Minyak goreng langka. Orang-orang pintar pada berkomentar. Di warung-warung, di jalan-jalan, juga di lingkungan kumuh tempat tinggalnya.
Mereka berkomentar di mana saja. Apalagi di televisi jadulnya. Anak-anak kecil suka menggoda: “Hare geneeeh, masih aja punya tipi berkonde”. Dia menonton orang-orang berkomentar. Dimintai ‘konfirmasi’, kata reporter televisi. ‘Dimintai konfirmasi’, terdengar sangat elit, ‘sekolahan’ dan sangat terpelajar.
Yg dimintai konfirmasi tentang minyak goreng itu sangat beragam. Luar biasa tv itu, pikirnya. Mulai dari anak sekolah, anak-anak muda, orang-orang di jalan, para pekerja, bahkan para pejabat, juga mentri. Dalam hal mentri ini, ada perkataan reporter tv yg lucu, dan kerap didengarnya, tapi dia hanya tertawa dalam hati saja (lihatlah, bahkan tertawa pun dia hanya berani dalam hati). Depertemen apa yg tak ada mentrinya? Jawabnya adalah departemen terkait!
Dia sendiri, hampir tak menggunakan minyak goreng. Makanannya hanya direbus, dikukus atau dibakar. Tapi dia ingin berbuat sesuatu. Dia sudah bertekad bulat. Meski tubuhnya jauh dari bulat. Malahan tubuhnya cenderung kurus, gosong karena sering terjemur matahari. Wajahnya tirus tapi kokoh dan keras.
Teman-teman sering menggoda bahwa dia sebetulnya bisa kaya raya. Caranya? Jual saja minyak dari perasan di wajahmu itu. Dia tak marah mendengar gurauan itu. Dia cuma berkata: “Ini keringat, bukan minyak. Ke-ri-ngat. Aku memang selalu berkeringat. Berkeringat itu sehat. Tak seperti kalian yg selalu di dalam ruang ber-AC. Tahukah kalian, bahwa dingin di kamar atau di ruang kerja kalian itu, berarti semakin panas di bagian lain, di bumi ini?” Teman-temannya hanya tertawa-tawa. Entah mengerti atau tidak, tentang apa yg dikatakannya. Mungkin hanya berbasa-basi saja. Memang belakangan ini, banyak orang tertawa-tawa, tapi tak tahu apa yg mereka tertawakan.
Dia bertanya kepada anak tetangga (ya, kepada anak-anak tetangga, karena ibu dan ayah mereka pergi mengantre). Di mana orang mengantre minyak? Tiba di tempat, antrean sudah puanjaaang sekali. Dia mengantre paling belakang. Jika ada orang yg mengantre di belakangnya, dia persilakan untuk berbaris di depannya. Ada yg menolak, tapi kebanyakan mau sambil mengucapkan terimakasih dengan ekspresi wajah terheran-heran.
Tempat orang mengantre itu adalah bangunan yg terlihat dibuat tak permanen. Nampak seperti bangunan baru yg mudah dipindah-pindahkan. Di bangunan itu, tertera sangat mencolok nama partai. Di sekitarnya ada bendera-bendera partai. Para petugasnya berwajah segar, ramah dan ceria. Juga memakai seragam bertulis nama partai, seolah-olah tak cukup tulisan nama partai mereka di bangunan dan bendera-bendera itu.
Orang yg datang belakangan, dipersilakannya lagi untuk antre di depannya. Kembali ada orang-orang yg menolak. Tapi banyak yg mau, lalu berterimakasi dengan ekspresi wajah terheran-heran.
Setelah 4 jam kurang 20 menit menunggu, akhirnya tiba gilrannya. Wajahnya nampak lelah. Tapi dikuat-kuatkan. Dagunya tetap terangkat. Petugas pun nampak lelah. “Aah, sampai juga orang terakhir. Pas sekali, minyaknya pun tinggal 1 botol”.
Tapi, dia tak membeli. Cuma berkata dengan dagu tetap terangkat: “Tak butuh minyak!”
Petugas terheran-heran. “Hlooo,…sudah hampir 4 jam berdiri, berlelah-lelah mengantre,…tapi tak membeli?”/ “Betul! Aku cuma ingin membuat kalian kecele. Kecele nih yeeeee…!”
Sekian.





