Seide.id – 12 Desember 2022
Saat sedang menulis memoar 30 tahun Tsunami Flores, saya membaca postingan di grup WA, bahwa Bang Remy Sylado meninggal dunia. “Selamat jalan Bang”. Hanya beberapa perjumpaan kecil dengan beliau, ketika ada kegiatan kesenian di Taman Ismail Marzuki, diskusi budaya dan seni di kampus, lalu ngopi bareng sekali. Selebihnya, berjumpa dengan karyanya, testimoni orang lain dan publikasi tentang karya seninya di media.
Ada rasa haru atas perjuangannya di akhir usia, antara mau sembuh dari sakit dan sejumlah proses karya seni yang belum rampung. Antara lain, Novel yang sudah selesai dipikiran, tapi belum sempat selesai dituangkan ke media tulis. Pasti masih banyak ide karya seni dalam pikiran, yang mengalir dari mata air rasa dan hati sanubari. Maklum, beliau Sang seniman multi talenta. Saya memberi apresiasi, hormat dan kekaguman dalam ungkapan ini. Bang Remy Sylado adalah Sang Seniman Pelangi Kemanusiaan
Gema lantunan suaramu
diabadikan suara angin semesta
dalam lagu rindu damba
lestari laksana gelombang samudera
menghempas seperti ombak
pada pantai kerinduan insani
Kata dan bait sajakmu
tertulis dalam ingatan pemirsa
terpatri pada jejak zaman
Lukisan sanubari jiwamu
Mewarnai nafas makna generasi
Memotret wajah suka duka
menoreh kanvas ziarah cinta
Harmoni ide pikiranmu
memeluk keresahan zaman
mengobati kegalauan insan
Membuka mata batin
untuk melihat indahnya pelangi
Keanekaragaman itu berkat
Kebhinekaan itu rahmat
perbedaan itu kekuatan
untuk lahirkan kebahagiaan sejati
“Kita sesama saudara”
Kembalilah ke Matahari
Tulislah Novel Hakikat Sejati
kirimlah jadi cahaya bumi
agar dibaca anak generasi
Teruslah bernyanyilah di angkasa
Gemakan lagu damba manusia
Jadi senandung simphoni insani
bersama purnama dan bintang
Warnai ruang semesta
dengan pelangi ide kata
ubahlah jadi sabda alam
Patrikan jadi lukisan jiwa
Bersemi damai bagi manusia
yang masih terus berkelana
Simply da Flores
Harmony Institute






