Menolak Untuk Menyerah

Seid.id – Jujur, saya prihatin dan malu, ketika melihat video itu. Prihatin, karena video itu memotret suasana pabrik yang tidak ada kegiatan. Semua mesinnya mati dan tidak ada seorang karyawan pun yang bekerja!

Saya malu, karena dalam narasinya itu si empunya pabrik minta tolong, bahkan mengemis pekerjaan. Kesannya putus asa, menyerah, dan kalah. Dengan memperoleh order pekerjaan diharapkan mesin-mesinnya itu dinyalakan dan para karyawan bekerja kembali.

Ironis? Sangat ironis, karena itulah potret yang sebenarnya di sekitar kita. Mengapa takut menghadapi kenyataan? Mengapa kita ngeri membayangkan masa depan?

Sesungguhnya, ketakutan itu milik orang yang tidak percaya diri dan bermental lembek.

Sesungguhnya, kengerian itu milik orang yang lemah iman dan tidak mempercayakan hidup ini kepada kehendak Allah.

Coba ditelusuri sebab ketakutan itu. Usaha makin lesu, tidak ada order, pabrik bakal tutup, usaha bangkrut, dan kita ngeri menghadapi masa depan yang kelam.

Sebagai pimpinan, direktur, bahkan pemilik usaha, tidak seharusnya (maaf) kita teramat lebay. Sehingga rendahkan diri serendah-rendahnya mengemis pekerjaan. Hal itu tidak pantas, mempermalukan diri sendiri, menakut-nakuti karyawan, kita juga menebar aura negatif, dan meneror siapa pun yang melihat video itu.

Alangkah bijak, jika kita sebagai pimpinan, pejabat publik, atau orangtua tidak mengekspresikan sikap ketakutan yang berlebihan itu di depan karyawan, anak, dan disebar di medsos. Di hadapan mereka, kita harus menjaga wibawa, martabat, tegar, dan percaya diri.

Mencari Solusi

Apa pun bentuk ketakutan itu kudu dihadapi, dikelola, dan dicari jalan ke luarnya. Kita harus menentukan sikap: menolak untuk menyerah!

Fakta yang tidak bisa dipungkiri, dan nyata. Dunia tengah dilanda krisis energi, pangan, ekonomi, dan sekarang krisis pembeli!

Ekonomi makin sulit itu benar. Tapi tidak berarti akhir segalanya.

Langkah bijak adalah kita mawas diri. Melihat realita usaha sendiri, masalah yang dihadapi. Bisa jadi jualan kita mahal, kualitas barang rendah, pelayanan jelek, pengiriman barang tidak tepat waktu, dan seterusnya. Dengan mawas diri, kita benahi semua lini untuk menemukan solusi.

Bisa juga, kita mengumpulkan karyawan untuk diajak bicara, tanpa harus menakut-nakuti mereka tentang situasi sulit perusahaan. Kita mengajak mereka menggali ide kreatif yang mungkin terlewati. Untuk mengantisipasi ekonomi sulit dengan semangat optimistis dan lebih percaya diri.

Variabel Kemungkinan

Pemimpin yang bijak itu menolak untuk menyerah. Apa pun tantangan masa depan itu harus dijawab.

Seberat dan sesulit apa pun perekonomian dunia, hal itu tidak harus ditakuti, tapi diantisipasi.

Kita hendaknya sadar diri dan ingat, mempailitkan usaha itu mudah. Tapi, bagaimana dengan nasib karyawan dan keluarganya? Kita mempunyai aset, tapi mereka?

Ketika perekonomian makin sulit, kita tidak harus mengorbankan karyawan, tapi melindungi dan mempertahankannya. Karena mereka adalah aset perusahaan.

Dengan mendulukan kepentingan karyawan, kita makin ditantang dan dipacu untuk mencari solusi. Kita harus mampu merubah tantangan itu jadi peluang usaha.

Caranya, kita harus berani berubah untuk mengikuti perkembangan zaman. Dari bisnis konvensional, industrialisasi, hingga ke digitalasasi.

Variabel peluang usaha yang membuat kita makin optimistis untuk menyongsong masa depan yang gilang gemilang.

Seberat dan sesulit apa pun perekonomian ini, ketika kita fokus untuk berbuat baik dan mohon belas kasih Allah, maka pintu rezeki akan dibuka-Nya.


Mas Redjo

Bahagia Dengan Saling Mengasihi

Avatar photo

About Mas Redjo

Penulis, Kuli Motivasi, Pelayan Semua Orang, Pebisnis, tinggal di Tangerang