Menelisik Kesehatan Hewan Qurban Menjelang Idul Adha 1444 H

Sapi Qurban

Dari hasil pemeriksaan postmortem ada beberapa keputusan, yaitu hewan dinyatakan sehat dan dapat dikonsumsi, ada kelainan namun dapat dikonsumsi dengan perlakuan tertentu, diafkir sebagian karena tidak layak dikonsumsi, diafkir keseluruhan karena hewan terinfeksi penyakit berbahaya, dan ditunda untuk menunggu hasil pemeriksaan laboratorium (jika memungkinkan).

SEPEKAN terakhir ini, permintaan hewan ternak, khususnya sapi, domba dan kambing mulai meningkat tajam, seiring semakin dekatnya hari raya Idul Kurban. Diperkirakan permintaan hewan kurban di DIY akan
meningkat dibanding tahun lalu.

Hari raya Idul Kurban merupakan momentum untuk peternak lokal mendapat pasar atas produk peternakannya. Namun demikian, ada permasalahan serius yang dihadapi peternak lokal, yaitu penyakit ternak berupa Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta yang terbaru penyakit lumpy skin disease (LSD) atau popular disebut “penyakit lato-lato”. Penyakit LSD ini telah menyerang sapi-sapi milik warga di DIY.

“Kondisi ini perlu campur tangan Pemda. Kesehatan ternak harus dipantau. Pastikan ternak yang dijual dalam kondisi sehat dan layak konsumsi. Sisi lain, peternak perlu dibantu mempercepat penyembuhan penyakit kulit pada sapi, agar peternak dapat untung dari momentum Idul Kurban” kata Andriana Wulandari, Ketua Komisi B DPRD DIY.

Pada sektor perdagangan ternak, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, jelang Hari Raya Kurban, para pedagang banyak mendatangkan ternak dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan hewan untuk kurban. Situasi ini menjadikan persaingan harga ternak tidak terhindarkan.

Peternak lokal di DIY berharap mendapat keuntungan dari usaha penggemukan ternak yang selama ini sudah ditekuni, sisi lain adanya ternak dari luar daerah menjadikan persaingan harga tidak dapat dihindari. Sisi lain, ada peternak yang tidak dapat keuntungan karena ternaknya terpapar LSD sehingga tidak dapat dijual.

“Kami berharap, panitia Idul Kurban mengutamakan hasil ternak dari warga local. Kita wujudkan semangat bela-beli ternak. Terlebih para peternak local sebagian ada yang menanggung kerugian karena penyakit lato-lato. Dengan semangat keberpihakan ini para peternak skala kecil ini akan tetap dapat berkah Idul Kurban tahun ini”, himbau Ndari, panggilan akrab Andriana Wulandari.

Sementara itu menurut seorang relawan dari Fakultas Kedolteran Hewan UGM yang memeriksa hewan-hewan kurban di D.I. Yogyakarta – Elizabeth Tedara Hana, S.K.H., hewan kurban harus dijaga kesehatannya dengan memperhatikan kesejahteraan hewan saat sebelum penyembelihan dan pada saat penyembelihan, contohnya pada saat proses menaikkan atau menurunkan hewan ke atas kendaraan harus menggunakan ketinggian yang bertingkat agar hewan tidak cedera pada saat naik atau turun dari kendaraan. Pada saat mengemudi harus memperlihatkan kenyamanan hewan.

Kemudian kandang penampungan harus dijaga sanitasinya, memiliki atap yang teduh, lantai kering dan tidak licin, tersedia tempat minum, dan intensitas cahaya yang cukup, kemudian status kesehatan hewan diperiksa 24 jam sebelum dipotong.

Prosedur pemeriksaan hewan qurban yang dilakukan dokter hewan atau petugas yang berwenang itu ada pemeriksaan antemortem untuk melihat keadaan umum dan tanda vitalnya, untuk mendeteksi gejala klinis penyakit dan menentukan apakah hewan tersebut sudah sesuai dengan syarat penyembelihan atau belum. Kemudian setelah disembelih dilakukan pemeriksaan postmortem dengan pengamatan visual untuk kelainan organ, palpasi organ yang dicurigai, dan dilakukan penyayatan untuk melihat bagian dalam organ tersebut.

Dari hasil pemeriksaan postmortem ada beberapa keputusan, yaitu hewan dinyatakan sehat dan dapat dikonsumsi, ada kelainan namun dapat dikonsumsi dengan perlakuan tertentu, diafkir sebagian karena tidak layak dikonsumsi, diafkir keseluruhan karena hewan terinfeksi penyakit berbahaya, dan ditunda untuk menunggu hasil pemeriksaan laboratorium (jika memungkinkan).

Penyakit mulut dan kuku (PMK) itu berasal dari virus yang menimbulkan gejala klinis yang menciri yaitu produksi air liur yang berlebih, lepuh pada bagian lidah, gusi, dan celah kuku sehingga dalam keadaan yang parah dapat menyebabkan hewan tersebut pincang. Gejala klinis itu tidak mempengaruhi kualitas karkas sehingga hewan yang terkena PMK masih bisa dikonsumsi dagingnya.

Sedangkan lumpy skin disease (LSD), berasal dari virus yang gejala klinis mencirinya ada benjolan-benjolan pada kulit. Bagian daging dan organ yang tidak berubah dan normal masih dapat dikonsumsi. Kedua penyakit ini bukan merupakan penyakit zoonosis dan tidak berdampak pada kesehatan manusia, namun, jika menemukan gejala tersebut sebaiknya segera melaporkan pada dokter hewan yang bertugas.

Jumali Sumarno, peternak Sapi potong di kawasan Kulon Progo DIY mengungkapkan bahwa selama memelihara sapi tidak pernah mengalami kendala yang serius, karena pihaknya rajin menjaga kandang dan lingkungan peternakan dengan baik. Dalam menyambut hari Raya Idul Kurban tahun ini Jumali sudah mendapat pesanan sapi yang lebih banyak dibanding tahun lalu.

Dengan pemeriksaan hewan kurban secara intensif dan pemeliharaan yang baik sebelum Hari Raya Idul Adha 1444 H ini niscaya tidak akan terjadi permaslahan dalam merayakan kurban. (Yp/dms)

SEIDE

About Admin SEIDE

Seide.id adalah web portal media yang menampilkan karya para jurnalis, kolumnis dan penulis senior. Redaksi Seide.id tunduk pada UU No. 40 / 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Opini yang tersaji di Seide.id merupakan tanggung jawab masing masing penulis.