Kontroversi Profesor Kishore Mahbubani dan Pujiannya

Indonesia beruntung mendapat pemimpin dari grassroots, akar rumput. Pemimpin yang pernah menderita, kata Dubes Ri di Singapura, Suryo Pratomo. Indonesia memenuhi persyaratan untuk menjadi negara gagal. Tapi tidak gagal, kata J. Kristiadi.

oleh DIMAS SUPRIYANTO.

‘SENANG melihat orang susah  – susah melihat orang senang’,  sudah menjadi watak sebagian dari kita. Tak terkecuali para elite dan pendukungnya. Ketika ada cendekiawan negeri jiran memuji pemimpin kita, Presiden Jokowi,  para oposan dan pendukungnya membully habis habisan. Merendahkannya. Dengan menyatakan sebaliknya. Bahkan membandingkannya dengan profesor abal abal orbitan stasiun teve oposisi di sini.

Kita sama sama tahu yang dimaksud. Dialah Kishore Mahbubani, profesor dari National University of Singapore, yang sedang jadi viral lantaran memuji Presiden Jokowi sebagai “sosok pemimpin yang jenius”. Kishore Mahbubani dikenal sebagai pemikir global yang juga pernah menjadi diplomat.

Profesor Mahbubani masuk dunia akademis pada 2004, ketika ia ditunjuk sebagai Dekan Pendiri Sekolah Kebijakan Publik Lee Kuan Yew (LKY School), NUS. Dia menjadi Dekan dari 2004 hingga 2017, dan Profesor dalam Praktik Kebijakan Publik dari 2006 hingga 2019.

Pada April 2019, dia terpilih sebagai anggota kehormatan internasional American Academy of Arts and Sciences. Mahbubani dianugerahi Beasiswa Presiden pada 1967. Ia lulus dengan gelar First Class Honours dalam bidang Filsafat dari University of Singapore pada 1971.

Dari Universitas Dalhousie, Kanada, Mahbubani menerima gelar Master di bidang Filsafat pada 1976 dan gelar doktor kehormatan pada 1995. Dia menghabiskan satu tahun sebagai rekan di Pusat Urusan Internasional di Universitas Harvard dari 1991 hingga 1992.

Kishore Mahbubani menekuni dua karir yang berbeda, yakni dunia diplomasi (1971 hingga 2004) dan di bidang akademis (2004 hingga 2019). Selain itu, dia dikenal seorang penulis yang telah berbicara di berbagai negara.

Dengan latar belakang sebagai diplomat di Kementrian Luar Negeri Singapura, alias Singapore Foreign Service selama 33 tahun (1971 hingga 2004), dia pernah ngepos di Kamboja, Malaysia, Washington DC dan New York, di mana dia dua kali menjadi Duta Besar Singapura untuk PBB dan menjabat Presiden Dewan Keamanan PBB pada Januari 2001 dan Mei 2002.

Mahbubani tercatat sebagai satu dari 100 intelektual publik teratas di dunia versi majalah Foreign Policy and Prospect pada September 2005, dan termasuk daftar 50 orang teratas versi Financial Times, Maret 2009, yang akan membentuk perdebatan tentang masa depan kapitalisme.

Ia terpilih sebagai salah satu Pemikir Global Kebijakan Luar Negeri pada 2010 dan 2011. Dia dipilih oleh majalah Prospect sebagai salah satu dari 50 pemikir dunia terbaik untuk tahun 2014.

Kesimpulannya : ini profesor yang sesungguhnya. Kredibel. Mumpuni. Mengutip kata Youtuber Mbah Ndul, dia ini,  “ahlinya ahli – intinya inti, – core of the core”.

PROFESOR Kishore Mahbubani mendadak bikin heboh setelah menyebut Jokowi sebagai pemimpin paling efektif di dunia. Dia tak salah ucap dan keceplosan, melainkan menyusunnya dan disampaikan dalam tulisan berjudul ‘The Genius of Jokowi’. Tulisannya tayang pada 6 Oktober 2021 di Project Syndicate, sebuah media nirlaba yang fokus pada isu-isu internasional.

Presiden Jokowi, tulis Oom Kishore “telah menjadi pemimpin yang layak mendapat pengakuan atas keberhasilannya dalam memimpin. Jokowi, membuat model pemerintahan yang bisa dipelajari oleh dunia”.

“Pada saat bahkan beberapa negara demokrasi kaya memilih penipu sebagai pemimpin politik mereka, keberhasilan Presiden Indonesia Joko Widodo layak mendapat pengakuan dan penghargaan yang lebih luas. ‘Jokowi’ memberikan model pemerintahan yang baik yang dapat dipelajari oleh seluruh dunia,” ujar Kishore Mahbubani dalam tulisannya itu.

Dubes Indonesia untuk Singapura, Suryo Pratomo,  yang juga jurnalis senior, menyatakan, Indonesia beruntung mndapat pemimpin dari grass root, akar rumput. Pemimpin yang pernah menderita.  Dicontohkan, selama 70 tahun Indonesia merdeka hanya 40 juta tanah rakyat yang memiliki sertifikat. Dari ratusan juta pemiliknya, keluarga Indonesia hanya punya 40 juta surat kepemilikannya.

Lalu Jokowi melakukan sertifikasi, yang bisa digunakan sebagai jaminan kepemilikan dan agunan untuk bank. Total 31 juta lahan yang disertifikasi dan dibagikan yang setara dengan dari 70% dari 70 tahun pencapaian Indonesia selama ini. Katanya kepada Surya Maulana dari Medcom.id.

Pengamat Politik dari CSIS, J. Kristiadi menyambut positif itu. Prestasi Jokowi menepis politik identitas. Bisa merangkul prabowo dan sandiaga uno di pemerintahannya – terlepas dari kontroversi yang diakibatkannya.

“Urusan pandemi sebenarnya sangat luar biasa. Sedikit sedikit bisa diatasi, “ katanya, seraya menambahkan Indonesia memenuhi persyaratan untuk menjadi negara gagal. Tapi tidak gagal.

J. Kristiadi menyepakati pernyataan profesor Kishore, bahwa di Indonesia,  negeri yang susah diatur ini, Jokowi berhasil mengatasinya dengan baik. Dia fokus, tak peduli omongan orang.

Pertanyaannya, siapa yang bisa menjamin bahwa setelah era Jokowi ada pemimpin yang mau kerja keras, dikritik terus tapi tak peduli dan terus bekerja.  ***

About Supriyanto Martosuwito

Menjadi jurnalis di media perkotaan, sejak 1984, reporter hingga 1992, Redpel majalah/tabloid Film hingga 2002, Pemred majalah wanita Prodo, Pemred portal IndonesiaSelebriti.com. Sejak 2004, kembali ke Pos Kota grup, hingga 2020. Kini mengelola Seide.id.