Cerita Teman
Panggilan telepon dari kedua anakku yang kuliah di Amerika Serikat selalu membuatku senang. Demikian juga kemarin. Apalagi suara Dede, panggilan kami untuk si Adik, terdengar begitu riang.
“Mama, ada kabar gembira. Aku diterima kerja!”
“Apa?” Kerja? Ia belum setahun kuliah, dan masih amat muda, baru 18 tahun. “Mama dan Papa kirim kamu jauh-jauh buat sekolah, De, bukan buat kerja. Memangnya kurang uang yang kami kirim buatmu?”
“Cukup, Ma. Tapi kerja itu pengalaman, Ma, dan itu perlu bagi masa depanku.”
“Mama tahu, tapi kerja akan menguras waktumu.”
“Kerja paruh waktu, Ma. Tugasku nantinya…”
Segera kupotong, “Tapi bagaimana kuliahmu?”
“Aku bisa bagi waktu, Ma.”
“Di Jakarta saja kau selalu terburu-buru.”
“Justru ini kesempatanku belajar, Ma.”
“Iya, tapi tidak sekarang. Tidak.”
“Tapi aku ingin sekali, Ma, dan aku sudah bilang iya.”
“Salahmu sendiri cari kerjaan diam-diam, tidak bilang-bilang Mama.”
“Kan Kaka juga kerja, dan Mama izinkan.”
“Baru tahun ketiga kuliah ia bekerja. Dan ia lebih…”
Sebagai si sulung, Kaka lebih dewasa, tenang, lebih well organized dari si bungsu, yang selalu kuanggap anak kecil.
“Mama selalu begitu.”
“De, kamu…”
Bruk, lalu diam. Kelihatannya ia meninggalkan telepon. Aku menunggu sambil mencoba meredakan segala risau di hatiku. Anak itu masih kecil. Ia di negeri asing. Ia dikelilingi orang-orang yang baru dikenalnya. Apakah ia bisa? Bagaimana kalau ia di-bully? Bagaimana kalau kuliahnya kacau?
“Mama.” Kali ini terdengar suara sulungku.
“Ka…”
“Mama bilang apa tadi? Dede sedih, Ma. Tuh ia lari ke kamar, membanting pintu.”
“Tuh kan, adikmu masih kekanakan. Belum waktunya ia bekerja.”
“Menurutku tidak apa-apa ia bekerja, Ma, hanya paruh waktu, di kampus pula. Kerjaan administrasi. Ada timnya dan mereka bisa bergantian bekerja sesuai jam kuliah masing-masing. ”
“Kamu pasti mendorongnya. Makanya ia berani.”
“Dia memberitahu aku, dan kulihat tidak ada salahnya, Ma.”
“Ka, adikmu masih kecil. Mama berani kirim dia ke sana karena ada kamu. Kau sendiri bagaimana sih. Bukan menjaga malah melepas begitu. Kau menyalahgunakan kepercayaan Mama.”
“Tapi Ma…”
“Kau harus bisa bantu Mama mengendalikan dia, Ka. Bukan membiarkan dia bertindak semaunya.”
“Kami sudah diskusikan baik-baik, Ma. Dan dia sudah janji…”
“Terserah, tapi Mama tetap bilang tidak. Belum waktunya.”
“Mama, Dede melamar delapan job, baru yang ini ia diterima.”
“Aku tidak peduli ia melamar seratus job. Ia tidak boleh kerja.”
“Ah, susah deh ngomong sama Mama.”
“Apa kaubilang, Ka? Hei, jangan tutup telepon.”
Aku sedih. Dua anakku menentangku. Padahal, aku kan orang tua mereka? Aku yang menentukan. Bukan mereka.
Aku duduk diam, masih dengan telepon di telinga. Tidak ada suara dari sana. Lalu aku tahu, aku harus diam.
Hening. Dalam hening aku kemudian bertanya, ”Aku harus apa, Tuhan?”
Berkelebat berbagai adegan konflik antara aku dan suamiku, juga antara aku dan kedua anakku, di mana masing-masing hanya berbicara, tidak mendengarkan. Atau mendengar, hanya untuk balas menjawab. Setelah kedua pihak diam, merenung, mengajuk suara hati, kami, setidaknya aku, mulai melihat segalanya dengan persepsi baru. Pihak lain itu belum tentu sepenuhnya salah, dan aku belum tentu seluruhnya benar.
Lalu aku seperti mendapat jawaban: Aku harus mendengarkan. Berusaha melihat dari sudut pandang Dede. Berada di posisinya. Mencoba menjadi dia. Menjelma jadi dia.
Apalagi setelah aku teringat info terakhir yang disampaikan Kaka padaku: Dede sudah melamar delapan kali, dan baru kali ini ia diterima.
Terbayang betapa senangnya dia. Tentu senyumnya lebar sekali. Sekarang ia bisa seperti Kaka. Sekarang ia bisa buktikan, ia bukan anak kecil. Sekarang pintu kesempatan terbuka lebar. Sekarang ia bisa menerima uang hasil jerih payahnya sendiri. Sekarang Mama pasti akan bangga.
Tapi kenyataannya apa? Betapa kecewanya dia. Aku tidak ikut merasakan kebahagiaannya yang luar biasa itu. Ingin tahu saja tidak: proses ia melamar, diwawancarai, lalu diterima bekerja. Aku tidak menanyakan detail pekerjaannya kelak, pagi atau sore, dan bagaimana ia membagi waktu antara bekerja dan kuliah. Aku sibuk mematahkan antusiasmenya dengan kalimat-kalimat bantahan yang meluncur seperti sudah disiapkan.
Aku telah menyakiti hatinya. Padahal dengan pendekatan yang lebih mengasihi, sekalipun berjauhan darinya aku tetap bisa bertindak sebagai ibu yang bijak. Aku bisa melakukan tarik ulur seperti bermain layang-layang, sebagaimana layaknya seorang ortu.
Apakah aku sudah mencederai tali khusus antara aku dan dia? Apakah aku sudah terlambat untuk memperbaiki ketegangan di antara kami?
“Ka,” ucapku di telepon. Terlontar begitu saja.
“Iya, Ma?”
“Panggil Dede. Mama ingin dengar cerita tentang pekerjaannya.”
Sambil menunggu Dede kembali ke telepon, aku diselimuti rasa tenteram. Aku sudah belajar “menjelma”. (Regina, sebagaimana yang diceritakan kepada BG)
“Ia yang mengendalikan orang lain mungkin berkuasa, tapi ia yang menguasai dirinya sendiri lebih hebat lagi.” − Lao Tzu





