Kuliner Indonesia: “Menggoreng Minyak Goreng”

Mengenang kehebatan Emak. Tidak merengek, karena minyak goreng mahal. Emak cari solusi, mengolahnya sendiri.

Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI

JAUH panggang dari api bila mengira kata ‘menggoreng’ pada tajuk di atas adalah kiasan saya untuk menyebut bahwa kisruh soal minyak goreng akhir-akhir ini, adalah cara pihak tertentu yang sengaja ‘menggoreng’nya agar jadi berita hangat. Sama sekali tidak. Tajuk di atas adalah pengalaman saya dengan Emak, yang biasa membuat minyak goreng sendiri dengan cara menggoreng santan kelapa..

Yang saya panggil ‘Emak’ tak lain adalah nenek alias ibu dari Ibu saya, yang di mata saya saat kecil sering saya anggap sebagai ‘orang sakti’ di dapur, karena kebolehan Emak mengolah sesuatu jadi makanan lezat atau sesuatu yang bermanfaat. Juga sekali waktu. saat Emak meminta saya mengupas dan membelah beberapa buah kelapa tua hasil dari pohon di pekarangan belakang rumah kami.

Saya kelas tiga Sekolah Rakyat (kini SD) saat itu. Tapi sekadar urusan mengupas buah kelapa sih, saya bisa dan biasa mengerjakannya. Dengan senang hati saya ambil golok buat membelah dan mencungkil kulit buah kelapa yang sudah mengering, lalu mengupas batoknya hingga menghasilkan butir buah kelapa mirip kepala botak. Kulit buah dan batok tidak dibuang, karena bisa dijadikan kayu bakar dan arang batok.

Pohon kelapa. Bahan minyak goreng.

Air kelapa juga tidak dibuang, melainkan ditampung di panci. Buat diminum, segar-manis-asam, atau kelak Emak mengolahnya menjadi cuka buat masak-memasak. Masih kata Emak, daging buah kelapa tua jika dijemur kering disebut kopra. Soal kopra, tentu saja saya tahu, karena di pelajaran Pengetahuan Umum, kopra disebut sebagai satu dari banyak jenis hasil bumi Indonesia yang diekspor ke banyak negeri.

Daging buah-buah kelapa itu lantas diparut Emak di baskom, diimbuhi beberapa gayung air bersih, lalu diperas hingga jadi santan. Ampas kelapa juga tak dibuang, tapi Emak berikan kepada tetangga untuk pakan itik dan soang peliharaan. Sedikit ampas disisihkan, buat membersihkan lantai ubin rumah kami. Percaya nggak percaya, lantai yang sudah dipel jadi berkilat bila digosok ampas kelapa.

Lalu untuk apa santan sebaskom itu? Apa Emak akan bikin kue atau masak rendang pesanan? Ternyata tidak. Emak justru menyalakan tungku perapian, menaruh sebuah penggorengan besar diatasnya, lantas menuang semua santan ke penggorengan. Ahai…! Emak justru menggoreng santan itu beberapa lama, hingga mendidih dan menguap airnya, menghasilkan cairan bening kental di bagian atas ampas santan.

Percaya nggak percaya, cairan agak kental bening kekuningan itu tak lain minyak goreng, sama persis dengan minyak goreng curah yang dijual tukang minyak goreng yang bersepeda masuk kampung keluar kampung. Hebat ya, Emak. Tidak merengek, karena minyak goreng mahal. Emak cari solusi, mengolahnya sendiri.

O, ya, ampas minyak di dasar penggorengan juga diolah Emak jadi berbagai camilan, lho…! ***

24/03/2022 PK 00:43 WIB.

Foto HeryusSaputro

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.