakan minum…”
Aku hirup seteguk, tadinya hanya untuk berbasa-basi saja,…tapi ternyata aku memang terkejut karena air kelapa tua dan berukuran lebih kecil dari umumnya kelapa itu…airnya manis sekali seperti air kelapa muda.
Melihat aku meminum dengan antusias, salah seorg “cowok” Pilipina menggoda: “Kombinasi antara air kelapanya manis atau anda memang sedang kehausan ya, pak?” Hehehe…
Setelah itu, kami ke kebun kakao dan tempat pembuatan coklat, lalu dilanjutkan dengan makan siang.
Kenapa aku bilang dilema di judul catatan ini?
Para ilmuwan memprediksi bahwa perlahan tapi pasti, kesuburan dan kemakmuran delta akan segera berakhir. Tak cuma di Viet Nam. Tapi juga bagi Thailand dan Laos.
Lumpur-lumpur subur perlahan akan mengering. Sawah-sawah akan jauh berkurang dan musnah. Tanah-tanah mengeras. Pohon-kelapa meranggas. Pohon-pohon yang tertinggal hanya pohon-pohon besar yg tangguh.
Semua itu bukan dugaan, tebak-tebakan atau ramalan asal-asalan. Semua itu berdasarkan penelitian dan pengamatan dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan dan tahun.
Dalam 30-40 tahun lagi semua itu akan terjadi!
Penyebabnya adalah iklim global. Air laut mulai memasuki muara sungai. Tambak-tambak udang yang dulu melimpah dgn udang-udang dari tambak air tawar mulai ambyar.
Para petambak mulai beralih ke tambak udang air laut, meski survive, tapi hasilnya tak melimpah dan tak seberapa yahud. Ikan-ikan mulai menjauh dari delta. Para nelayan sungai yang konon penghasilan ikannya pernah mampu memenuhi sampai 60% kebutuhan ikan di seluruh Viet Nam, sekarang sudah jauh berkurang.
Para petani yang tinggal di tepi sugai dan laut, mulai khawatir. Air laut setiap tahun semakin meninggi, masuk ke dalam rumah. Malam hari, ketika mereka sedang nyenyak tidur, rumah mereka hanyut terbawa air sungai yang ‘berkomplot’ dgn laut.
Tanggul-tanggul sudah dibuat kokoh dan semakin tinggi dari hari ke hari. Para petani, nelayan dan petambak yang ‘kurang tangguh’ mulai eksodus. Mulai berfikir untuk berusaha dan mencari penghidupan di tempat yang lebih aman, jauh menjorok ke darat, meski mereka msh belum tau, apa yang akan mereka kerjakan?
30 atau 40 tahun lagi, perlahan tapi pasti, kata para ilmuwan. Semoga tak terjadi, kata para nelayan, petambak dan petani.
Tapi jika alam dan Sang Pencipta berkehendak,…siapa bisa menolak?!…
(Aries Tanjung)





