Penulis Jlitheng
Peduli adalah tentang konsekuensi. Ungkapan Jawa wani nyeblung wani teles merupakan gambar sikap pemimpin, relawan, sahabat Tuhan yang berintegritas.
Ketika seseorang akan masuk kolam, orang itu seharusnya sudah tahu akan basah. Ada hubungan yang tak dapat dihindari antara wani, nyeblung, dan basah.
Setiap keputusan yang kita ambil pasti ada konsekuensinya. Legowo merupakan sikap yang seharusnya melandasi. Jika tidak, kita akan selalu dihantui oleh kebimbangan yang tak kunjung tuntas. Hati selalu lelah dan pelayanan takkan pernah membuat wajah ini mampu tengadah. Tak ada rasa bangga dan… there is no sense of gratitude.
Pepatah wani nyeblung wani teles itu akan makin klop jika disatukan dengan pepatah berikut: Yen wedi aja wani-wani, yen wani aja wedi-wedi. Jika tidak merasa yakin, jangan kau lakukan, namun jika sudah yakin, jangan bimbang dan ragu.
Sejak semula kita bertekad jadi relawan atau pelayan Tuhan yang punya prinsip, tegas, dan tidak ragu.
Namun, sebagai manusia memang terkadang berada di masa yang sangat berat, bahkan untuk sekadar bernapas rasanya sulit dan sesak. Kebetulan mungkin, rasa sulit itu berbarengan dengan masa pengabdian yang sedang kita jalani. Merasa lelah, sendiri, tidak berhasil, tidak diterima.
Ingin rasanya meletakkan beban itu. Ingin bernapas lega seperti semula, ingin merdeka, ingin tanpa beban.
Pertanyaannya: Kalau bukan dirimu , siapa yang Kuutus?
Pastikan tak sejengkalpun salibmu terpotong– sebab disanalah tertulis rapor hidupmu.
Salam sehat dan tetaplah rela berbagi cahaya kalaupun nyalamu sedang redup.






