Keputihan Selama Hamil

Seide.id – Secara faktual, terjadi perubahan hormonal pada ibu hamil. Di antaranya meningkatnya produksi hormon progesterone, sehingga terbentuklah cairan-cairan dan sekresi tubuh yang kemudian turun melalui vagina. Cairan ini normal, bukan keputihan.

Selain karena produksi yang berlebih, cairan itu juga terjadi karena siklus bulanan yang juga dialami oleh wanita tidak hamil. Pada saat-saat tertentu setiap bulan, terjadi perubahan sekresi. Termasuk sekresi dari mulut rahim yang kemudian keluar melalui vagina. Warnanya jernih, agak kental, tidak berbau, tidak mengalir dan biasanya hilang dalam beberapa hari tanpa keluhan apa pun. Ini pun normal.

Cairan serupa juga bisa keluar pada saat yang bersangkutan mendapat rangsangan seksual. Cairan ini mutlak diperlukan untuk membasahi dinding vagina agar selalu bersih. Juga untuk mempertahankan keasamannya supaya tidak terjadi infeksi. Sekaligus sebagai pelumas saat terjadi penetrasi agar tidak terjadi perlukaan pada vagina.  

Aneka Penyebab & Gejala

Nah, cairan dikatakan abnormal atau yang disebut sebagai keputihan jika terjadi di luar masa-masa tersebut. Disertai perubahan warna, tercium bau tak sedap, dan keluar dalam jumlah berlebih. Disertai gejala berupa rasa gatal atau panas di area vagina.

Maupun terasa pedih saat hendak buang air kecil atau sakit kala senggama. Rasa gatal bisa muncul terus-menerus, kadang terasa perih/sakit, hingga keputihan umumnya membuat penderitanya gelisah. Belum lagi bau tak sedap yang ditimbulkannya.  

Keputihan atau istilah medisnya flour albus atau leukorrhea, ada beragam penyebabnya. Keputihan akibat jamur, contohnya. Pada wanita hamil karena adanya perubahan kadar keasaman akibat perubahan hormonal sewaktu hamil.

Yang tadinya asam, kini berubah jadi basa. Nah, jamur ini tumbuh subur di iklim yang basa di vagina. Keputihan juga bisa disebabkan oleh kelelahan, ketegangan atau stres, infeksi, bahkan kanker yang tengah mengancam.   

Harus Diwaspadai

Keputihan akibat siklus atau perubahan hormon tentu saja tak perlu diobati. Yang harus diwaspadai ibu hamil adalah bila cairan keputihan berubah warna, berbau, dan jumlahnya banyak. Harus segera ditangani dan mendapat pengobatan semestinya. Keputihan yang tidak diobati bisa menyebabkan keguguran, bayi lahir prematur, kecacatan pada janin, bahkan kemandulan.

Sebabnya, infeksi yang semula hanya di vulva bisa naik ke vagina menjadi vaginistis. Menjalar lagi naik lagi ke leher rahim menyebabkan cervicitis. Atau malah sampai ke endometrium menyebabkan endometriosis. Bisa juga ke saluran tuba menyebabkan salpingitis.

Bahkan bisa menembus rongga perut menyebabkan peritonitis atau radang pada selaput lendir perut. Kalau sudah terjadi kondisi salpingitis, berarti alat reproduksi sudah terganggu. Si ibu akan sulit mendapatkan keturunan.

Nah, untuk mencegah rentetan ancaman tersebut, yang bersagkutan harus segera memeriksakan diri. Dokter akan memeriksa cairan keputihan tersebut di laboratorium untuk mengamati warna, bau, dan bagaimana kondisi vagina secara keseluruhan.

Jika diagnosis menunjukkan adanya keputihan yang tidak akut, biasanya dokter akan menyarankan si ibu untuk mencuci area vagina dengan obat antiseptik. Tapi ingat jangan sembarang memilih sendiri obat pencuci vagina di apotek. Harus benar-benar pilih yang aman untuk wanita hamil dan janinnya.

Cari Penyebabnya

Bila penyebabnya jamur atau bakteri di vagina, dokter akan memilihkan larutan pembersih yang bersifat asam yang memiliki kadar pH di antara 3,5 hingga 4,5. Dengan demikian, kadar keasaman di vagina yang semula basa meningkat atau jadi seimbang. Ini membuat bakteri doderlein yang hidup di area vagina dan sebagai penangkal bakteri dari luar yang masuk, bisa tetap hidup. Larutan-larutan pembersih tersebut hanya digunakan untuk daerah vagina dan tak boleh dipakai terlalu lama.

Jika dianggap tak cukup penanganannya hanya dengan pencucian vagina, dokter akan meresepkan pil khusus yang memang aman untuk ibu hamil maupun janinnya. Dosis pemberiannya pun hanya untuk 2-3 hari.

Masalah jadi serius jika dari hasil pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan lainnya,  mengarah pada dugaan bahwa ibu hamil menderita kanker di leher rahim atau bahkan di rahim. Jika ini yang tejadi, dokter pun dihadapkan pada dua pilihan sulit.

Yakni perkembangan janin maupun laju keganasan kanker yang saling berpacu. Dokter akan menjelaskan pada pasien dan keluarganya mengenai gambaran dan risiko yang mungkin terjadi. Sebabnya, kanker harus diobati dengan kemoterapi yang sifatnya membunuh sel.

Tindakan ini jelas akan mengganggu perkembangan janin. Pilihan pahitnya, janin terpaksa harus digugurkan demi menyelamatkan ibu dari ancaman kanker. Sedangkan bila ibu memilih untuk mempertahanan buah hatinya, juga bukan hal mudah, karena taruhannya adalah nyawa si ibu sendiri.

(Puspa) – nakita  

About Gunawan Wibisono

Dahulu di majalah Remaja Hai. Salah satu pendiri tab. Monitor, maj. Senang, maj. Angkasa, tab. Bintang Indonesia, tab. Fantasi. Penulis rutin PD2 di Facebook. Tinggal di Bogor.