Polisi Moral Pukuli Wanita Kurdi, Iran Dilanda Kerusuhan

Kerusuhan di Iran01

Kerusuhan bentrokan warga dan polisi huru hara meletus di berbagai kota di Iran akibat tewasnya seorang wanita Kurdi berusia 22 tahun yang ditahan setelah dituduh tidak mengenakan jilbabnya dengan benar. Kerusuhan menginjak hari ke lima dan belum ada tanda tanda berhenti.

Seide.id –  Gerakan wanita Iran menolak hijab menuai korban dan menyulut kerusuhan di republik Islam itu.   Para pengunjuk rasa perempuan berada di garis depan dalam aksi protes yang kian membesar di Iran dan mereka telah membakar sejumlah hijab. 

Aksi itu dipicu oleh kematian seorang perempuan yang ditahan karena melanggar undang-undang hijab.  Mahsa Amini, perempuan Kurdi 22 tahun itu dituduh melanggar hukum yang mewajibkan perempuan untuk menutupi rambut mereka dengan hijab, dan lengan dan kaki mereka dengan pakaian longgar.

Menurut saksi mata, Mahsa Amini, 22, dipukuli saat berada di dalam mobil polisi yang menangkapnya. Kekerasan yang ia alami membuatnya berada dalam kondisi koma.foto Screenshot-twitter

Mahsa Amini ditangkap di ibu kota  pada hari Selasa (13/09) oleh polisi moral Iran karena diduga tidak mematuhi aturan berpakaian tentang hijab.  Amini  mengalami koma selama tiga hari,  setelah pingsan di pusat penahanan dan meninggal dunia di rumah sakit pada hari Jumat (16/09).

Terdapat beberapa laporan bahwa polisi memukul kepala Amini dengan tongkat dan membenturkan kepalanya ke salah satu kendaraan mereka, kata Penjabat Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Nada al-Nashif.

Menurut saksi mata, dia dipukuli saat berada di dalam mobil polisi yang menangkapnya. Kekerasan yang ia alami membuatnya berada dalam kondisi koma.

Namun pihak kepolisian Iran membantah tuduhan pemukulan, dengan mengatakan bahwa Amini “menderita gagal jantung mendadak”.

Kematian Mahsa Amini segera  mengobarkan kerusuhan di seantero negeri.  Demonstrasi terus berlanjut selama lima malam berturut-turut, dan mencapai beberapa kota besar dan kecil di Iran.

Para pengunjuk rasa bergandengan tangan untuk membentuk rantai manusia untuk menghentikan polisi anti huru hara di Keshavarz Boulevard, Teheran Tengah.

Di pusat kota Kerman, pengunjuk rasa langsung menghadapi polisi anti huru hara dan petugas berpakaian preman, mencegah mereka memukuli dan menangkap sesama pengunjuk rasa, pada hari ke lima kerusuhan di Iran.

Di Divandarreh, provinsi Kurdistan, polisi anti huru hara bentrok dengan pengunjuk rasa ketika pasukan keamanan menembakkan tembakan ke kerumunan, yang dilaporkan melukai setidaknya 10 orang, pada hari keempat protes di Iran atas kematian MahsaAmini.

Unggahan dari Jaringan Hak Azasi Manusia Kurdistan di Twiiter yang melaporkan, sejak awal protes terhadap pembunuhan MahsaAmini, pasukan antihuru-hara Iran menewaskan sedikitnya 7 pemrotes yang diidentifikasi sebagai Farjad Darvishi, Mohsen Mohammadi, Fereydoun Mahmoudi, Reza Lotfi, Zakariya Khiyal, Foad Ghadimi & Minou Majidi, sebagaimana nampak foto foto mereka di gambar.

Protes kekerasan yang dibalas tembakan dan tindakan represi polisi, mengakibatkan delapan warga tewas.

Dalam empat hari demonstrasi, pasukan Iran menewaskan sedikitnya 6 pengunjuk rasa dan melukai 450 lainnya, selain menangkap 500 warga sipil di provinsi Kurdi.

Polisi anti huru hara menembakkan peluru tajam, peluru karet, dan gas air mata kepada para demonstran di Saqez dan Sanandaj, ibu kota provinsi Kurdistan Iran.

Bakar hijab

Pemakaman Mahsa Amini berlangsung di Saqez, kampung halaman wanita Kurdi itu, yang terletak di Kurdistan, Iran bagian barat.

Beberapa perempuan yang berdemonstrasi di tengah upacara pemakaman Amini dilaporkan melepas hijab mereka dan membakarnya sebagai protes atas kewajiban mengenakan hijab di negara itu.

Di wilayah Sari, utara Teheran, kerumunan besar demonstran bersorak ketika para perempuan membakar hijab mereka dalam aksi protes yang menantang.

Di Teheran, video yang diunggah online menunjukkan perempuan melepas hijab mereka dan meneriakkan “matilah diktator” – nyanyian yang sering digunakan untuk merujuk pada Pemimpin Tertinggi, yang ditanggapi polisi dengan menembaki kerumunan.

Dalam satu unggahan di Twitter, menunjukkan nisan Amini beredar di dunia maya. Nisan itu bertuliskan: “Kamu tidak mati. Namamu akan menjadi kode [untuk panggilan berunjuk rasa].”

Kelompok tersebut melaporkan bahwa tiga pengunjuk rasa pria ditembak dan tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan pada hari Senin – satu di Saqez dan dua lainnya di kota Divandarreh dan Dehgolan – ketika kerusuhan meningkat.

Dilaporkan di beberapa daerah, pasukan Iran menembak langsung ke arah para pengunjuk rasa.

“Bersama-sama, kita orang Iran lebih kuat. Dalam protes anti-rezim di Iran, beginilah cara orang Iran bersatu untuk melawan polisi anti huru hara yang brutal dan biadab, polisi anti huru hara terlihat berlarian, “ tulis warga dunia maya (net citizen),  dari kota Rasht.

Gambar gambar yang diambil selama protes hari ini beredar di media sosial yang beredar ke seantero dunia.  “Rakyat Iran bangkit dalam protes bersejarah, dan di mana Anda?” tulis pengunjuk rasa di Twitter. – Dms/bbc

About Admin SEIDE

Seide.id adalah web portal media yang menampilkan karya para jurnalis, kolumnis dan penulis senior. Redaksi Seide.id tunduk pada UU No. 40 / 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Opini yang tersaji di Seide.id merupakan tanggung jawab masing masing penulis.