(31) MENINGGALKAN ISTANA
Mendengar hal itu, Raden Ramayana menjadi lega karena telah mengetahui duduk persoalan yang menjadikan ayahandanya, Prabu Dasarata bersedih hati.
Dengan legawa (rela hati dan lapang dada) Raden Ramayana berinisiatif untuk membatalkan niat ayahandanya, Prabu Dasarata yang hendak menobatkan dirinya menjadi raja Ayodya, sekaligus hendak memenuhi permintaan Dewi Kekayi, meninggalkan istana Ayodya menyamar sebagai seorang kasta sudra masuk Hutan Dandaka sebagai “wong pidak pejarakan” (rakyat jelata yang papa miskin) selama 12 tahun.
Kepergian Raden Ramayana dan Dewi Sinta yang diikuti oleh adiknya, Raden Lesmana Murdaka dan Raden Satrugna, diantar kerabat istana Ayodya sampai di perbatasan hutan dengan tangis yang memilukan.
(32) DASARATA MEMENUHI JANJINYA
Semenjak kepergian Raden Ramayana, Lesmana dan Satrugna yang juga diikuti oleh Dewi Sinta, istri Ramayana dari Ayodya; hati Prabu Dasarata semakin tak menentu.
Ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari tahta kerajaan karena usianya telah uzur.
Ia memilih menjadi seorang brahmana.
“Putraku, Baraya. Engkaulah satu-satunya pewaris tahta Ayodya. Usiaku telah uzur. Aku ingin menjadi seorang brahmana. Mendekatkan diri pada Yang Mahaagung. Oleh sebab itu, engkau harus bersedia menduduki tahta Ayodya”, kata Prabu Dasarata kepada Raden Barata, puteranya.






