Foto : Thulfiqar Ali / Unsplash
Penulis : Jliteng
Ketika pengalaman hidup terasa terjal, di situ berkat Allah limpah. Yang dinanti adalah : “Membuka hati, tabah menjalani, bersujud, dan meletakkan keterjalan itu pada tuntunan Ilahi.“
Pernyataan di atas adalah gema cinta dan kesaksian iman dari beberapa kakek, sahabat dan saudaraku yang saya kenal, usia mereka 66 tahun ke atas, yang dengan tekun menjalani hidupnya yang terjal, sunyi dan sendiri, namun dengan tabah tunaikan panggilan hidup.
Seperti kakek yang setiap hari tak henti pergi ke panti jompo, jumpa dan ngladeni istrinya dengan seutuh hati, walau dia tahu sang istri tak mengenal kakek itu lagi, tapi satu jengkal pun kakek itu takkan bergeser, seterjal apapun hidupnya kini. Begitulah gambaran para kakek, sahabat dan saudaraku itu. Mereka memberi kesaksian iman yang sungguh riel dan hidup. Kisah cinta mereka ditulis dan dilukis dalam sehelai kanvas yang tak lain adalah hidupnya sendiri bersama istrinya.
Panti jompo dan alzeimer adalah gambaran batas daya hidup manusia. Batas daya yang tak menghalangi para kakek itu, dengan tidak mengeluh menjalani hidup terjalnya. Cinta yang tanpa pamrih, bagaikan surya menerangi dunia, bagaikan air yang tak henti membasahi bumi yang makin tandus.
Terimakasih para sahabat, para suami yang kini jadi kakek. Hidupmu sungguh cahaya yang tak pernah padam, kendati angin tak henti bertiup menerpamu.
Salam sehat dan tak henti berbagi cahaya.






