Buya Syakur, Sang Pencerah di Abad 21 Telah Pergi

Buya Syakur Telah Pergi

Buya Syakur telah pergi. Dia membawa pembaruan lewat berbagai pernyataan kontroversialnya, berdasarkan kajian kritis, literatur dan respon perkembangan zaman ini. Dia mengajak muslim untuk kerjasama dengan non muslim, mengakhiri sebutan kafir dan menyempurnakan ajaran Islam.

Seide.id – Buya Syakur atau KH Syakur Yasin telah dunia di Cirebon, Jawa Barat, Rabu (17/1/2024). Buya Syakur wafat dalam usia 75 tahun di Cirebon. Buya akan berusia 76 tahun pada 2 Februari 2024 ini.

Prof KH Abdul Syakur Yasin MA nama lengkap Buya Syakur adalah pengasuh Pondok Pesantren Cadangpinggan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Sosok Buya Syakur dikenal sebagai salah satu ulama karismatik. Pengajiannya yang rutin diikuti oleh lintas kalangan, baik secara luring di pesantren asuhannya, maupun secara daring melalui kanal YouTubenya.

Beliau lahir pada tahun 1948 di Desa Tulungagung, Kecamatan Sukagumiwang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Dengan bekal pengetahuan dan pengalamannya dari menimba ilmu di berbagai negara, dia membawa pencerahan baru yang mengejutkan umat Islam Indonesia. Pernyataannya yang kontroversial di antaranya, Islam belum sempurna. Nabi Muhamadiyah menikah dengan wanita Kristen, ajakan berdamai bekerjasama dan belajar dengan umat non muslim dan lain lainnya.

Ceramah ceramah yang diunggah oleh Wamimma TV tak hanya disimak oleh warga sekitar secara langsung melainkan beredar di dunia maya.

Buya Syakur menyatakan tidak elok mengatakan orang non muslim sebagai kafir dan akan masuk neraka. Sebab, orang Islam sendiri pun tidak ada jaminan akan langsung masuk surga. Umat Islam tidak boleh mengklaim surga. Tidak usah ada agama yang mengklaim surga. Ia menegaskan bahwa sudah banyak kerjasama antaragama di dunia. Bahkan Nabi menikah dengan wanita Kristen yang antipoligami.

“Hape bikinannya orang Islam bukan? Yang kita makan sehari-hari. Kita impor beras dari Vietnam Islam bukan? Yang bikin karpet, yang bikin tekstil, yang bikin tiang listrik, semuanya bukan bikinan ummat Islam. Apa ummat islam tidak boleh pakai produk mereka? Jadi selama kebersamaan kita di dunia kita nggak ada beda agama,” ujarnya.

“Kita punya beras, sana punya cabai. Kita tukar-tukaran. Mereka punya senjata, kita punya bawang putih. Pesawat terbang ya silahkan. Semua dijamin keamanannya. Kita nggak usah bertanya. Sekarang kan kerjasama antaragama itu sudah terbukti di dunia,” katanya.

Buya juga menyatakan kita perlu mengkritisi Al Quran sesuai kebutuhan zaman kini. “Kalau itu perbudakan masih boleh? Beli perempuan masih boleh? Jual beli manusia boleh? Di Alquran tidak dilarang, jadi artinya bahwa Islam belum pernah sempurna dan Nabi mengatakan tidak ada pernah sempurna, dan akan dilanjutkan generasi kita setelah itu, siapa yang meneruskan ya al ulama,” kata Buya Maskur.

Penerus KH Ahmad Dahlan

Kisah dakwahnya mengingatkan pada tokoh Sang Pencerah di awal abad 20, yaitu KH Ahmad Dahlan, yang mengubah kiblat ke Barat – yang mengarah ke Afrika, menjadi ke Kabah, dengan rujukan kompas.

Dengan sebuah kompas, penunjuk arah yang masih barang baru pada masa itu, dia menggeser arah kiblat di Masjid Besar Kauman yang selama ini diyakini menghadap ke Ka’bah di Mekah, namun ternyata ke Afrika. Perubahan arah itu mengundang kemarahan para kyai dan musim yang berabad abad meyakini arah kiblat yang benar.

Ahmad Dahlan, anak muda yang lima tahun menimba ilmu di Kota Mekah, dianggap membangkang aturan yang sudah berjalan selama berabad-abad lampau. Ahmad Dahlan dianggap mengajarkan aliran sesat, menghasut dan merusak kewibawaan Keraton dan Masjid Besar.

Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai kyai Kafir karena membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk di kursi seperti sekolah modern Belanda, serta mengajar agama Islam di Kweekschool atau sekolah para bangsawan di Jetis, Yogyakarta. Dia juga dituduh sebagai kyai Kejawen karena dekat dengan lingkungan cendekiawan Jawa di Budi Utomo.

Namun Ahmad Dahlan tak bergeming. Bersama isteri dan lima murid setianya, Sang Pencerah membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman seperti yang kita saksikan sekarang.

Buya Syakur menempuh pendidikan belasan tahun di Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat. Setelah itu, belajar di sejumlah negara di Timur Tengah, mulai dari Irak, Suriah, Libya, Tunisia, hingga Mesir. Bahkan, sebelum kembali ke Tanah Air, Buya Syakur juga sempat menempuh pendidikan di Oxford, Inggris.

Buya Syakur telah pergi. Tapi sinar yang dinyalakannya tak akan pudar. Insya Allah. ***

SEIDE

About Admin SEIDE

Seide.id adalah web portal media yang menampilkan karya para jurnalis, kolumnis dan penulis senior. Redaksi Seide.id tunduk pada UU No. 40 / 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Opini yang tersaji di Seide.id merupakan tanggung jawab masing masing penulis.