Perempuan dan Anak-Anaknya (6)

Oleh: Gerson Poyk

Hari itu A tidak tahan berlama-lama duduk di dalam rumah yang penuh dengan kemurungan itu. Ia pulang cepat-cepat ke penginapan. Sehabis makan ia melemparkan badannya ke atas tempat tidur. Pikiran dan perasaannya mematuk-matuk mencari titik yang jelas. Ia seolah berada di laut. Ia seolah berenang. Ia menemukan sebilah papan yang menyelamatkannya. Ia mendengar anak-anak menangis di sampingnya. Tetapi ia hanya dapat menolong seorang. Yang empat lagi?

Tiba-tiba terlintas pikiran yang lain. Pikiran yang mengacaukan. Ia jadi benci pada Hadijah. Ia berpikir bahwa setiap gerakan mesti memakai uang. Setiap gerakan berwatak borjuis karena gerakan itu harus memiliki harta, misalnya alat-alat komunikasi seperti radio, mobil dan sebagainya, dan menyewa orang-orang seperti halnya seorang toke kapitalis menggaji manusia. Bukan, bukan saja kapitalisme berwatak borjuis, tetapi juga komunisme. Berpikir demikian, ia kemudian tidak percaya bahwa Hadijah tidak punya apa-apa untuk membiayai anak-anaknya. Tentu ada kecipratan emas atau apa saja yang sudah disembunyikan dalam tanah. Wanita itu licik. Mana bisa tidak licik kalau sudah bertahun-tahun menjadi istri seorang tokoh partai yang licik?

Hari segera menjadi sore. Hari segera menjadi malam. A bergegas menemui Hadijah.

“Kau telah mempermainkan aku dengan air matamu yang palsu. Air mata buaya betina!” katanya kepada Hadijah. Hadijah tidak menjawab. Jantungnya berdebar karena perubahan yang mendadak itu. “Saya tidak percaya bahwa istri Gestapu yang berkomplot dengan pemilik pabrik penggilingan padi dan lain-lain orang-orang borjuis kapitalis, tidak kebagian harta. Kau harus mengaku. Kau hanya mau menyelamatkan benda dengan membuang anak-anakmu. Wanita materialistis!” Ia menggerutu. Hadijah jadi bisu. “Kau sekarang dikelilingi oleh pendapat umum!”

Anak-anak bermunculan satu persatu. Ada yang memegang bongkah ubi, ada yang sedang memamah-mamah tebu. A memperhatikan anak-anak itu. “Lihatlah anak-anak ini. Tegakah kau meninggalkan anak-anak ini?”

Perempuan bisu tuli itu muncul. Melihat perempuan itu, A bersuara lebih keras : “Walaupun kau mencari pengasuh buta sekali pun, pendapat umum tidak dapat dibantah. Rahasiamu segera diketahui. Katakanlah bahwa kau tidak punya harta, sehingga kau terpaksa jadi pengemis, atau jadi pelacur, atau jadi bajingan wanita. Pendapat umum tidak percaya!”

Sehabis melepaskan gerutuannya kepada wanita itu, ia pulang. Ia sendirian dalam kamar. Sekarang ia tidak ambil pusing dengan urusan orang-orang hidup. Persetan. Orang-orang hidup tidak selalu jujur. Yang jujur hanyalah mayat-mayat yang berkata tentang kebenaran yang tidak bisa dibantah, bahwa semua manusia akan mati. Hidup ini begitu rapuh dan fana. Ia sadar akan hal ini. Ia bukan mayat yang sekarang sedang dalam proses pembusukan di lubang yang senyap itu, tetapi ia sadar bahwa ia juga sekali waktu akan demikian. Kesadaran ini sungguh membikin ia tergolak-golak gentar. Di atas tempat tidurnya. Ia takut dan gentar. Takut dan gentar ini baginya tidak ada pada massa. Takut dan gentar yang timbul oleh kesadaran mati adalah masalah pribadi. Tidak bisa dikumpul menjadi kwantitas massal ruangan yang besar seperti Main Stadium Senayan. Kesadaran ini bukan massal, tetapi ia sendiri yang merasakan. Ia menyebut-nyebut Tuhan. Ia sendiri berhadapan muka dengan Tuhan malam itu. Malam yang sangat larut.

Tiba-tiba pintu diketuk orang. Ia terhuyung ke pintu dan membukanya. Ia melihat pelayan dan beberapa orang berdiri di depan pintu.

“Apa bisa pesan kopi?” Tanya dia kepada pelayan.

“Kami datang bukan untuk mengurus kopi. Kami datang untuk menahan saudara!” kata teman pelayan. Setelah A memperhatikan orang itu, ia mengenalnya. Laki-laki itu adalah penjual rokok di depan rumah Hadijah.

“Saudara-saudara siapa? Dari mana?” Tanya A.

“Kami petugas keamanan kampung. Saudara ikut sekarang,” kata seorang. “Saudara telah kasak-kusuk dengan Gerwani besar.”

A tidak ambil pusing dengan orang-orang itu. Ia bergerak untuk menutup pintu. Tetapi orang-orang itu menahannya. Hampir semua menyahut golok mereka. A mengikuti kemauan mereka. Ia dibawa ke tengah lapangan. Ia disuruh duduk lalu diadili.

“Saudara-saudara, jangan keburu membunuh. Saya hanya kasian pada anak-anak yang baik.” Suara A gemetar sebab ia sadar betul bahwa ia sekarang berhadapan muka dengan keliaran binatang yang bersembunyi dalam perbuatan manusia.

“Saudara siapa?” kata seorang.

“Saya musuh K”.

“Mengapa saudara mau memelihara anaknya?”

“Musuh saya bukan manusia, tetapi faham dan perbuatan yang sesuai dengan faham yang salah itu.”

“Mana surat-surat?” Tanya lagi salah seorang.

“Ada di kamar,” jawab A.

Si pejalan disuruh temannya mengambil surat-surat keterangan. Kemudian ia kembali. Dibawanya tas A. Surat keterangan itu diperhatikan oleh mereka. Lalu mereka memperhatikan isi tas.

“Begini,” kata seorang. “Kebetulan saudara pegawai negeri. Pegawai tinggi golongan F. Kami juga pegawai negeri. Pegawai rendah golongan A. Ada yang tidak punya golongan apa-apa. Saudara mengerti penderitaan akhir-akhir ini. Kami minta saudara membagi-bagi harta yang diberikan oleh Gerwani gede itu!”

“Dia punya harta? Betul?”

“Yang di dalam tas itu apa ?”

“Itu milikku!”

Tetapi mereka tidak ambil pusing. Mereka mengemarkan isi tas.
Sementara itu sebuah mobil patroli lewat. Mobil itu segera membelok. Sinar lampunya sayup menyapu mereka. Hati A girang karena berpikir bahwa mobil itu akan berhenti dan perampok-perampok itu akan lari, kemudian dikejar. Tetapi mobil itu lewat saja.

Bersambung

(Ditulis September 1966)

Avatar photo

About Fanny J. Poyk

Nama Lengkap Fanny Jonathan Poyk. Lahir di Bima, lulusan IISP Jakarta jurusan Jurnalis, Jurnalis di Fanasi, Penulis cerita anak-anak, remaja dan dewasa sejak 1977. Cerpennya dimuat di berbagai media massa di ASEAN serta memberi pelatihan menulis