Manusia Silver dari Bayi sampai Pensiunan Polisi!

manusia silver

Manusia silver turun ke jalan (foto Herman Wijaya)

Oleh HERMAN WIJAYA

Fenomena manusia silver berkembang luar biasa. Pelakunya bervariasi. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Yang mengagetkan, mensilverkan tubuh untuk tujuan meminta-minta juga dilakukan pada seorang bayi dan seorang pensiunan polisi.

Di Pamulang, Tangerang Selatan sempat viral seorang bayi berusia sepuluh bulan dicat menjadi manusia silver. Pelakunya adalah sahabat dari ibu bayi tersebut, yang mengaku tidak tahu anaknya diperlakukan begitu. Yang dia tahu, orang yang mengajak anaknya pergi sering memberi uang jajan dan beli popok.   

Entah itu pengakuan jujur atau berbohong. Cuma agak aneh saja jika seorang ibu tidak tahu dibawa pergi ke mana anaknya yang masih bayi, padahal kepergiannya tidak sebentar.

Di Semarang, seorang manusia silver yang ditangkap Satpol PP ternyata pensiuan polisi.   AD, pensiunan polisi yang memutuskan jadi manusia silver itu  mengaku turun ke jalan mencari sumbangan — menjadi manusia silver — dengan dalih faktor ekonomi. Karena malu meminta bantuan kerabat atau rekan, akhirnya dia nekat menjadi manusia silver.

Entah sejak kapan jenis “manusia” ini muncul. Manusia berwarna perak, dikenal dengan sebutan “Manusia Silver”. Penggunaan kata silver karena orang Indonesia udah enggan menyebut kata perak. Yang jelas “spesies” yang satu ini belakangan jadi mudah ditemui, terutama di perempatan-perempatan kota besar. Di situ “spesies” ini berjoget-joget, berorasi sebentar lalu menyodorkan tangan atau wadah, untuk meminta-minta.

Kehadiran manusia silver merupakan fenomena yang mewarnai kota-kota besar, walau pun belakangan ini juga sudah muncul di kota-kota kecil. Tidak jelas kapan persisnya manusia jenis ini muncul. Tetapi bila ditelisik latar belakangnya ada dua penyebab, mengapa manusia yang tadinya berkulit normal lalu melumuri tubuhnya dengan cat berwarna perak, yakni soal kemiskinan dan kemalasan!

Dengan menjadi manusia silver, seseorang bisa dengan mudah mencari uang. Mereka cukup berorasi ala kadarnya, bertepuk tangan atau langsung menyodorkan kaleng bekas atau wadah lain di tangannya, untuk meminta-minta. Jadi dengan kata lain, manusia silver sama dengan peminta-minta atau pengemis jalanan.

Sebenarnya tanpa mengecat tubuhnya pun setiap orang bisa saja jadi peminta-minta. Dan itu juga banyak yang melakukan. Tetapi dengan mengecat tubuhnya, bisa jadi akan ada perasaan berbeda yang dimiliki orang yang melakukannya. Apakah itu membuatnya menjadi lebih percaya diri, atau dalam pandangan mereka calon pemberi sedekah akan merasa iba, lalu dengan ringan memberikan uang kepada mereka.

Antara Pengamen dan Pengemis

Menjadi manusia silver hanyalah salah satu cara orang untuk mendapatkan rejeki dengan cara meminta orang lain memberikan sedekah kepadanya. Bila ditelusuri lebih jauh, banyak sekali cara yang dilakukan.

Mengamen adalah cara yang paling banyak dipakai. Bermacam-macam cara mengamen: mulai hanya dengan bertepuk tangan; berorasi dengan sedikit intimidasi; menggunakan alat pemutar musik; menyanyi dengan speaker besar yang didorong dia tas gerobak; menggunakan gitar, memakai pakaian badut, sampai menggunakan kesenian tradisional seperti kuda kepang atau ondel-ondel. Tujuannya tetap sama: menggugah orang lain untuk memberikan sedekah.

Di masa lalu pengamen hanya ditemui di buskota atau di warung-warung makan untuk menghibur orang yang sedang makan. Tetapi kini pengamen tidak lagi memperhitungkan waktu dan tempat. Pengamen bisa ditemui di mana-mana: di kota, di kampung, di jalan-jalan, di warung pinggir jalan atau di perempatan-perempatan. Di Bogor pengamen menguasai angkot semua jurusan yang ada di kota itu.

Meruaknya pengamen ke berbagai tempat kemungkinan karena tidak ada lagi bus kota yang terbuka pintunya, yang memungkinkan mereka bisa turun naik sesuka mereka. Penyebab lainnya, karena makin banyak pengamen, sehingga mereka harus mencari tempat lain.

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menyebut, krisis di sektor kesehatan akibat adanya pandemi Covid-19 turut memengaruhi kondisi sosial ekonomi masyarakat, termasuk di antaranya adalah memberikan dampak bagi kondisi kemiskinan dan ketimpangan di Indonesia.

Hal ini terlihat pada bagaimana angka kemiskinan pada September 2020 meningkat dibandingkan dengan pada Maret 2020. Telebih jika dibandingkan dengan persentase dan jumlah penduduk miskin Indonesia yang sebelumnya terus mengalami penurunan selama 10 tahun terakhir.

Kemiskinan itulah yang mendorong orang untuk turun ke jalan menjadi pengamen dan pengemis. Apalagi disaat Pemberlakuan Pembataan Kegiatan Masyarakat (PPKM) diberlakukan, peluang orang untuk mencari rejeki dengan bekerja atau berdagang, semakin sulit.

Anak-anak muda – faktor penting dalam bonus demografi – yang tidak memiliki skill dan kegiatan, memutuskan untuk ikut terjun ke jalan guna memenuhi kebutuhan pribadi atau membantu keluarga, karena tak ada kegiatan lain yang bisa dilakukan.

Sementara negara tidak bisa berbuat banyak. Sampai hari ini, tidak ada satu rezim pun di Indonesia yang bisa menjalankan  Pasal 34 UUD 45. Pasal tersebut berbunyi “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”.

Pertanyaannya kemudian, benarkah mereka yang turun ke jalan untuk menjadi pengamen atau pengemis karena benar-benar terdesak kebutuhan ekonomi?

Jika ditanyakan kepada Anto Baret, Pendiri Kelompok Penyani Jalanan (KPJ), tidak semua pengamen adalah orang yang terdesak secara ekonomi. Banyak yang nyambi dengan kegiatan lain dengan menunjukkan ekspresi seni. Iwan Fals contohnya, pernah menjadi penyanyi jalanan.

Bahkan ada pengemis yang bisa membeli mobil mewah, rumah mewah, dan tanah belasan hektare. Tak hanya itu, sebagian dari mereka juga punya istri banyak. Bahkan, ada yang memiliki 7 istri. Dan mereka tetap jadi pengemis! Nah lho!*

About Herman Wijaya

Wartawan, Penulis, Fotografer, Videografer