Pergeseran Selera Rokok Paska Pandemi

Rokok Eceran di Minimarket

Sejak awal pandemi di mana daya beli masyarakat menurun, banyak masyarakat perokok bergeser ke rokok-rokok dengan harga Rp10  ribu per bungkus isi 12 batang, seperti rokok dengan brand Forza, Aroma, Gudang Garam Patra, 3 6 9, Marlboro kretek tanpa filter dan lain-lainnya.

Oleh YUDAH PRAKOSO R*

SEJAK Pemerintah berencana menaikkan cukai rokok sebesar 12,5% tahun 2022, sejumlah pengusaha rokok ramai-ramai mengajukan keberatannya. Alasan pemerintah salah satunya yang utama adalah untuk kesehatan masyarakat dan mengurangi jumlah perokok anak anak, meskipun di salah satu sisi Pemerintah mentargetkan pemasukan pendapatan negara dari cukai rokok sebesar 11,5 % dari tahun sebelumnya. 

Pendapatan negara dari hasil cukai rokok sebesar Rp. 180 triliun pada tahun 2021 akan dinaikkan menjadi Rp.205 Triliun rupiah pada tahun 2022.

Seperti yang dilansir Antara , 22 Agustus 2021 lalu, Kalangan pelaku usaha mengingatkan pemerintah untuk tidak menaikkan target cukai rokok pada rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2022. Selain dinilai karena cukai sudah tinggi, kenaikan dikhawatirkan berdampak terhadap tenaga kerja di industri tersebut.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Haryadi Sukamdani, mengatakan bahwa  kenaikan cukai nrokok sudah mengalami kenaikan yang tinggi pada rentang 2017 -2019. Dengan demikian rancangan kenaikan sebesar di atas 10 persen dalam nota keuangan APBN 2022 dinilai tidak ideal karena baseline – nya sudah tinggi, Dampaknya harga rokok menjadi semakin mahal, di tengah daya beli masyarakat yang menurun. Kondisi ini akan menjadi alasan beredarnya rokok-rokok ilegal.

Sesungguhnya sejak sebelum pandemi Covid-19 telah terjadi pergeseran selera rokok di masyarakat. Ketika pasar tembakau mulai marak belakangan ini  dengan aneka jenis tembakau Nusantara, masyarakat perokok mulai berpindah ke tembakau eceran, seperti tembakau Mole, tembakau Siluk,  tembakau Jember, tembakau Boyolali, tembakau Temanggung, tembakau Gayo, tembakau Madura dan sebagainya.

Masyarakat mulai melinting sendiri baik dengan telapak dan jari tangan atau alat linting yang bisa dibeli di toko-toko tembakau, meskipun banyak perokok juga mengkonsumsi tembakau eceran dari produk Gudang Garam, Dji Sam Soe, Sampoerna, Djarum, Bentoel, dan sebagainya.

Selain itu banyak juga perokok yang bergeser seleranya memilih produk rokok rumahan yang bercukai seperti CK, Habbat, Divine, Tani Madjoe, Sehat Tentrem dan sebagainya yang dipercaya mengandung rempah-rempah dan berguna bagi kesehatan seperti anti batuk, anti flu, pelancar peredaran darah, hipertensi, jantung, diabetes dan lain-lainnya, pergeseran selera ini kemudian sangat signifikan terjadi pada masa pandemi . Seperti yang dikatakan oleh Faris, Kamis 23 September 2021 siang, seorang penjual rokok dan tembakau dengan nama toko “Tobeko” di Yogyakarta.

Menurut Faris, sejak awal pandemi di mana daya beli masyarakat menurun, banyak masyarakat perokok bergeser ke rokok-rokok dengan harga Rp10  ribu per bungkus isi 12 batang, seperti rokok dengan brand Forza, Aroma, Gudang Garam Patra, 3 6 9, Marlboro kretek tanpa filter dan lain-lainnya.

Selain segmen rokok kelas sepuluh ribuan, juga cukup banyak masyarakat yang beralih mengkonsumsi tembakau eceran, yang kemudian dilinting sendiri atau tingwe – nglinting dewe baik menggunakan kedua telapak tangan maupun memakai alat linting manual.

Seperti yang dikatakan oleh Laksita Lintang seorang mahasiswa Fakultas Filsafat UGM, bahwa sejak merokok lintingan sendiri kini sudah sulit lagi bisa menikmati rokok – rokok bermerek, atau sebut saja rokok merek mainstream.

“Saya sudah hampir setahun ini membeli tembakau eceran dan melinting rokok sendiri, dengan demikian saya bisa mencampur aneka tembakau sehingga mendapatkan rasa baru dan enak. Sejak itu saya tidak pernah lagi beli rokok bermerek, selain terlalu mahal, juga rasanya sudah nggak enak, saya nggak cocok lagi, terus malah pusing”, kata Lintang di sebuah kedai angkringan di Kawasan UGM (Selasa, 21 September 2021).

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Herlambang Yudho, seorang fotografer di Yogyakarta. Sejak mulai merokok tingwe kini dirinya sudah tidak bisa menikmati nikmatnya rokok-rokok buatan pabrik seperti rokok dengan merek – merek terkenal. Herlambang lebih memilih tembakau khusus yang dicampur dengan ramuan mentol dan dilinting dengan brown paper .

“Ini saya linting sendiri, dengan kertas rokok berwarna coklat, tembakaunya khusus, soft, halus, dan berasa menthol. Rokok ini bisa membuat kebal virus dan menangkal flu”, demikian kata Herlambang Yudho sambil menunjukkan rokok hasil lintingannya, Rabu 22 September 2021 di Depan Gelora Pancasila UGM.

Kini mata rantai perdagangan rokok mengalami simalakama. Di satu sisi ada kebijakan Pemerintah  menaikkan cukai rokok untuk mendongkrak pendapatan negara dari cukai rokok yang besarnya di atas 10% dari tahun sebelumnya. Di sisi lain semakin mahalnya rokok menjadi stimulan para perokok untuk bergeser ke rokok – rokok murah kelas sepuluh ribuan per bungkus isi 12 batang, dan pecinta tembakau eceran semakin membesar jumlahnya. (*YP)

*Penulis adalah mantan jurnalis televisi swasta nasional.

About Admin SEIDE

Seide.id adalah web portal media yang menampilkan karya para jurnalis, kolumnis dan penulis senior. Redaksi Seide.id tunduk pada UU No. 40 / 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Opini yang tersaji di Seide.id merupakan tanggung jawab masing masing penulis.