Setiap hendak memperpanjang pasport, bukan cuma aku yang cemas, tapi juga keluarga. Ya, aku juga membuat cemas istri dan dua anak gadisku.
Di akte kelahiran, namaku tertulis: Robiul Akirudin. Sebuah nama gagah pemberian ayah. Nama itu mudah diduga berasal dari Rabiul Akhir, bulan ke-4 dalam penanggalan Islam. Bulan April. Ayahku juga pernah mengatakan: Akhirudin, ‘Din’ itu bisa berarti cahaya atau bisa juga berarti keyakinan. Jadi namaku itu berarti cahaya atau keyakinan terakhir. Hebat, bukan?.
Ketika kecil, di rumah dan di antara teman-teman sepermainan, aku dipanggil Akhir. Nah, karena kekonyolan masa remaja, nama yang sudah gagah itu, aku tambah. Boleh jadi juga seperti kekonyolan remaja lain (zaman itu, entah sekarang) yang suka menambah, mengurangi atau mengubah nama pemberian orangtua.
Setiap remaja, pasti punya alasan untuk penambahan atau perubahan nama itu. Berbagai macam alasan penambahan itu. Mulai dari kegenitan, untuk sekadar lucu-lucuan supaya terdengar lebih akrab, lebih gagah, ‘lebih catchy‘ dst…Tanpa disadari semua kekonyolan itu akan merepotkan diri sendiri dikemudian hari.
Aries di depan namaku aku ambil begitu saja dari rasi bintangku. Nama itu, aku bubuhkan di setiap gambar ilustrasi buatanku. Akhirnya terus terbawa ke dalam ‘kehidupan formal’ dan administrasi di kantor. Jadilah namaku Aries Achirudin.
Maafkan aku atas kekonyolan dan kelancangan ini, ayah.
Akan halnya Tanjung, itu adalah penghormatan yang datang ‘agak terlambat’. Aku, adik-adik dan kakak-kakak (kami semua ada 9 orang) menambahkan nama itu dibelakang nama kami, karena nama itu adalah nama keluarga dari fihak ibu. Kami ‘berkesimpulan’ hehe, karena ayah dari Bengkulu dan ibu dari Payakumbuh, maka orang Minang harus mengambil nama dari keluarga ibu, begitulah.
Kekonyolan baru terasa di kemudian hari. Kekonyolan, berubah jadi kerepotan dan ‘penyesalan’, ketika membuat atau memperpanjang pasport.
Pertama kali membuat, pasport dibuat oleh kantor tempatku bekerja, berdasarkan nama dari akte kelahiran yaitu Robiul Akirudin. Akhirudin pun, sebetulnya sudah ‘menimbulkan’ perkara. Achirudin (dengan ‘ch’), Akhirudin (dengan ‘kh’) atau ada juga Akiruddin (dengan ‘2d’).
Di pasport tertulis: Robiul Akirudin, di KTP dan kantor tertulis Achirudin Tanjung. Sementara teman-teman kantor dan teman-teman setelah dewasa memanggilku: Aries.
Ketika memperpanjang pasport (ini pun suka diparodikan: emang pasport lo kurang panjang, mau dibuat seberapa panjang, entar gak muat di dlm saku atau tas!), selalu mendebarkan, meski harus sabar nenghadapi birokrasi (yang menurut istriku: karena kesalahan dan kekonyolanku sendiri). Biasanya yang aku lakukan adalah membuat surat pernyataan dari kelurahan bahwa ke dua nama itu adalah nama satu orang yang sama.
Selesai? Belum!. Karena ingin mengirit dana dan mengenalkan ‘sedikit kerepotan’ dan ‘semi backpacker’ kepada dua anakku ketika kami keluyuran ke Viet Nam, kali ini kami pergi tanpa jasa biro perjalan. Dengan ikut grup tour, memang kami cuma duduk manis. Semua kerepotan memesan tujuan wisata sampai makan apa dan di mana, semua sudah diurus agen perjalanan. Tapi kata seorang teman: kita jadi tak bersinggungan dengan “nafas kehidupan penduduk setempat yang sebenarnya”,…cieee.
Anakku memesan tiket penerbangan dan hotel murah dari sebuah agensi. Baru nanti di sana kami berimprovisasi mau jalan ke mana, naik apa, makan apa, di mana dan sebagainya.
Anakku mendapat tiket pesawat dari maskapai yang berlainan ketika berangkat dan pulang. Penerbangan yang relatif murah, biasanya transit di negara pemilik maskapai. Untuk ke Viet Nam ini, kami transit selama (apa boleh buat) 4 jam di Kuala Lumpur. Pulangnya nanti, kami harus transit di Singapura. Nah, dunsanak tau ‘kan nama-nama maskapai yang aku maksud?
Ketika memesan, anakku (karena blingsatan) mencari-cari penerbangan dan hotel-murah dalan satu paket di beberapa biro perjalanan. Setelah ketemu, dengan harga yang kami anggap cocok, lalu kami pun membayar.
Setelah diberi semacam tanda bukti buking dan pembayaran, dia baru ngeh bahwa ternyata nama yang tertera di tanda bukti pembayaran dan tanda buking itu memakai namaku yang di…KTP, bukan nama seperti di pasport. Jduuerr!…Tentu saja, ini akan merepotkan nanti.
Lalu kami menelpon, menjelaskan bahwa ada kesalahan nama, dan tentu saja kami meminta untuk mengubah nama sesuai dengan yang tertera di pasport. Tapi biro itu tak memberi jawaban memuaskan yang dapat menenangkan kami.
Berkali-kali kami telepon, intinya menanyakan: apakah ketidaksesuaian nama itu, kelak akan menjadi persoalan? Biro tak juga memberi jawaban yang memuaskan. Akhirnya kami mendatangi dua maskapai yang akan menerbangkan kami itu. Ah, di zaman serba digital ini, akhirnya kami harus juga secara fisik mendatangi alias hadir, di maskapai itu.
Untung, semua berakhir dengan baik. Mereka bisa mengganti namaku sesuai dengan nama di pasport…
Tapi,…bagaimana dengan ketidaksesuaian nama pemesanan hotel murah di Viet Nam itu..?
(Aries Tanjung)






