Ketika banyak orang pamer harta tanpa kejelasan asal-usulnya. Netizen mulai kecewa dan mengekspos mereka agar teradili. Kemapa para lembaga penangkap koruptor ?
Dalam hal korupsi di Indonesia, menurut undang-undang yang berlaku, ada tiga lembaga yang berwenang; Kepolisian, Kejaksaan, KPK ( Komisi Pemberantasan Korupsi).
Namun akhir-akhir ini, para koruptor tertangkap bukan oleh ketiga lembaga tersebut, melainkan ada pihak lain yang berperan ditangkapnya para koruptor. Yakni netizen ( Warga Net). Mereka gencar mengekspos para pejabat dan keluarganya yang selama ini gemar pamer harta, gaya hidup atau mempertontonkan kemewahan hidup mereka.
Kecewa Lembaga Resmi
Netizen tidak percaya bahwa dengan gaji pejabat saja, mereka bisa hidup mewah. Selama ini, para petugas yang berhak menangkap koruptor, dianggap membiarkan saja lalu lalang di medsos mengumbar harta, menyakiti perasaan rakyat yang sedang kesulitan ekonomi. Kekecewaan mereka pada aparat hukum, diproyeksikan dengan mengekspos gaya pamer para koruptor dan keluarganya.
Gara-gara Mario Dandi yang gemar pamer mobil Rubicon, atau bermain Moge dengan atraksi di jalanan, netizen ramai-ramai mengekspos Mario di medsos. Sebagian netizen mencari tahu anak siapa Mario ini. Sebagian lagi meancari dengan serius, harta-harta lain keluarga ini.
Terkuaklah bahwa keluarga ini dari pejabat pajak yang memiliki beberapa rumah mewah, restarant bahkan kompleks properti yang rasanya tidak layak untuk seorang pejabat pajak.
Ketika netizen masuk ke website Dirjen Pajak dan melihat harta yang dilaporkan ayah Mario Dandy, Rafael Alun Trisambodo, terkuatklah, Rafael adalah calo pajak yang menyelewengkan uang rakyat untuk kemewahan keluarganya. Terlebih ketika kasus penganiayaan Mario, semakin lengkap siapa sebenarnya keluarga ini; koruptor dan orang yang sewenang-wenang kepada orang lain berkat kekayaan yang mereka agung-agungkan.
Ekspos Gaya Pamer
Keberhasilan ini membuat netizen semakin kreatif. Mereka membuka semua medsos milik pejabat atau mereka yang suka pamer di medsos. Adalah Kepala Bea dan Cukai Yogyakarta Eko Darmanto yang diangkat netizen berkat kegiatan pamer pejabat ini, lalu ditangkap dan masuk bui.
Menyusul setelah itu, netizen juga mengupload gaya hidup istri Kepala Badan Pertanahan Negara (BPN) Jakarta Timur Sudarman Harjasaputra, istri dan anak Kepala Bea dan Cukai Andhi Pramono, istri pejabat Kementerian Sekretariat Negara Esha Rahmanshah Abrar, dan yang terbaru istri Pejabat Pembuat Kebijakan Direktorat Jenderal Hubungan Laut Kementerian Perhubungan Muhammad Rizky Alamsyah.
Bahkan sebelum Johnny G Plate diciduk lantaran korupsi Menara BTS senilai Rp 8,32 triliun, Johnny dari Partai Nasdem yang menjabat sebagai Menkominfo ini terlihat sering naik sedan mewah ke kantor dan beberapa tempat untuk kongkow-kongkow. Harga mobil Mercedes-Maybach Johnny G Plate tergolong fantastis, mencapai Rp 6,7 miliar. Mobil berpelat RFT tersebut adalah Mercedes-Maybach S-Class (Maybach S650).
Menyakiti Rakyat
Foto-foto yang disebar Netizen itu juga kemudian yang membuat pihak Kejaksaan aktif memeriksa Menkominfo. Jika benar, ini adalah korupsi paling jahat yang dilakukan Parpol kepada masyarakat yang seharusnya diberi fasilitas menikmati layanan digital ke seluruh pelosok, dan daerah terpencil, namun BTS itu tidak ada karena dibuat bancakan. Secara gampang, orang tahu kemana duit segitu banyak disetorkan Johnny G Plate.
Perburuan netizen dalam mengekspos para pejabat yang suka pamer terbukti berhasil memukan korupsi yang selama ini tersembunyi dan dibiarkan oleh lembaga yang mestinya menangkap mereka. Para pejabat yang pamer ini kelihatan bahwa mereka koruptor baru. Koruptor lama tak mungkin pamer. Mereka harus menyembunyikan identitas mereka agar tak terlacak. Beda dengan koruptor baru yang bangga dapat uang cuma-cuma dari menggarong uang rakyat.
Pertanyaan Pertanyaan
Menjadi pertanyaan, apakah hanya pejabat dan keluarganya yang pamer saja yang bisa ditangkap ? Berpulang kepada kesungguhan 3 lembaga di Indonesia; Kepolisan, Kejaksaan dan KPK. Terbukti yang paling aktif saat ini justru Kejaksaan dan Netizen. Tapi, bagaimana jika netizen juga hanya hangat-hangat tahi ayam ? Bagaimana mengangkap koruptor yang tidak pamer yang jumlahynya terlalu banyak ?
Ada baiknya netizen juga membuat perkumpulan atau komunitas yang bernama Netizen Watch atau Lempat ( Lembaga Pengawas Penyelewengan Pejabat). Kalau lembaga negara tidak aktif, biar nasib krotuptor ada di tangan Netizen, mesti terbatas.
Waspadalah: Tidak Setiap Pengobatan Alternatif Masuk Akal Medis (1)






