Foto : Mohamed Hassan/Pixabay
Setiap pribadi manusia, sesuai dengan kondisinya, pasti memiliki harapan dan dambaan. Apa pun itu, setiap pribadi mengalaminya. Entah berupa hal material, status sosial, prestasi dan juga cita-cita serta mimpi kehidupan. Sudah banyak tulisan dan catatan sehubungan dengan rindu damba manusia.
Saya tertarik dengan ungkapan rindu damba manusia yang ditulis oleh dua penyair: Chairil Anwar dan Umbu Landu Paranggi. Ada inspirasi yang menggelitik, lalu kutulis dalam sajak:
Untuk 1000 Tahun Lagi
Kubaca tulisanmu Penyair
Abangku Chairil Anwar
“Aku….
kalau sampai waktu ku
Kumau…..
Aku ini binatang jalang
dari kumpulan terbuang….”
Dan
Kusadari aku ini Komodo
binatang purbakala jutaan tahun
menggeliat resah dan gelisah
Diperebutkan nafsu jalang
oleh yang rakus tamak
demi selera raga dan rasa
atas nama kelestarian kata
Kukagum gelora jiwamu
Saudaraku Umbu Landu Paranggi
“Kuingin hidupkan 1000 penyair”
dan engkau menari abadi
dalam samudera kata makna
dalam hempasan angin damba
dalam derap kuda Pasola
mengawal misteri savana Sumba
sudah ribuan lembar waktu
entah sampai 1000 tahun lagi
untuk dipotret dan dikagumi
untuk dahaga lapar mata
Dan
para generasi bumi Marapu
melangkah diam dibakar tanya
jalani hidup apa adanya
Engkau abadikan dalam kata
Kulihat generasi milenial
berkelana menerjang cakrawala
gerakan sanubari jiwanya
alirkan sejuta hasrat damba
pada ujung jari jemarinya
leburkan seluruh raga rasanya
padatkan seluruh alam semesta
satukan semua ruang waktu
pada layar sarana maya
Sambil daraskan doa mantra
“Aku generasi pewaris digital
Aku ingin menjadi data
Aku ingin ada abadi
Aku ingin hidup selamanya”
Aku maknai kalimatmu Penyair
‘Kuingin hidup 1000 tahun lagi’
Seperti umur pasir pantai
dihempas buih ombak samudera
Seperti angin di wajah lautan
Seperti ilalang di padang savana
ditemani derap damba kuda
Seperti komodo yang merana
diterjang gelombang bisa kata
Seperti karang dihempas gelombang
dalam ajaibnya semesta
Nafas tanya menderu abadi
Jantung harap berdetak lestari
Energi inkarnasi cahaya mentari
terus memancar tak bertepi
Kuingin hidupkan 1000 Penyair
Itu dambamu Penyair
Dan
Aku ingin terus menulis
1000 sejuta berjuta kata
tentang pernak-pernik hidup
apa yang ada dan terjadi
apa yang bisa dialami
apa yang mampu dipikirkan
yang sudah dan sedang terjadi
Bahkan
yang hanya dalam mimpi
karena hidup itu mimpi
karena mimpi itu abadi
lestari dan tak bertepi
jembatan misteri insani Ilahi
ada dan terus berinkarnasi
dalam kata dan literasi
termasuk tulisan sajak ini
“untuk 1000 tahun lagi”





