Memilih dan Memilah Makna Kata – Menulis Kehidupan 289

Foto : Nicole/Pixabay

Sarana informasi digital menghasilkan banjir dan tsunami iformasi. Maka, setiap orang yang memiliki media digital bisa mengakses dan mendapatkan informasi apa yang dibutuhkan. Namun, kemampuan pikiran dan ketrampilan ternyata tidak secepat kemajuan sarana digital.

Saya mengibaratkan bahwa produksi kata-kata zaman now seperti samudera luas bagi seorang pribadi. Ada banyak peluang manfaat bagi yang memiliki kemampuan pengetahuan dan ketrampilan. Tetapi, bagi yang tak mampu atau terbatas ketrampilan, justru bisa menjadi ancaman dan sumber bencana. Maka saya tuliskan sajak:

Menyelami Samudera Kata-kata

Memang lidah tak bertulang
alirkan ludah dan kata
lewati selokan mulut kita
tergenang dan ikuti parit
ciptakan got busa comberan
Menjadi sungai kata-kata
ada yang jernih bening
ada yang berlumpur pekat
Mengalir ke muara peradaban
membaur ke dalam lautan
Lahirlah samudera kata-kata

Mulutmu harimau-mu
kata-kata jadi bumerang
bisa mencelakakan sang pembicara
Karena isinya tak pantas
Karena maknanya tak layak
Karena manfaatnya merusak
Karena tak berhikmat bijaksana
Bagi yang mendengarkan kata
dari yang ucapkan kata
Mungkin hujat caci maki
Mungkin fitnah iri dengki
Mungkin tipu muslihat bohong
Mungkin sumpah serapah permusuhan

Ada juga kata mulut manis
penuh pujian dan sanjungan
dengan janji dan harapan
disertai ayat kalimat suci
Yang memberikan harapan
Yang meliput lara derita
Namun
hanya ucapan kata semata
dari pikiran kotor busuk
dari hati yang munafik
dari sanubari jiwa licik
Karena ada kepentingan diri
Karena mau meraih jabatan
Karena ingin merebut harta
Karena demi puaskan gengsi
Karena menutupi kebejatan diri
Maka mulut manis berkata
dengan sumpah janji doa
bahkan dengan nama Pencipta

Setiap hari dan detik
Kata-kata terus tercipta
dari setiap pribadi insani
untuk aneka kepentingan diri
Waktu melihat dan mencatat
makna kebenaran kata-kata
Waktu mengiringi samudera kata
yang ciptakan sejarah fakta
tentang kejujuran setiap pribadi
tentang wajah tiap keluarga
tentang warna aneka komunitas
tentang setiap adat budaya
tentang tiap bangsa negara
tentang para pejabat politik
tentang para tokoh agama
tentang para pelaku bisnis
tentang aneka profesi manusia
Semua ditampung apa adanya
Di samudera kata-kata
Maka
tak ada yang mengelak
sebagai bagian dari samudera

Menelisik kata-kata manusia
gerakan lidah dan mulut
Ternyata hakekat kata-kata
mengalir dari kolam pikiran
memancar dari hati sanubari
Rahim jiwa setiap insan
yang ada dan menjadi
yang memberi makna diri
yang terjemahkan sosok pribadi
dalam kata ayat kalimat
demi aneka kepentingan hidup
karena beragam alasan makna
Hanya Mata Ilahi melihat
Hanya semesta yang mencatat
Hanya mentari yang memahami
hakekat sejati kata-kata
Pada samudera kata-kata
sejarah peradaban manusia
sejarah sosok tiap pribadi
karena ciptaan Sang Ilahi

Dari samudera kata-kata
ada asinnya fakta misteri
ada ombak memecah buih
ada gelombang dinamika makna
ada arus kepentingan insani
ada dasyat tsunami zaman
ada sampah dan racun
ada aneka kehidupan bersemi
Dunia seperti panggung sandiwara
kebenaran seperti pasir pantai
keadilan seperti batu karang
Kejujuran seperti mutiara alam
Samudera kata-kata terbentang
bagi para pelaut ulung
bagi para pemain ombak
bagi para penyelam tangguh
bagi para pelayar gigih
yang memahami arus gelombang
yang mengenal asinnya laut
yang berkawan badai topan
Karena
kesahajaan jiwa raga
menjaga hakekat harkat martabat
merangkul wajah alam semesta
dengan kerendahan hati nurani
berkata dengan sanubari sejati
mengemban amanah asali pribadi
Kata itu Sabda Ilahi

Menyimak Makna Suara dan Saling Mendengarkan- Menulis Kehidupan 288