Percakapan Terakhir dengan Mas Bens Leo

Jurnalis senior yang langka, ramah dan santun, selalu ngemong kepada yang muda, tak pelit berbagi ilmu dan cerita. Kredibel di kalangan musisi, produser dan komunitas musik .

Oleh DIMAS SUPRIYANTO

“DIMAS jadi ke Puncak? Ikut acara Jambore Wartawan?” tanya Mas Bens Leo, usai menjadi juri Lomba Musik Keroncong Lintas Genre di Gedung RRI, yang diparkarsai oleh penyanyi Indra Utami Tamsir (IUT) dan RRI. Saya mengangguk. “Sayangnya saya nggak bisa. Harus ke luar kota. Salam sama teman teman, ya? ” pesannya. Lalu kami foto bareng, dengan mbak IUT juga.

Itulah perjumpaan terakhir saya dengan Bens Leo, Rabu siang, 10 November 2021. Bersamanya ada musisi Dikdik SSS, pegiat seni dan jurnalis senior Ninok Leksono, Ketum KSBN Hendarman Supandji, dan para peserta lomba musik keroncong lintas genre.

Lalu kami berpisah. Saya jadi ke Puncak, dan menyampaikan salam ke rekan rekan Forum Wartawan Hiburan (Forwan), Mas Bens tak bisa gabung.

Beberapa hari sesudah itu, saya mendengar Mas Bens dilarikan ke rumah sakit. Banyak kegiatan, banyak acara, sering menempuh perjalanan jauh, fisik capek, sering diminta foto bareng, buka masker, di usia yang tak muda lagi, menjadi pintu masuk virus Covid 19. Saya sedih.

Kesedihan bertambah, karena isteri Mas Bens, Mbak Pauline Endang juga tertular. Bahkan putra tunggalnya, Addo Gustaf Putra juga terinveksi. Saya membayangkan betapa repot keluarga yang merawat mereka. Teman teman yang selama ini merekam kegiatannya untuk vlog dan channel Youtube, memberi support.

Pagi hari tadi, sekira pukul 03.00 mendadak saya bangun dalam keadaan segar. Karena lelah beraktifitas siang, saya ketiduran sore. Karena “terlalu” sore, jadi bangunnya “terlalu” pagi. Dalam keadaan segar saya membuka buka FB, dan terbaca kembali pesan Dion Momongan dan Nini Sunny, jurnalis seangkatan yang selama banyak mendampingi Mas Bens Leo . Postingannya meminta agar kami semua yang pernah dekat dengan Mas Bens mendoakan kesembuhannya. Disertai foto foto kebersamaan kami.

Saya punn segera menulis postingan agar Mas Bens Lekas sembuh, disertai doa bahasa Jawa. Sekira pukul 06.00 pagi saya unggah di Facebook. Setelah postingan itu, saya mengantuk lagi dan tidur lagi. Lalu terbangun lagi pukul 10.00-an dan membaca pesan dari postingan Nini Sunny bahwa Mas Bens telah pergi. Selamanya.

Ya, Tuhanku!

Kepala ini langsung berputar lagi. Shock. Lemas.

Dimas Supriyanto (Seide.id), Indra Utami Tamsir ( IUT ) dan Mas Bens Leo di Gedung RRI, 10 November 2021 lalu. Kenangan terakhir. Foto.dok.

Saya menghubungi IUT via mesenger, dan dia hanya ngungun dan sambat. Mengirim wajah tangisan berderai derai. Betapa tidak?

Beberapa hari sebelumnya, keduanya masih beraktifitas bareng dan ceria. Hangat. Acara sukses.

Saya pun masih berharap bisa membezoek Mas Bens. Kabar terakhir tentangnya saya dapatkan dari Dudut Suhendra Putra. Fotografer yang juga banyak mengerjakan project bareng Mas Bens. Kondisinya masih menurun, katanya pelan, di Gedung Perfilman Kuningan, Kamis (25/11) lalu. Saya tak putus harapan. Terus berdoa. Saya berjanji akan mereview buku yang diterbitkannya, dan akan saya tag beliau: buku memoar dan rekaman selama 50 tahun menjadi jurnalis musik.

Tak disangka Mas Bens tak sempat menerima review dari saya.

Bens Leo menulis sejak 1971, dan saya masih belajar ketika beliau sudah senior. Tapi sikapnya jauh dari kesan jurnalis kawakan yang jumawa. Pembawannya ramah, ngemong dan ngayomi yang muda. Membimbing. Banyak bercerita seputar pengalamannya bergaul dengan musisi dan pernik perniknya. Membahas UU Musik dan liku liku permasalahannya.

Kehormatan bagi saya saat sama sama duduk sebagai Juri di Usmar Ismail Awards (2016 dan 2017) lalu. Diam diam saya – dan nampaknya kami semua – menunggu hasil penilaiannya terhadap musik film, music score dan theme song. Ngeri juga kalau hasilnya beda jauh. Para wartawan rata rata menguasai sinematografi, skenario, akting, tapi ketika menukik ke artistik dan musik, kami gamang. Dari sana pada festival berikutnya, kami tak menilai teknis lagi. Bahaya. Kami bukan ahlinya.

Kepergian mas Bens Leo di usia 69 tahun menyadarkan kami, betapa sulit mencari penerus dan penggantinya. Bens Leo sungguh sugguh sosok jurnalis teladan, setia pada profesi, memiliki kepribadian baik, ramah, tekun, santun, kredibel dan siap membantu siapa pun: kepada teman sesama wartawan, kepada artis, komunitas musik umumnya.

Dia tokoh musik yang dihormati oleh semua kalangan. Namanya selalu disebut dalam daftar juri lomba yang terkait musik. Jaminan kredebilitas. Dari Ian Ahmad Albar dan Ian Antono yang Rocker, hingga Rhoma Irama si Raja Dangdut, IUT yang Diva Keroncong, hormat padanya. Juga para produser dan event organiser. Dia juga pengalaman sebagai produser. Kegiatan musikalitasnya lengkap.

Mas Bens Leo adalah jurnalis paripurna. Tak diragukan lagi.

Sugeng tindak Mas Bens Leo.

Gusti Allah Paring Swarga.

Amin. ***

About Supriyanto Martosuwito

Menjadi jurnalis di media perkotaan, sejak 1984, reporter hingga 1992, Redpel majalah/tabloid Film hingga 2002, Pemred majalah wanita Prodo, Pemred portal IndonesiaSelebriti.com. Sejak 2004, kembali ke Pos Kota grup, hingga 2020. Kini mengelola Seide.id.