Apa yang harus kulakukan ketika terjadi razia E-KTP di sebuah mal yang berada di jejeran hutan beton dengan tingkat menjulang, di sebuah kota megapolitan yang diberi nama Jakarta?
Sungguh, ketika sang algojo yang galak itu membuka dompetku dengan wajah garang, aku gemetar sekaligus ingin buang air kecil.
Kata si pemeriksa bertubuh gempal dan berambut cepak, “Ini pemeriksaan rutin, wajahmu seperti orang Timur Tengah. Jadi kami harus memeriksa Kartu Tanda Pendudukmu!”
Dadaku beregup kencang. Kumaki petugas Kelurahan yang selalu berkata, “Blangko E-KTP belum ada, Mas” itu di dalam hati. Kampret, dasar kutu kupret, sudah setahun lebih aku mondar-mandir di sana, jawaban yang kuperoleh tetap sama. Sial.
Kemudian kelanjutan pemeriksaan itu membuatku benar-benar merasa bagai manusia yang berada di sebuah peradaban aneh, di mana satu sama lainnya saling mengenal tapi juga saling curiga.
Sebuah abad yang manusia- manusianya tidak memiliki identitas sama sekali.
Kukatakan pada si ‘wajah garang’ pemeriksa E-KTP, “Sungguh KTP saya belum jadi, sudah setahun saya mengurusnya!”
“Aaah kamu alasan. Minggu lalu di Taman Mini ada pembuatan E-KTP mengapa kamu tidak datang. Jangan-jangan kamu memang bukan penduduk Indonesia. Kamu sedang menyamar, kamu sesungguhnya mata-mata atau teroris!” cecarnya.
Aku ingin berteriak kencang membuktikan kalau aku benar penduduk Indonesia, tepatnya tinggal di daerah Depok, Jawa Barat.
Ibu dan ayahku asli Nusa Tenggara Timur, wajah Timur Tengahku, konon kudapatkan dari cerita ibuku kalau nenek moyangku campuran Arab, China juga Yunan Utara. Ada juga cerita dari kakekku yang mengatakan bahwa beberapa persen darahku dari keturunan Kaukasia yang bercampur dengan Negroid.
“Ayo, jangan bengong, cepat keluarkan tanda pengenal lainnya!” Perintah ‘si galak’ masih tetap dengan suara garang.
Oh, rasa takutku perlahan-lahan mereda. Ini bagus karena menuntunku kembali pada jalan ke arah ingatan yang mendekati normal, tidak ketakutan seperti orang ‘mendadak demensia’.
Ya aku ingat, aku punya SIM A yang menandakan siapa aku sebenarnya. Tapi…ketika kubuka dompetku, kartu itu lenyap. Dia raib di kala aku sedang susah. Kemana kamu SIM-ku, keluhku mulai panik lagi. Mulai ingin pipis lagi.
“Mana? Gak ada, kan? Kamu memang benar pendatang haram di negeri ini. Sudah, ayo ke Polsek terdekat!”
Lalu aku ditarik dengan kasar. E-KTP yang belum jadi telah memperdaya rasa kemanusiaanku.
Aku benar-benar mirip orang-orang Rohingya, yang berjalan tak tentu arah tanpa identitas, tanpa negara. Maka, ketika aku hendak dinaikkan ke mobil polisi dengan bak terbuka, aku segera ingat!
Handphoneku. Uh! Betapa demensianya aku. Benda itu bisa kujadikan bukti bahwa aku masih penduduk negeri ini, masih penduduk Kota Depok.
“Dengar Pak Polisi, saya bisa menghubungi Mama saya, dia akan meyakinkan Bapak kalau saya puteranya, Mama saya akan menjelaskan kalau saya benar tinggal di Depok.”
Lalu aku memencet nomor Hp mamaku. Suara mamaku yang berintonasi tinggi terdengar dari kejauhan, penyanyi Billy Hollyday yang sedang menyanyikan Gloomy Sunday terdengar dari Hp-nya.
Polisi itu merampas Hp-ku. Sergap sekali tangannya.
“Apaaa? Apa benar yang bernama ini anak Ibu?” Tanya si wajah ‘sangar’ ia mengeraskan suara di Hp-ku.
“Gloomy Sunday…” Lagu itu yang terdengar berulang-ulang.
Sang polisi naik pitam. “Dia bukan Mamamu, dia orang bule. Kamu bohong lagi. Kamu benar-benar teroris! Ayo naik!”
Handphoneku dimasukan ke kantong celananya. Hari itu, seluruh tubuhku terasa kosong. Ya, aku benar-benar terhempas dari raga kemanusiaanku. E-KTP yang seharusnya menjadi andalanku sungguh telah memorakporandakan tubuh dan jiwaku.
Setahun, dua tahun entah sampai berapa tahun lagi blangko itu ada, aku jadi lemas seperti mahluk hidup yang kurang vitamin, duh rasanya aku ingin masuk rumah sakit, lalu diopname sekalian diinfus. Eksistensiku sebagai manusia buyar.
Dua minggu aku disekap di sel pengap hanya karena gara-gara E-KTP. Lalu ketika Mama membebaskanku dari sel itu, ia bertanya, “Siapa dalang di balik semua ini?”
Aku mengedikkan bahu seraya berkata, “Entah, menurut berita di Facebook, mobilnya tabrakan. Moncong mobilnya penyok.”
“Dan orangnya?”
“Demam, sekarang diopname.”
“Ah, kau mengada-ada. Masak iya demam saja diopname.”
“Katanya lagi, gegar otak.”
“Apa? Yang penyok kan moncong mobilnya, kok otaknya yang gegar?”
“Sudah Ma, tak usah dibahas. Pengacaranya memantau.”
“Waduh…” Mamaku menutup mulutnya. Tangannya meremas bakpao yang dibelinya di depan Polsek dengan kuat. Entah maksudnya apa, mungkin dia kesal pada seseorang hingga bakpao itu yang jadi sasaran.
Sekarang tanda pengenal bahwa aku masih dianggap sebagai manusia yang hidup ada di sampingku. Ia seorang perempuan bertubuh gendut dengan rambut keriting yang sedang memegang pergelangan tanganku. Dia mamaku.
Tentang E-KTP, mungkin selembar kertas yang telah kulaminating yang memajang wajahku dengan keterangan nama, umur, pekerjaan akan membuat aku masih berujud sebagai manusia.
Oh ya, di KTP lebar itu tulisan agama masih ada. Itu harus, sebab jika tidak nanti aku dianggap kafir dan tidak bisa surga kan repot, puanasss broh katanyah.…
Sekian
(Fanny Jonathans Poyk)





