Metaverse: Antara Ada dan Tiada

Metaverse: Antara Ada dan Tiada

Dunia metaverse yang digadang-gadang menjadi dunia impian manusia nyata, tetap menjadi impian. Metaverse baru sebatas ide dan gagasan. Untuk menuju ke sana dibutuhkan kerumitan hidup tersendiri.

Sejak 2020 dunia metaverse telah didengungkan keberadaannya. Dunia di mana semua orang bisa berkumpul, berbisnis bahkan jalan-jalan tanpa keluar rumah. Hanya dengan duduk di ruang tamu atau duduk di kantor, setiap orang bisa kemana saja, berbuat apa saja, hanya dengan menggunakan sebuah alat.

Selama lebuh dari dua tahun ini, heboh metaverse dimana-mana. Semua perusahaan besar mengumumkan masuk dunia metaverse untuk menjangkau nasabah lebih luas. Perusahaan Facebook bahkan mengubah namanya menjadi Meta. Facebook harus membayar Rp 287 miliar hanya untuk memakai nama itu saja. Dengan mengganti nama, facebook berharap menjadi pemimpin dunia maya bernama Meta di Metaverse.

Perusahaan-perusahaan besar, dengan rakusnya “menciptakan “ tanah metaverse dengan menjual “ tanah” virtual dengan harga fantastis. Perusahaan sseperti Meta, Decentraland, sandbox menggelar jualan tanah seluas korek api dengan harga Rp 50 juta hingga Rp 1 miliar. 

Konon, dengan membeli rumah di lokasi strategisw, berdekatan dengan sosok populer, nilai tanah anda akan naik berlipat. Banyak orang membeli tanah untuk dibuat jalanan toko belanja seperti di Paris, menciptakan lokasi untuk pertunjukan musik, bahkan tempat nongkrong yang akan dihadiri oleh artis dan sosok ternama dunia. 

Semua itu bisa terjadi di metaverse. Dengan hanya duduk manis di ruang rumah atau sambil tiduran, sosok anda berupa avatar, akan bisa hdir di mana-mana di dunia metaverse. Sebuah dunia virtual sebagai imajinasi dunia nyata. Itulah dunia metaverse. 

Semua kehebohan di dunia maya bernama metaverse itu seperti dengungan lebah. Suaranya kencang, berdengung dimana-mana, namun tak ada kehidupan seperti itu di sana. Tanah dan kota metaverse yang digambarkan dan sudah terjual trilunan rupiah, tidak ada. Tepatnya, belum ada. 

Kenyataan, semua masih dalam angan-angan dan rencana. Kalaupun toh ada, hanya satu dua. Itupun jauh dari sempurna. Sepi. Saya mencoba masuk ke berbagai metaverse dan tak ada siapapun di sana. Tak ada artis. Tak ada pertunjukan musik rock macam Deep Piurple yang menggelegar. 

Tetapi, jika masuk dalam dunia game di metaverse, memang riuh. Banyak hal terjadi di dunia “ permainan” ( Game). Mau perang, main sepakbola, tinju atau memindahkan berbagai hambatan, di sana ada dan ramai. Seperti namanya, “ permainan” hanyalah tentang kalah dan menang. Tentang rugi dan untung. 

Bahkan menjelang tahun 2023 ini, tak ada bukti pertumbuhan metaverse. Kita belum sampai di sana, meski kehebohan menyertainya. Pun begitu, perusahaan Meta ( setelah berganti nama dari facebook), malah rugi sebesar 500 miliar dolar !. 

Belum ada orang baru yang kaya masuk metaverse. Yang kaya hanyalah mereka yang saat itu menjual tanah metaverse dan jadi rebutan para pedagang serakah. Metaverse sendiri saat ini, masih dunia yang dikhayalkan manusia yang penuh mimpi. 

Persis khayalan penulis novel Neal Stephenson berjudul Snow Crash yang terbit tajun 1992 yang menceritakan dunia metaverse dengan avatarnya. Salah satu kesulitan mewujudkan dunia metaverse kemungkinan adalah memerlukan teknologi tinggi sebab metaverse membutuhkan sebuah grafis yang kompleks dan berkualitas tinggi. Untuk memperoleh akses ke metaverse juga membutuhkan beaya yang besar.

Hidup di dunia nyata saja sulit, apalagi hidup di dunia metaverse yang lebih sulit dan kompleks. Manusia akan memilih hidup yang lebih sederhana dan tidak njlimet…..

Inilah Metaverse yang Akan Memeriahkan Dunia Anda

Vitalik: Metaverse ‘Akan Hidup’ Tetapi Meta ‘ Facebook Akan Gagal’

Metaverse Shiba Inu Menjual 100K Lebih Kavling Tanah

Pengalaman Haji di Dunia Metaverse dan Ulama dari Robot

Avatar photo

About Mas Soegeng

Wartawan, Penulis, Petani, Kurator Bisnis. Karya : Cinta Putih, Si Doel Anak Sekolahan, Kereta Api Melayani Pelanggan, Piala Mitra. Seorang Crypto Enthusiast yang banyak menulis, mengamati cryptocurrency, NFT dan Metaverse, selain seorang Trader.