Pijar Hidupnya Tak Pernah Padam – Catatan halaman 140

Foto : Thulfiqar Ali / Unsplash

Penulis : Jliteng

Ketika pengalaman hidup terasa terjal, di situ berkat Allah limpah. Yang dinanti adalah : “Membuka hati, tabah menjalani, bersujud, dan meletakkan keterjalan itu pada tuntunan Ilahi.“

Pernyataan di atas adalah gema cinta dan kesaksian iman dari beberapa kakek, sahabat dan saudaraku yang saya kenal, usia mereka 66 tahun ke atas, yang dengan tekun menjalani hidupnya yang terjal, sunyi dan sendiri, namun dengan tabah tunaikan panggilan hidup.

Seperti kakek yang setiap hari tak henti pergi ke panti jompo, jumpa dan ngladeni istrinya dengan seutuh hati, walau dia tahu sang istri tak mengenal kakek itu lagi, tapi satu jengkal pun kakek itu takkan bergeser, seterjal apapun hidupnya kini. Begitulah gambaran para kakek, sahabat dan saudaraku itu. Mereka memberi kesaksian iman yang sungguh riel dan hidup. Kisah cinta mereka ditulis dan dilukis dalam sehelai kanvas yang tak lain adalah hidupnya sendiri bersama istrinya.

Panti jompo dan alzeimer adalah gambaran batas daya hidup manusia. Batas daya yang tak menghalangi para kakek itu, dengan tidak mengeluh menjalani hidup terjalnya. Cinta yang tanpa pamrih, bagaikan surya menerangi dunia, bagaikan air yang tak henti membasahi bumi yang makin tandus.

Terimakasih para sahabat,  para suami yang kini jadi kakek. Hidupmu sungguh cahaya yang tak pernah padam, kendati angin tak henti bertiup menerpamu.

Salam sehat dan tak henti berbagi cahaya.

Lahir dari Hidup Yang Biasa-biasa – Catatan halaman 139

Seiring Sejalan Jadi Kudus – Catatan halaman 138

About Admin SEIDE

Seide.id adalah web portal media yang menampilkan karya para jurnalis, kolumnis dan penulis senior. Redaksi Seide.id tunduk pada UU No. 40 / 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Opini yang tersaji di Seide.id merupakan tanggung jawab masing masing penulis.